Senin, 14 Oktober 2019

Ratumas Sina, Srikandi Jambi yang Terlupakan


Minggu, 29 Juli 2018 | 10:31:57 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Penulis : M. Ali Surakhman

RATUMAS Sina lahir di Kampung Pudak, Kumpeh pada tahun 1887. Dia adalah putri tunggal zuriat pernikahan Datuk Raden Nonot (nama sebenarnya belum ditemukan) dari Suku Kraton dengan Ratumas Milis binti Pangeran Mat Jasir.

Ratumas Sina adalah saudara sepupu Ratumas Zainab. Sejak bayi sehingga masa kanak-kanak dibesarkan dalam kawasan perkebunan di Paal 8 belakang kampung Pudak. Pada awal tahun 1900, memasuki usia 13 tahun, Ratumas Sina dinikahkan dengan salah seorang cucu dari Pangeran Poespo dari kerabat ibunya Permas Kadipan yang beraja di Merangin.

Suaminya (belum diketahui namanya) adalah salah seorang anggota pasukan berani mati di bawah komando Wakil Panglima Perang wilayah Merangin (Pangeran Haji Umar) yang juga adalah paman dari Ratumas Sina.

Setelah pernikahan tersebut, dimulailah babak baru kehidupan Ratumas Sina mengikuti suaminya berjuang bersama Pangeran Haji Umar sebagai pasukan komando. Pasukan Pangeran Haji Umar sangat disegani dan ditakuti oleh pasukan Belanda karena kemampuan perang gerilya yang taktis dan mematikan dengan salah satu ciri khas senantiasa melakukan penyerangan pada malam hari.

Kelompok pasukan ini bergerak dinamis dalam hutan belantara yang lebat antara Merangin sampai ke daerah ulu Muaro Tebo. Belum genap satu tahun pernikahannya 1902, suami Ratumas Sina gugur dalam sebuah serangan terhadap markas pasukan Belanda di Sungai Alai oleh pasukan Pangeran Haji Umar.

Dalam serangan pasukan Pangeran Haji Umar tersebut banyak serdadu Belanda berhasil dibunuh, ratusan senjata serta amunisi (misiu) berhasil dirampas untuk digunakan menyerang serdadu Belanda dikesempatan penyerangan berikutnya.

Pimpinan pasukan Belanda di Sungai Alai marah besar terhadap Pangeran Haji Umar dan pasukannya memperlakukan mayat suami Ratumas Sina dengan biadap dengan kekejaman yang luar biasa. Kedua tangan mayat dibentangkan pada sebatang kayu serta dipaku serta kulit kepalanya dikocek diletakkan di haluan sebuah kapal, dipamerkan kepada khalayak ramai.

Tindakan biadap tersebut dilakukan serdadu Belanda untuk memukul mental rakyat yang membantu perjuangan serta untuk memancing emosi Pangeran Haji Umar dan pasukan agar keluar dan melakukan untuk perlawanan terbuka.


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments