Senin, 23 November 2020

Ratumas Sina, Srikandi Jambi yang Terlupakan


Minggu, 29 Juli 2018 | 10:31:57 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Atas pertimbangan untuk perjuangan yang lebih besar Pangeran Haji Umar dan pasukan tidak terpancing dan meneruskan perjalanan menerobos belantara hutan. Sampai saat ini tidak seorang pun yang mengetahui akhir dari nasib yang dialamai mayat suami Ratumas Sina.

Tak seorangpun yang tahu berapa lama mayatnya disiksa serta tak juga diketahui dimana pusara atau kuburnya.

Dengan penangkapan dan penyiksaan mayat suami Ratumas Sina tersebut, justru semakin membakar semangatnya untuk terus berjuang mengusir penjajah Belanda. Bersama pamannya Pangeran Haji Umar Puspowijoyo, Pangeran Seman Jayanegara, Pangeran Diponegoro (Raden Hamzah) dan pasukan, Ratumas Sina keluar masuk hutan belantara.

Setelah penyerangan di Sungai Alai pasukan ini secara berkala terus melakukan serangan mendadak terhadap kedudukan-kedudukan penting serdadu Belanda, antara Ulu Tebo, Muaro Bungo sampai ke Merangin.

Dalam setiap serangan gerilya yang dilakukan berakhir dengan terbunuhnya beberapa serdadu Belanda. Selama mengikuti pergerakan pasukan gerilya tersebut, Ratumas Sina berkesempatan mempelajari ilmu seni bela diri dan ilmu-ilmu kesaktian kanuragan dari pamannya; Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman dan Pangeran Diponegoro serta hulubalang-hulubalang tangguh lainnya.

Di penghujung 1904, ketika Pangeran Haji Umar dan pasukan berada di sekitar pedalaman batas Muaro Bungo dan Merangin, datang beberapa orang hulubalang utusan dari alam Kerinci yang menyampaikan berita tentang kelicikan Belanda sehingga wakil Panglima Perang daerah Alam Kerinci (Depati Parbo) tertangkap dalam sebuah jebakan yang dirancang Belanda dan anteknya tuan Regent.

Mendengar kabar tersebut Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman (Pangeran Mudo) dan Pangeran Diponegoro serta hulubalang dan pasukannya bersama beberapa hulubalang dari Alam Kerinci menyusun rencana penyerangan terhadap kedudukan serdadu Belanda dan tuan Regent di alam Kerinci.

Dalam perundingan tersebut disepakati Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman dan hulubalang asal Alam Kerinci serta sebagian sisa pasukan akan bergerak naik ke Alam Kerinci, sementara Pangeran Diponegoro, Ratumas Sina dan sisa pasukan mundur ke pedalaman kearah yang disepakati menjauh dari daerah-daerah yang telah dikuasai serdadu Belanda.


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments