Rabu, 15 Agustus 2018

Sang Dwi Warna


Selasa, 07 Agustus 2018 | 10:27:15 WIB


Mochammad Farisi
Mochammad Farisi / istimewa

TENTUNYA kita masih ingat di jaman awal kemerdekaan Indonesia, aksi heroik arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945 memanjat gedung Hotel Yamato Surabaya dan merobek Bendera Belanda Merah Putih Biru menjadi Bendera Indonesia Merah Putih.

Kisah haru juga barusaja kita alami dimana pelari Muhammad Zohri berhasil mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali emas Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia, namun bendera merah putih sebagai simbol negara terlambat diberikan dan menjadi viral.

Insiden mengenai bendera juga terjadi pada saat Sea games 2017 di Malaysia Bendera Indonesia dipasang terbalik di buku panduan Sea Games sehingga menuai banyak protes karena melukai perasaan rakyat Indonesia. Bendara secara harfiah memang hanya sebuah kain yang dikibarkan, namun lebih dari itu bendera merupakan simbol, identitas dan kedaulatan Negara yang menjadi kebanggaan masyarakat bangsa-bangsa di dunia.

Jelang peringatan HUT kemerdekaan RI ke-73 saya dan rekan Purna Pakibraka Indonesia (PPI) Provinsi Jambi mendapatkan kepercayaan dan amanah dari Gubernur Jambi untuk melatih dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Jambi 2018, yang akan bertugas mengibarkan Sang Dwi Warna Merah Putih dalam Upacara Kenegaraan Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di lapangan kantor Gubernur Jambi. Tentunya amanah ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus tugas besar yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bukan upacara biasa, ini merupakan upacara yang sangat sakral, karena ribuan nyawa dan darah tumpah mengiringi proses perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. untuk bisa memahami tugas Paskibraka yang sakral, saya ingin bercerita sedikit bagaimana waktu itu Sang Saka Merah Putih harus dijaga dengan nyawa demi tetap menunjukkan kedaulatan Indonesia.

Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) lahir bersamaan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dikumandangkan di Jalan Pegangsaaan Timur No. 56, Jakarta, pada Jumat 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi. Tepat setelah pernyataan kemerdekaan dibacakan, bendera kebangsaaan merah putih dikibarkan oleh dua orang muda mudi yang dipimpin oleh Latief Hendradiningrat. Bendera yang dijahit oleh tangan Fatmawati Soekarno inilah yang disebut dengan Bendara Pusaka.

Setelah merdeka, perang belum berhenti, 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer ke-dua, pada saat itu Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung Belanda, Presiden Soekarno memanggil ajudan beliau yaitu Mayor Laut Husein Mutahar yang ditugaskan untuk menyelamatkan Bendera Pusaka. Penyelematan ini merupakan bagian dari sejarah demi berkibarnya Sang Merah Putih di bumi pertiwi Indonesia, dalam usaha penyelamatan itu Husein Mutahar pun terpaksa harus merobek/memisahkan bagian merah dan putihnya demi menghindari penyitaan dari pihak Belanda.

Diiringin bom yang berjatuhan dan bunyi rentetat sejata Belanda yang merangsek masuk Kota, berikut petikan percakapan Presiden Soekarno dengan Husein Mutahar “apa yang terjadi terhadap diriku aku sendiri tidak tahu”. “Dengan ini, aku memberikan tugas kepadamu pribadi, untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu, ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Disatu waktu, jika tuhan mengijinkan engkau mengembalikan kepadaku sendiri dan tidak kepada siapapun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andai engkau gugur dalam menyelamatkan bendera pusaka ini, percayakan tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkan ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya”. (Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat)

Singkat cerita, Husen Mutahar berhasil menyelesaikan misi penyelamatan dan menyerahkan kembali Bendera Pusaka melalui Soedjono sebagai perantara ke Presiden Soekarno yang sedang di tahan di Muntok, Bangka.  Begitu dalam arti Bendera Merah Putih bagi bangsa ini, sehingga nyawapun harus dikorbankan untuk menjaganya.

Tahun 1967 Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soekarno untuk menangani lagi masalah pengibaran Bendera Pusaka, sejak itu dikembangkan formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yaitu; kelompok 17 (pengiring), kelompok 8 (inti) dan kelompok 45 (pengawal), yang anggotanya pemuda/I utusan dari provisi di Indonesia, formasi tersebut merupakan simbol peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945). Tahun 1968 adalah terakhir Bendera Pusaka dikibarkan karena kondisinya sudah tua dan takut robek bila dikibarkan, untuk itu pemerintah membuat duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan diserahkan ke seluruh gubernur dan juga dibagikan ke Dearah tingkat II di Indonesia.

Paskibraka merupakan putra putri terbaik bangsa, kader pemimpin bangsa yang direkrut dan diseleksi secara bertahap dan berjenjang melalui mekanisme pendidikan dan pelatihan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan serta penguatan aspek mental dan fisik agar memiliki kemampuan prima. Proses seleksi yang dilaksanakan secara objektif dan transparan yang didasarkan pada integritas, kualitas, kapasitas dan kapabilitas personel calon anggota Paskibraka sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan tugas sebagai pengibar Bendera Pusaka di tingkat kabupaten/kota , provinsi dan nasional.

Di era milenial, model pendidikan dan pelatihan Paskibraka sengaja disiapkan untuk menjadi solusi atas berbagai permasalahan dan tantangan pemuda seperti; penyalahgunaan narkotika, intoleransi, maraknya berita berita hoax, seks bebas dan degradasi moral keagamaan. Diklat Paskibraka diarahkan membentuk pemuda/i menjadi “pandu” yang siap membela negara, bangsa dan tumpah darahnya dengan berperilaku disiplin, tekun belajar, berbudi luhur dan memiliki rasa kebersamaan/kekeluargaan yang tinggi dan bertanggung jawab. Penggemblengan Paskibraka sebagai kawah candradimuka terdiri dari dua model yaitu; pendidikan Pancasila, kerukunan umat beragama,  kepemimpinan, etika dan gotong royong serta pelatihan ketrampilan baris berbaris, manuver barisan, teknik mengibarkan dan menurunkan bendera, keserasian serta kekompakan.

Paskibraka diibaratkan sekumpulan bibit yang berkualitas, bibit yang akan disebar dan ditanam di tempat lain. Bibit ini akan tumbuh berkembang memberikan pengaruh positif dan bermanfaat bagi semua orang. Bibit Paskibraka juga akan menghasilkan buah yang mempengaruhi pola pikir pemuda/i di sekelilingnya untuk terhindar dari pengaruh pergaulan buruk seperti narkotika, seks bebas, penyebaran berita hoax dan intoleransi. Paskibraka akan menjadi motor pengerak bagi pemuda/I menjadi lebih agamis, disiplin, beretika dan menjaga toleransi dari keanekaragaman budaya, agama serta adat istiadat yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Akhirnya saya mendoakan semoga adik-adik Paskibraka Tahun 2018 diseluruh Indoensia sukses dalam menjalankan tugas pengibaran dan penurunan Duplikat Bendera Pusaka Sang Merah Putih di upacara yang sangat sakral Memperingati Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.  

Salam Paskibraka Jaya!
----------------------
*Sekretaris PPI & Pelatih Paskibraka Prov. Jambi 2018,
Purna Paskibraka Jawa Timur 2001


Penulis: Mochammad Farisi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments