Minggu, 26 Mei 2019

Koto Majidin Titik Api Perang Gerilya Kerinci 1949


Sabtu, 11 Agustus 2018 | 19:46:46 WIB


/ Istimewa

Oleh: M. Ali Surakhman

LETNAN Muradi benar-benar adalah seorang patriot dan prajurit pejuang pemberani. Dia mempunyai perhitungan yang matang dalam setiap langkah perencanaan strategi untuk melanjutkan perjuangan gerilya.

Sampai tanggal 27 April 1949, Letnan Muradi belum meninggalkan Sungai Penuh, tapi masih mengamati gerak-gerik Belanda yang ada di dalam kota. Tegasnya tindakan yang dilakukan oleh Letnan Muradi itu dijalankannya tanpa ada perintah dari komandan Resimen II/IX Banteng.

Setelah pertahanan TNI di Barung Talang tembus, tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten Schootman dengan berkekuatan 3 kompi pasukan Belanda dan persenjataan lengkap melancarkan serangan ke Kota Sungai Penuh tanggal 24 April 1949. Tepatnya hari minggu jam 17.00 WSU sore.

Saat pasukan Belanda memasuki kota mereka mendapat pelawanan dari TNI/GATI, sebelum pasukan Resimen II dan staf menyingkir ke Selatan menuju Lempur (daerah aman). Situasi tersebut terpaksa dilakukan dikarenakan pasukan Belanda melakukan serangan kilat. Dan tanggal 26 April 1949, satu kompi tentara Belanda memasuki Sungai Penuh dari arah Muara Labuh melalui Kayu Aro.

Lantaran sulitnya berhubungan dengan pasukan lainnya yang sedang terpencar-pencar, Letnan Muradi berangkat menuju ke sungai Tutung (5 km sebelah Timur Laut Sungai Penuh). Di sana Letnan Muradi bertemu dengan Peltu Bakhtiar (Komandan CPM Detasemen I/II). Bersama dengan Peltu CPM Bakhtiar, Letnan Muradi membawa 15 orang pasukan GATI yang bersenjata lengkap menuju Sungai Penuh, kemudian kembali ke Koto Lanang.

Tanggal 28 April 1949, Belanda mulai mengadakan patroli ke luar Kota Sungai Penuh yaitu ke arah Utara dan Selatan, setelah tentaranya mendapat bantuan drooping senjata dan perlengkapan lainnya melalui udara dengan perasut. Tanggal 29 April 1949, Letnan Muradi dengan Peltu CPM Bakhtiar, menyusup ke kota khusus mencari informasi tentang musuh dan menunjuk badan siasat untuk tetap berada di dalam kota. Tepat pada jam 4.00 pagi baru mereka meninggalkan Sungai Penuh kembali ke pangkalan (Catatan Harian Letnan Muradi).

Pada saat serbuan pasukan Belanda ke ibukota Sungai Penuh, Letnan Hasyimi, H. Ridwan, Bakhtarudin, Marah Keramah,  Baharuddin, Muradi, Serma CPM St. Arifin dan anggota TNI lainnya mencoba bertahan di sekitar Kota Sungai Penuh dari tanggal 24 sampai dengan tanggal 26 April 1949 untuk mengatur strategi pertahanan.

Tanggal 26 April 1949 Letnan I Hasyimi, Letnan II Muradi dan lain-lain menyingkirkan ke Sungai Tutung. Malam tanggal 27 April 1949 Letnan I Hasyimi dan Letnan II  Muradi bersama 15 orang anggota pasukan GATI melakukan penyerbuan ke Kota Sungai Penuh, pertempuran terjadi selama 3 jam.

Karena kekuatan persenjataan yang tidak seimbang pasukan kita terpaksa mundur ke daerah kantong. Pada tanggal 28 April 1949 Letnan II Muradi dan Letnan II Bakhtaruddin berangkat ke Koto Majidin. Tanggal 29 April 1949 Letnan II Muradi dan Letnan II Bakhtaruddin kembali ke Sungai Penuh. Karena situasi tidak memungkinkan lagi, pagi-pagi jam 3.30 WSU Letnan II Muradi berangkat ke Belui dan malamnya berangkat ke Koto Majidin.

Di Koto Majidin Letnan II Muradi menginap di rumah Usman Ibrahim anggota BPNK di Sungai Air Terung. Setelah Usman Ibrahim dapat informasi bahwa Letnan II Muradi berada di Koto Majidin jam 17.00 WSU Usman Ibrahim ditemani oleh Muhammad Nursi berangkat menemui Letnan Muradi di Sungai Air Terung Koto Majidin.

Sesampai disana terjadi percakapan atau dialog antara Usman Ibrahim dengan Letnan II Muradi, sebagai berikut :

Usman Ibrahim : Bila Pak Muradi sampai disini

Muradi : Pagi-pagi kira-kira jam 3.30 dengan seorang diri.

Usman Ibrahim : Apa kabar?

Muradi : Ah ! Yo... Tidak ada yang mau melawan, sudah lari semua dari kota. TNI dan pejabat pemerintah sudah menyingkir semua dari kota Sungai Penuh.

Usman Ibrahim : Jadi bagaimana pendapat Pak Muradi sekarang?

Muradi : Kalau saya punya pasukan, saya wajib dan bertanggung jawab untuk melakukan perlawanan dan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang sudah menduduki kota Sungai Penuh. Tapi sekarang apa yang harus saya lakukan.

Usman Ibrahim : Kalau Pak Muradi bersedia memimpin pemuda dan rakyat dusun Belui, untuk mengadakan perlawanan dan penyerangan terhadap pasukan Belanda, banyak yang mau melawan pasukan Belanda.

Muradi : Apa benar keterangan Pak Usman tersebut.

Usman Ibrahim : Benar, yakinlah Pak Muradi dengan saya. Di Belui sekarang ada pasukan TNI yang baru pulang dari front, antara lain: Sersan Angkatan Laut Usuluddin, Kopral TNI Abdul Latif, Kopral TNI Yusuf Ibrahim, Sersan TNI Abu Samah, Sersan CPM Kamaruddin, Kopral Polri Abdul Muis, Mantan Gyugun Hakim Mendapo, Mantan Gyugun M. Ketip, Mantan Seinandan Andul Pirak, Mantan Heiho Bungka, Mantan Heiho Wahab, Mantan Gyugun Mohd. Syafei, Wali Perang Azhari, Mantan Gyugun Rio Sidina Ali, Mantan Heiho A. Dismira. Dari anggota BPNK yaitu Syamsuddin, Nur Yakin, M. Terimo, Akin Seman, M. Thaher, M. Ribut, Usman Gading, M. Jabar, Ali Gayu, M. Simpang, Saidina Amin, Rais Mangku, Bungka Kitab, Saidina Ali, Badu Muti, Ibrahim, M. Ina Rasyid, Abd. Kadir, Jamaludin I, Abd. Rahman, Husin, Musra, Katib Kari, Idris Kadir, Buyung Syafei.

Muradi : Kalau benar coba nanti malam kumpulkan orang-orang tersebut. Saya mau ketemu dengan mereka.

Usman Ibrahim : Bisa…! Nanti malam jam 22.00 WSU kami tunggu Pak Muradi di rumah Gedang Belui.

Mengenai Muradi, ia dilahirkan di Koto Tuo (Kemendapoan Depati VII), Kabupaten Kerinci pada tanggal 27 Januari 1927, putra dari pasangan H. Manan dan Seneng Iman. Sewaktu Jepang masuk ia berkerja sebagai guru pada Sekolah Guru Pertanian Kepahyang di Curup, Bengkulu, dan juga menjadi Pegawai Muda di Inspeksi Pertanian Kerinci Indrapura.

Tahun 1943 ia masuk Gyu Gun dengan pangkat Sersan Mayor, Setelah Jepang menyerah, ia menggabungkan diri dengan pemuda-pemuda Kerinci lainnya dan bertempur melawan Jepang bersama Mayor A. Thalib sekaligus menjadi tangannya.

Dalam pembentukan BKR/TKR (cikal bakal TNI) di daerah Kerinci, ia sebagai salah seorang perwira yang ikut andil bersama Mayor A. Thalib dalam pembentukan Batalyon Resimen II Divisi IX Banteng. (***)

Sumber :

- Perjuangan Rakyat Kerinci, Alimin Dpt

- Arsip Nasional Korp Veteran RI


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi / Ikbal Ferdiyal



comments