Sabtu, 20 Juli 2019

Pertempuran di Sungai Penuh dan Gerakan Pasukan Belanda ke Luar Kota


Minggu, 12 Agustus 2018 | 07:47:23 WIB


/ Istimewa

Oleh: M. Ali Surakhman

DENGAN tembusnya pertahanan Barung Talang, maka kompi tentara GATI, di bawah pimpinan Mayor Alwi St. Marajo dan Lettu Rustam serta 2 kompi laskar rakyat pindah ke luar kota. Pasukan GATI menuju Talang Kemuning Kerinci Hilir dan laskar rakyat bergabung ke desa-desa untuk membantu perjuangan gerilya.

Tentara kita terpencar-pencar kehilangan komando akibat tembusnya pertahanan Barung Talang. Tentara yang terpencar-pencar itu disusun kembali oleh Muradi dan Alamsyah menjadi satu barisan gerilya Kerinci. Taktik frontal secara otomatis diubah dengan taktik perang gerilya. Dalam buku Gerilya Politik dan Ekonomi menjelaskan :

“Taktik-taktik gerilya yang harus dilaksanakan itu, ialah menghantam musuh di waktu musuh lemah dan mengundurkan diri di waktu musuh kuat, mencegat di waktu saat yang diperlukan serta di kala keadaan mengesankan, memutuskan hubungan kawat, telepon yang dipergunakan musuh untuk hubungan mereka. Jika musuh mempunyai alat-alat yang lebih modern seperti kapal terbang, maka sudah pasti satu waktu ia akan mengisi minyak/bahan bakar ke bumi, waktu itu ia kita serang. Jika musuh memiliki tank-tank yang kuat, sudah pasti satu waktu supirnya akan keluar karena haus atau lapar, pada waktu itu kita tembak".

Dengan gerilya sulit bagi Belanda untuk mengadakan penghancuran secara total. Kesimpulan bahwa buku Gerilya Politik dan Ekonomi (Gerpolek) memberikan inspirasi kepada pejuang untuk meneruskan perjuangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 di Kerinci. Perjuangan gerilya Kerinci dilakukan bahu-membahu dengan rakyat, karena rakyat merupakan power utama yang paling penting dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada tanggal 25 April 1949 malam harinya mulai dilakukan gempuran terhadap Belanda ke dalam Kota Sungai Penuh dari dua jurusan, yaitu:

1. Satu jurusan Selatan dari arah Pulau Tengah, Kumun, Kampung Lereng, masuk pasukan GATI pimpinan Letnan Rustam, Sersan Mayor Lelo termasuk H. Madin yang dibantu oleh pasukan dari Pulau Tengah, bersama pejuang rakyat lainnya. Pasukan dari jurusan ini dilengkapi dengan satu buah senjata berat yaitu tomong dan beberapa buah senapan.

2. Dari jurusan Utara Koto Lolo, Koto Renah bergerak sebanyak 23 orang pasukan dipimpin oleh Letnan Alamsyah, Sersan Mayor Theo Lawalata, Sersan CPM Julinar, Sersan Abu Yusuf dan lain-lain.

3. Dari jurusan Timur melalui Sumur Anyir masuk pasukan gerilya di bawah komando Letnan Muradi sebanyak 30 orang anggota yang bergabung dengan pasukan GATI dari arah Selatan.

Tembakan 2 (dua) buah mortir atau tomong dari arah Selatan oleh pasukan GATI, tidak ada balasan dari pihak Belanda. Karena itu semuanya dengan hati-hati dan penuh semangat gerilyawan langsung masuk ke Kota Sungai Penuh dari 3 jurusan. Sesampainya pasukan pejuang ke dalam kota, satupun tidak ada ditemui tentara Belanda, mungkin Belanda meninggalkan kota, mundur ke kaki bukit Koto Pandan sebelah Barat kota Sungai Penuh di bawah kaki bukit Sentiong (Koto Tinggi).

Karena mendengar dentuman tomong dari arah Selatan, pasukan gerilya dari Timur dan Utara mengundurkan diri ke pangkalannya di Koto Lanang, mereka mengira tembakan tomong tadi berasal dari pasukan Belanda (karena kurang komunikasi antara pimpinan gerilya).

Sambil mengundurkan diri pasukan gerilya meruntuhkan jembatan di dusun-dusun untuk menyulitkan gerak maju patroli Belanda memasuki wilayah gerilya. Menurut informasi pagi harinya, ternyata pasukan Belanda bersembunyi dalam Toko Guancun (orang Cina), karena mereka sudah kehabisan peluru.

Sampai tanggal 26 April 1949, Belanda belum melakukan gerakan atau serangan-serangan. Mereka sibuk di dalam kota mengemasi alat-alat perang yang diturunkan dari pesawat udara dengan perasut di tanah lapang Sungai Penuh. Sementara itu satu kompi tentara Belanda yang masuk dari Muara Labuh, Kayu Aro sampai di Sungai Penuh sebagai tambahan dari 2 kompi pasukan yang masuk dari arah Tapan.

Malamnya tanggal 26 April dilakukan lagi serangan ke dalam Kota Sungai Penuh, juga dari tiga jurusan. Pasukan dari Pulau Tengah yang membawa meriam tomong langsung menembak ke dalam kota, dan ternyata tembakan mendapat balasan dari pasukan Belanda. Pasukan kita dari jurusan Rawang sudah masuk pula ke dalam kota (sepertiga dari bagian kota sebelah Timur), tetapi juga tidak menemui tentara Belanda.

Kemudian terdengar balasan tembakan Belanda dari arah Barat, Utara dan Selatan kota, maka kita memperkirakan bahwa Belanda memakai sistim bertahan Tapak Kuda. Oleh karena khawatir disergap Belanda maka pasukan meninggalkan kota Sungai Penuh pada jam 2.00 pagi. Besoknya setelah diadakan penelitian ke arah Bukit Terbakar di atas Desa Pondok Tinggi, barulah diketahui bahwa Belanda pada malam kedua itu sudah memindahkan tempat persembunyiannya ke kaki bukit terbakar atau di asrama polisi.

Di sana tampak sekali kelemahan siasat kita dalam memperoleh atau menyerap informasi tentang pihak lawan, sehingga sia-sia kalau tidak mau dikatakan telah melakukan serangan bunuh diri.

Pada tanggal 26 April 1949, datang bantuan senjata Belanda dan makanan melalui pesawat udara yang dijatuhkan di lapangan (lapangan merdeka) Sungai Penuh. Dengan adanya drooping senjata dan perlengkapan lainnya, maka pasukan Belanda merasa dirinya kuat untuk mengadakan penyerangan ke dusun-dusun yang masih diduduki tentara kita.

Tanggal 27 April 1949 dengan persenjataan lengkap pasukan Belanda mulai mengadakan patroli atau penyerangan ke dusun-dusun, di bawah pimpinan Kapten Schootman. Pada waktu yang sama, pasukan kita yang berada di Kerinci Hilir berkumpul di Kumun untuk melakukan gerilya di malam hari ke Sungai Penuh.

Hal itu diketahui oleh Belanda dan pada hari itu juga Belanda mengadakan penyerangan ke Kumun. Patroli Belanda ini diketahui oleh pasukan kita, dengan taktik gerilya pasukan kita mengadakan pengunduran diri ke Pulau Tengah. Pasukan Belanda merasa aman karena tidak adanya perlawanan di Kumun, lalu mereka terus ke Debai.

Perlawanan Rakyat Pondok Tinggi yang Batal

Pada tanggal 25 April 1949 sebagian besar rakyat Pondok Tinggi sudah melakukan evakuasi (mengungsi) ke Sungai Jeruang.  Depati Gusli Kepala Dusun Pondok Tinggi bersama-sama anggota TNI asal Pondok Tinggi, orang adat, pemuda dan lain-lain, masih tinggal di dusun Pondok Tinggi. Mereka antara lain, yaitu Abdullah Fatihah (Sersan TNI), Dpt. Abdul Djanan (BPNK), Dpt. M. Tharis (BPNK), Yakub Usman (TP), Ridwan Ch. (TP), Abu Rahman (BPNK), Baharuddin RP (BPNK), Adnan Thaib (BPNK), Syamsu Anwar (BPNK), Bagindo Ali (BPNK), Darwis Dani (BPNK), Usman Karim (TP), Agusri Karim (TP), Thawalib (BPNK).

Mereka sefakat untuk melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda. Sebagai pimpinan adalah Dpt. Gusli Kepala Dusun Pondok Tinggi. Jam 21.00 WSU, diputuskan untuk memulai penyerangan tersebut melalui kaki Gunung Gerangsang, Bukit Terbakar dan  Asrama Polri, akan melakukan serangan terhadap pasukan Belanda di Kantor Komite Nasional.

Di dekat tangsi Militer Belanda (bekas Asrama TNI) rombongan Dpt. Gusli bertemu dengan Letnan II Muradi dan anggota pasukannya. Waktu itu ia hanya menanyakan kepada rombongan Dpt. Gusli, berapa banyak tentera Belanda yang masuk ke Kota Sungai Penuh. Tetapi Dpt. Gusli tidak dapat menjawabnya berapa jumlah pasukan Belanda, mereka hanya dapat menunjukkan tempat tinggal pasukan Belanda di Kantor Komite Nasional Indonesia.

Letnan II Muradi menyatakan bahwa ia akan mencari teman untuk melancarkan serangan terhadap Belanda dari arah Utara (Koto Lolo). Rombongan Dpt. Rusli menyatakan mereka juga akan melakukan serangan pada malam tersebut.

Letnan II Muradi menganjurkan kepada rombongan Depati Gusli supaya jangan mengadakan serangan, karena ia masih mengadakan kontak dengan rombongan Letnan I TNI Hasyimi dan pasukan GATI. Atas saran itu Depati Gusli tidak jadi meneruskan rencana penyerangannya pada malam tanggal 25 April 1949 itu.

Depati Gusli atas nama rakyat Pondok Tinggi siap memberikan bantuan tenaga, material dan moril kapan saja Letnan II Muradi membutuhkan.

Rombongan Depati Gusli meneruskan perjalanan menuju bukit Gerongsang yang diperkirakan rombongan opsir (perwira) TNI berasal dari Pondok Tinggi, Sungai Penuh dan lain-lain sedang berada disana. Untuk bergabung dengan mereka dengan harapan kiranya perwira tersebut bersedia memimpin rombongan Depati Gusli mengadakan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang sudah menduduki Kota Sungai Penuh.

Depati Gusli dan rombongannya membatalkan niatnya untuk bergabung dengan perwira tersebut, karena perwira yang diperkirakan siap memimpin mereka sudah bersiap-siap menyerah (melapor) kepada pasukan Belanda.

Pasukan Belanda Mendirikan Pos-pos Pengawalan

Setelah pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Schootman merasa kedudukannya sudah stabil dan aman di Sungai Penuh. Seterusnya mereka membangun pos-pos pengawalan di Semurup, Pulau Tengah, Sanggaran Agung, Sungai Tutung, dan Siulak Deras.

Tujuan pasukan Belanda membangun pos-pos pengawalan (markas) di luar Kota Sungai Penuh tersebut, guna untuk memudahkan mereka melancarkan operasi dan patroli ke tempat-tempat yang dikuasai para pejuang. Pos-pos pengawalan pasukan Belanda tersebut dipergunakan oleh mereka antara lain :

a. Untuk tempat tahanan sementara bagi pejuang yang ditangkap waktu mereka melancarkan operasi dan patroli.

b. Untuk tempat memeriksa, mengadili dan menyiksa para pejuang yang mengadakan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

c. Untuk tempat mengatur strategi dan taktik operasi ke tempat-tempat yang dicurigai masih adanya perlawanan  terhadap mereka.

d. Untuk menerima anggota TNI atau pejuang yang ingin menyerah.

Badan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK)

Pada masa perjuangan ini dilaksanakan juga latihan militer di desa-desa untuk persiapan perang rakyat semesta. Badan tersebut diberi nama BPNK (Badan Pengawal Negeri dan Kota) yang pimpinannya adalah Letda Muradi atas perintah Komandan Resimen II/IX B guna menghadapi serangan Belanda selanjutnya. Oleh karena itu Indonesia yakin, bahwa nafsu serakah Belanda untuk menjajah Indonesia kembali, tidak akan berhenti sebelum mereka benar-benar dinyatakan kalah, baik dalam pertempuran maupun lewat usaha diplomasi.

Tantangan bagi Belanda berhadapan dengan sifatnya perjuangan rakyat semesta, dimana seluruh rakyat diikut sertakan. Untuk pelaksanaan latihan pendidikan militer itulah maka dibentuk organisasi yang bernama BPNK dan Markas Pertahanan Rakyat Kewedanaan (MPRK).

Di samping latihan militer, ada pula yang belajar silat bela diri, bahkan ada yang menuntut ilmu kebal tahan bacok. Juga untuk setiap desa dibentuk lagi Badan Imam Jihat yang dipimpin oleh para alim ulama, dengan tujuan menanam keimanan melawan Belanda atau penjajah itu wajib, kalau mati adalah mati syahid dan imbalannya surga.

Ajaran Islam memang betul banyak manfaatnya, karena banyak rakyat Kerinci secara ikhlas untuk mati syahid dengan ucapan “Allahu Akbar”, mereka menyerang pasukan Belanda tanpa perhitungan, ini terjadi dimana-mana dalam wilayah Kerinci.

Di samping itu tidak kalah pentingnya kegiatan yang dilakukan dibidang logistik dan kegiatan latihan militer. Untuk itu Intendans Resimen II/IX telah melaksanakan kegiatan maksimal dalam pengumpulan bahan makanan terutama beras, yang akan digunakan untuk persiapan perang selanjutnya.

Di samping itu pula kebutuhan makanan bagi front depan tetap pula diisi atau dipenuhi. Untuk memudahkan memperoleh makanan dalam melanjutkan perlawanan dengan Belanda, maka bahan makanan tersebut ditumpuk di tempat tertentu yang cukup aman di gunung-gunung atau di belukar-belukar di seluruh Kerinci.

Dalam usaha pengumpulan makanan itu ada beberapa cara yang dilakukan, ada yang dinamakan sistem persentase (10 persen) yaitu natura dari hasil pertanian. Petugas bidang logistik itu antara lain adalah Basyarudin dengan stafnya Ny. Syamsinar Arifin dan Ny. Samariah Memed, sebagai staf dan Wedana Militer.

Cara pertama berlaku bagi setiap penduduk pada waktu memotong padi atau menuai. Ada pula cara pengumpulan logistik itu yang diambil dengan sistem pinjaman kepada masyarakat, juga sistem beli dengan ORI setempat, bahkan ada pula dengan sistem utang. Diambil dengan sistem pinjaman dilakukan melalui aturan administrasi dengan bukti-bukti yang lengkap.

Dilihat sepintas lalu memang salah satu pengumpulan logistik dari rakyat itu, merupakan keharusan dan kewajaran guna melanjutkan perjuangan rakyat semesta di daerah Kerinci melawan Belanda. Nampaknya rakyat tidak berkecil hati jika padinya diambil, malah ada rakyat yang sengaja menyediakan padi atau beras disumbangkan secara sukarela setiap tahun untuk membantu perjuangan.

Perbuatan seperti itu didorong oleh anjuran agama Islam, karena fatwa agama mengatakan bahwa berkorban membela negara dan agama dengan cara apa saja adalah setengah dari iman, dan diakhirat nanti akan dibalas oleh Allah SWT. Selain dari padi, ternak dikenakan natura, yang hasilnya ada yang dijual untuk membantu kelancaran roda pemerintahan sipil dan militer di bidang administrasi. Ada juga ternak disembelih dan dipotong dagingnya, diiris tipis dijemur dan dikeringkan guna dikirim ke front depan.

Di bidang pertahanan sipil di bentuk lagi Badan Markas Pertahanan Rakyat Kewedanaan yang disingkat MPRK. Ketua pertama MPRK adalah Kapten Marjisan Yunus, yang kemudian diganti oleh Lettu Supin dan sekretarisnya Burhan Ilyas.

Dari MPRK itulah diatur segala hal yang berhubungan dengan tata administrasi maupun pelatihan bagi BPNK. Sebelum terjadi agresi Belanda II tahun 1948, Kerinci sudah siap mengaturkan pertahanan untuk menghadapi Belanda, yaitu sebagai berikut:

1. Pertahanan Kerinci Hulu di Barung Talang dijadikan benteng pertahanan yang dipimpin oleh Letnan II Muradi dan stafnya sampai ke Rawang.

2. Pertahanan Kerinci Hilir stafnya sampai Gunung Siru Seleman yang dipimpin oleh Alamsyah, Yatim Abbas dan Mat Jelas. Di Ujung Pasir adalah Syamsir Alam. Khatib Nurdin, Isa Karimi, Jakfar Bahauddin dan Hasan Basri di Tanjung Tanah. Semua pasukan TNI dan tentara sukarela telah siap mengatur barisan tempur untuk melawan Belanda dengan bermacam bom dan tank di pinggir Danau Kerinci.

Untuk amunisi, dibuat sendiri oleh rakyat Kerinci dari belerang, arang ringan kayu melan dan tanah bawah rumah yang mempunyai kadar mesiu. Campuran bahan-bahan tersebut dimasak dalam kuali dicampur dengan air yang diuapkan sehingga menjadi kristal, diantara kristal itu dipilih yang mempunyai kadar mesiu tinggi. (***)

Sumber :

- Perjuangan Rakyat Kerinci, Alimin Dpt

- Arsip Nasional Korp Veteran RI


Penulis: M. Ali Surakhma.
Editor: Herri Novealdi / Ikbal Ferdiyal



comments