Rabu, 21 Agustus 2019

Gerakan Mundur Pasukan dan Pemerintah di Kerinci 1949


Sabtu, 11 Agustus 2018 | 18:07:31 WIB


/ M Ali Surakhman/istimewa

Oleh: M. Ali Surakhman

DALAM rapat tanggal 24 April 1949 di kantor KMK (Komandan Militer Kota) Sungai Penuh yang dipimpin oleh Komandan KMK Kota Sungai Penuh, Kapten Marjisan Yunus, diputuskan bahwa Kota Sungai Penuh sukar dipertahankan.

Karena itu bangunan-bangunan vital yang mungkin menyemarakkan (dipergunakan) oleh tentera pendudukan Belanda seperti gedung-gedung, los-los serta asrama-asrama polisi dan tentara, kantor dan lain-lain harus dibakar/dibumihanguskan atau dihancurkan.

Tanggal 20 April 1949, semua tahanan CPM yang diyakini kaki tangan Belanda yang menyusup dari Padang, sebanyak 16 orang dipindahkan ke Kayu Aro (35 km dari Sungai Penuh) yang ditugaskan pelaksanaannya kepada Sersan Mayor CPM S. Arifin, Sersan CPM Meirad Sami yang diperbantukan pada staf Mahkamah Resimen II/IX B dan Kopral Rusli.

Sesampainya di Kayu Aro semua tahanan itu diselesaikan oleh Sersan CPM Khaidir dan kawan-kawannya. Pada tanggal 22 April malam semua gedung pemerintah baik sipil maupun militer termasuk juga 7 buah bangunan pasar dibakar habis.

Pembakaran dipimpin oleh Komandan KMK Kapten Marjisan Yunus sendiri. Semua arsip sudah dipindahkan ke luar kota, yaitu ke Desa Seleman, Kecamatan Kerinci Hilir (12 km dari Sungai Penuh) di bawah kendali arsiparis Resimen II/IX B Sersan Mayor Yatim Abbas. Semua arsip tersebut lalu dibakar habis ketika Belanda sudah menduduki Sungai Penuh.

Sementara itu alat-alat radio baik milik militer maupun sipil (PTT) sudah dipindahkan dari Kampung Lereng ke Semerap, kemudian Talang Kemuning (Kerinci Hilir). Sedangkan sebahagian pemancar dipindahkan ke Kemantan yang dipimpin oleh Sersan M. Dawan. Selama perang di Kerinci Sersan M. Dawam sangat aktif sebagai penghubung pada staf kompi pertempuran gerilya Kerinci, di bawah pimpinan Letnan Muradi.

Pada tanggal 20 April 1949, sebenarnya semua orang Cina sudah diungsikan ke Kebun Baru, Batang Merangin. Pengungsian itu berdasarkan informasi yang diterima di Sungai Penuh, bahwa pemuda-pemuda Cina banyak yang mengacau dan membunuh para pejuang RI seperti di Padang, Medan dan kota-kota lain.

Di samping itu bila tentara Belanda memasuki suatu daerah, orang Cina serta merta dimanfaatkan oleh Belanda sebagai kaki tangannya. Namun tetap diakui bahwa banyak pula diantara orang-orang Cina yang aktif membantu perjuangan Republik Indonesia, misalnya di Sungai Penuh Kerinci seperti Oei Ek Keng, Lie Tjing Hong, Gan Tian Bie, Kho Tiau Wie dan lain-lain.

Pada tanggal 24 April 1949 sore pimpinan Daerah Komando Resimen II/IX B Mayor Alwi Sultan Merajo, Komisaris Polisi M. Nazir, Bupati Militer Pesisir Selatan dan Kerinci Aminuddin Sutan Syarif dan Wedana Militer Kerinci H. Adnan Thaib, mengadakan rapat komando bertempat di rumah Wedana H. Adnan Thaib.

Rapat itu belum selesai, tapi segera dibubarkan karena tepat jam 5.00 sore harinya tentara Belanda telah menyerang ke kota Sungai Penuh dari arah Jembatan I melalui Koto Limau Sering. Kota Sungai Penuh termasuk desa-desa sekitarnya waktu itu sudah kosong, karena dua hari sebelumnya penduduk telah mengungsi ke luar kota maupun masuk hutan.

Pada sore itu udara sangat cerah, sehingga jelas kelihatan kesibukan-kesibukan militer kita yang meninggalkan Kota Sungai Penuh menuju arah yang telah ditentukan. Beberapa hari kemudian baru diketahui arah dari pasukan yang mundur ke luar kota, yaitu :

1. Komando Militer Resimen II/IX dan beberapa stafnya langsung ke Talang Kemuning.

2. Bupati Militer Aminuddin Sutan Syarif ke Semerap dan Pulau Tengah bersama Letnan Kolonel Burhanuddin yang diperbantukan pada Resimen II/IX B, Komisaris Polisi M. Nazir dan Kapten Marjisan Yunus. Pasukan Kompi GATI di bawah pimpinan Letnan Rustam, waktu itu sebagian sudah lebih dahulu berada di Sanggaran Agung, Jujun, dan Keluru.

3. Sebagian tentara GATI yang mundur dari Sungai Kunyit ke Siulak Gedang dan membuat pertahanan disana.

4. Letnan Satu H. Ridwan, Kepala Intendan Resimen II/IX B dan beberapa anggotanya berada di pinggir Dusun Kumun (4 km dari Sungai Penuh).

5. Wedana Haji Adnan Thaib dan Janan Thaib Bakri menyingkir ke hutan Renah Kayu Embun (13 km dari Sungai Penuh).

6. Pejabat Kepala Staf Resimen II/IX Letnan Satu Munafri, Letnan Muda Budiman dan Serma Yatim Abbas serta beberapa orang Tentara Pelajar (TP) di bawah pimpinan Rusli Latif menyingkir ke Koto Lolo.

7. Letnan Dua Muradi Komandan BPNK Kewedanaan Kerinci bersama 15 (lima belas) pasukan GATI, belum meninggalkan Kota Sungai Penuh, masih berada di pinggiran kota, pinggir Kampung Lereng 1,5 km dari Sungai Penuh.

Pada waktu Belanda memasuki Sungai Penuh pertengahan April 1949, pusat pemerintahan Kerinci dipindah ke Lempur dengan susunan pemerintahan sebagai berikut:

a. Bupati : Aminuddin St. Arief dengan staf

b. Polisi : Komisaris M. Nazir

c. TNI : Mayor Alwi St. Marajo sebagai Komandan Resimen

d. Kompi : Kapten Marjisan/Letda Nazar/Serma Lelo

e. Persenjataan : Letda Mahmud Aceh

 

Pemerintahan ini berkantor di :

a. Kantor Bupati/Polisi : Rumah H.M. Rawi, Lempur

b. Markas Tentara : Rumah H. Riah

c. Radio Rimba Raya : Rumah Ramah

d. Dapur Umum : Rumah Dahumiah . (***)

Sumber :

- Perjuangan Rakyat Kerinci, Alimin Dpt

- Arsip Nasional Korp Veteran RI


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi / Ikbal Ferdiyal



comments