Minggu, 26 Mei 2019

Orasi Kemerdekaan (Joko & Roby)


Sabtu, 25 Agustus 2018 | 16:26:42 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Oleh: Nafri Dwi Boy*

SUKA Bebas adalah desa yang terletak tidak jauh dari perkotaan. Meski bersebelahan dengan kota, tapi perekonomiannya tidak stabil. Semua itu karena hasil perkebunan dan pertanian habis dilahap oleh wabah tikus.

Mereka memakan semua hasil bumi pada malam hari. Ketika masyarakat desa sedang tertidur pulas. Tidak sempat mengawasi seluruh hasil bumi yang mereka tanam dengan kerja keras.

Pernah suatu hari, Joko selaku Kepala Desa mengajak seluruh pria di sana untuk berjaga sepanjang malam.

“Para lelaki semuanya harus siap tempur di sawah, sedangkan wanita menjaga rumah. Pokoknya kita harus membasmi tikus-tikus itu malam ini!” Warga desa bersorak dengan berbagai ekspresi.

“Horee....”

“Hidup Suka Bebas!”

“Pokoknya Merdeka!”

“Berjuang sampai titik darah penghabisan.”

“Yahh... rencana mau jalan-jalan sama istri.”

“Dak bisa deh nonton bola.

“Kenapa harus malam ini?”

Joko menyimak warga desa larut dalam berbagai ekspresi. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju.

“Tikus-tikus itu harus kita basmi malam ini juga!”

Tiba-tiba ada seorang warga pendatang yang baru tinggal satu bulan di Desa memberikan ketidaksetujuan. Warga itu bernama Roby, sebelumnya tinggal di Kota.

“Pokoknya saya tidak setuju! Tikus-tikus itu juga punya hak untuk hidup. Mereka juga punya nyawa.”

Roby berucap dengan penuh ketegasan. Dia terkenal Sebagai warga yang bersikap kritis. Pendidikannya tinggi, pengalaman tinggal di kota, serta pintar bermain kata. Warga Desa yang rata-rata hanya lulusan Sekolah Dasar tidak berani menentang. Sekalipun mereka menentang, Roby selalu membawa berbagai teori dalam argumennya.

Warga Desa bukannya tidak berani menentang, tapi perkataan Roby terlalu tinggi. Mereka tidak termakan dengan argumennya, sehingga malas untuk membalas.

“Tikus-tikus tidak pernah memikirkan kita (petani) mereka melahap habis hasil bumi kita. Makanya kita harus bersikap tegas!” Beruntung Joko merupakan Kepala Desa yang berpendidikan. Beliau berhasil lulus Sarjana meskipun harus menunggu lama. Skripsi yang dikerjakan selalu direvisi oleh pembimbing. Di tahun terakhirnya sebelum Drop Out Joko berhasil menamatkan perkuliahan.

“Kita bisa memaklumi mengapa tikus-tikus berbuat demikian. Mereka hanyalah kumpulan binatang yang tidak punya otak. Saya rasa wajar saja tikus-tikus seperti itu.”

Wajah Joko mulai memerah “Sudah lama kita bertoleransi terhadap perilaku mereka. Bahkan kita sudah mengajarkan kejujuran, caranya meminta bukannya maling. Coba saja tikus-tikus itu izin dulu pasti warga desa tidak marah.”

Roby tertawa, dan warga Desa mulai jengkel kepadanya. “Mana bisa tikus minta izin, ucapannya saja kita tidak mengerti. Di Negeri ini kita yang harus bersikap wajar kepada tikus.”

Beberapa warga bahkan saling berbisik mendengar perdebatan antara Joko dan Roby.

“Kira-kira siapa yang akan menang?”

“Aku rasa mereka akan saling adu pukul.”

“Eh... kayaknya Roby benar, tapi Joko juga benar. Entahlah....”

“Tikus itu sejenis apa ya? Setan?”

“Aku berani taruhan, pasti Joko yang akan menang!”

“Tapi.... Kelihatannya Roby lebih pintar deh.”

Desas-desus warga bahkan lebih keras terdengar, daripada perdebatan antara Joko dan Roby. Dari atas mimbar Joko mencoba menenangkan warga yang sudah letih berdiri selama lima menit.

“Pokoknya mau tidak mau, suka tidak suka tikus itu harus dimusnahkan malam ini juga. Desa Suka Bebas harus segera merdeka dari para penjajah.” Roby tidak diberikan kesempatan untuk bicara lagi. Setelah Joko menyelesaikan ucapannya semua warga langsung bergerak. Mereka kembali ke rumah untuk mengambil bambu runcing, celurit, parang, gergaji, makanan dan semua yang dibutuhkan.

Warga dibagi dalam beberapa kelompok. Satu kelompoknya ada sekitar sepuluh orang. Total ada lima kelompok yang artinya ada lima puluh orang yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan itu. Dari banyaknya warga, tidak terlihat Roby. Pria pendatang baru yang berjiwa kritis itu memang tidak tertarik untuk ikut. Terakhir salah satu warga melihat Roby berjalan di sekitar gang sempit, kemudian menghilang di tikungan.

“Setiap kelompok dibagi pula dalam beberapa tugas: Pengintai, Perencanaan dan Pengeksekusi. Kita harus tetap memandang ke setiap sudut. Tikus-tikus itu selalu bersembunyi dalam menjalankan aksinya. Namanya juga maling, mana ada yang mengaku.”

“Pak.... Bagaimana dengan tikus yang masih kecil, kasihan!”

“Iyaa... Begitupun tikus yang sedang sakit, apalagi kalau ada benjolan di kepalanya.”

“Saya jijik melihat tikus yang tubuhnya jelek, bau, berlendir, kotor, apalagi kalau penyakitan. Hii.... Pokoknya kalau ketemu tikus seperti itu, saya mundur!”

“Saya pernah ketemu tikus yang imut dan menggemaskan. Saya mau merawatnya.”

Mendengar semua aspirasi warga, Joko lalu berucap “Yang namanya tikus baik itu jorok, kasihan, imut bahkan cantik sekalipun tetap saja mereka tikus. Kerjaannya maling hasil bumi kita. Maka kita harus musnahkan segera!”

“Kalau tikusnya tidak maling bagaimana? Apa perlu kita introgasi dulu? Soalnya kasihan kalau salah tangkap. Yang baik malah jadi kena hukuman.”

“Di Negeri ini mana ada maling ngaku. Banyak yang pakaian rapi, stelan jas hitam, pakai kemeja mahal ternyata dia maling. Di negeri ini malingpun bersikap sopan, perkataannya manis-manis. Pantas saja tidak ketahuan belangnya.”

“Tapi...... Semua bentuk tikus sama! Bagaimana kita membedakan antara tikus baik dan jahat? Apakah kita harus bawa ke pengadilan dulu?”

“Tidak perlu! Kalau ketemu tikus, langsung saja dibunuh.”

Mereka bergegas menempati pos penjagaan. Gelagat mereka sudah seperti pejuang kemerdekaan. Mengendap untuk mengintai keadaan. Semalaman harus terjaga tanpa tidur. Mata harus tetap melotot, melihat ke setiap sudut persawahan. Tidak boleh sampai lengah! Sekali saja lengah, musuh bisa memangsa. Perjuangan yang sudah terencana dengan baik, akan gagal.

Tikus-tikus di Desa itu sangat pintar, mereka mengetahui rencana warga Desa. Malam itu tikus-tikus sembunyi di rumah, tidak berani masuk ke persawahan. Kalaupun masuk, mereka lebih berhati-hati bahkan bisa berkamuflase menjadi kucing untuk mengelabuhi warga. Tikus menjadi kucing? Rasanya aneh, tapi di Desa itu tikusnya ajaib. Bahkan bisa menjelma menjadi buaya, kodok, nyamuk bahkan belatung sekalipun. Lihat! Betapa menyeramkannya tikus-tikus di sana.

Sepanjang malam warga tidak menemukan tikus seekorpun. Mereka menduga tikus-tikus sudah tidak berani lagi mengganggu. Pergi ke tempat lain atau mati terkena azab. Itulah akibatnya kalau berani berbuat maling, azab paling besar siap menanti. Warga Desa Suka Bebas merayakan kemerdekaan itu dengan penuh suka cita. Mereka berteriak “Merdeka...! Merdekaaaa......!” Sepanjang jalan Desa. Wanita-wanita turut bergabung, mengelilingi Desa dengan penuh semangat.

Beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang, Joko kembali naik ke atas mimbar. Dia siap untuk mengucapkan Orasi Kemerdekaan melalui pelantang yang cukup keras. Bahkan suaranya terdengar sampai ke kota.

“Kepada seluruh warga Desa Suka Bebas.” Suara Joko serak-serak basah dan penuh semangat “Pertempuran satu malam yang kita laksanakan, telah berbuah manis. Kemerdekaan telah berhasil kita raih. Tikus-tikus itu tidak berani lagi menginjakkan kakinya ke Desa kita. Atas dasar persatuan, kekuatan, semangat yang berkobar telah mengantarkan kita menuju pintu kemerdekaan. Perekonomian kita akan kembali stabil, hasil bumi tidak lagi dijajah, maling-maling berhasil kita cabut sampai ke akar-akarnya. Inilah buktinya jika kita menolak segala jenis hama yang berkeliaran di Desa kita. Bukti jika kita serius ingin merdeka dari segala penjajah. Untuk itu, saya mengucapkan selamat kepada seluruh warga Desa Suka Bebas. Kita berhasil masuk ke cahaya yang lama kita impikan. MERDEKA!”

Sontak dengan penuh semangat seluruh warga berteriak “Merdeka...! Merdeka....!” hingga pada akhirnya adzan berkumandang. Warga kembali ke rumah masing-masing untuk menjalani kewajiban. Bersiap menempuh kehidupan yang baru. Kemerdekaan yang utuh, kemerdekaan yang nyata.

Tapi ketika matahari sudah menampakkan diri. Merajai siang, tikus-tikus yang bersembunyi tiba-tiba keluar. Mereka melahap habis padi-padi yang mulai menguning. Begitu kelaparan dan rakus. Bahkan bukan hanya daun, sampai ke akarnya padi itu disantap. Desa begitu sepi, sebab para petani tertidur pulas siang itu. Mereka lelah terjaga sepanjang malam, dan tikus-tikus menjadi lebih gila. Mereka tahu siang itu, para petani sedang beraktivitas di alam mimpi. Hanya Roby yang terbangun, dia tidak mengusir tikus-tikus. Melainkan membiarkannya saja sambil tersenyum sini, kemudian pergi menuju kota.

*) Penulus adalah mahasiswa FKIP Unja. Komunitas Gemulun Indonesia


Penulis: Nafri Dwi Boy
Editor: Herri Novealdi



comments