Kamis, 18 Juli 2019

Petualangan "Saya" Mencari Identitas Dalam Novel Byarpet Karya Putu Wijaya


Minggu, 26 Agustus 2018 | 16:00:20 WIB


/ Metrojambi.com

Oleh: Sean Popo Hardi*

NOVEL Byarpet karya Putu Wijaya yang terbitkan tahun 1995 menceritakan tentang tokoh “Saya” mencari temannya yang tinggal di Jakarta. Tokoh “Saya” lupa siapa teman yang ingin ditujunya apakah Marno atau Sumarno.

Celakanya, “Saya” pun tidak membawa identitas apa pun sehingga ia terawang-awang selama berada di kota besar. Di akhir cerita, sesampainya tokoh “Saya” pulang ke desanya ia mengingat siapa orang yang ingin ditemuinya saat di Jakarta. Ia menyebut nama Kropos.

Padahal Kropos adalah namanya sendiri. Kata “Kropos” mengandung arti hampa, kosong, rapuh, lapuk (Prawiroatmodjo, 1993:271). Nama itu menunjukkan sifat tokoh “Saya” yang rapuh, kosong, pemalas, suka mengeluh dan tidak berdaya menghadapi konflik dalam dirinya.

Sifat malas dan pelupa diungkapkan dari ucapan tokoh “Saya” sebagai berikut. /Kemalasan sudah lama menguntit saya. Saya selalu ketinggalan. Hidup saya seperti batu. Kemana terlempar disitu membenam. Kalau tidak ada tenaga yang lain yang menendang, tidak akan mencoba beranjak. Kadang-kadang bukan karena tidak ada biaya. Tapi karena segan saja. Penyakit turunan. Selalu ingin menunda-menunda. Selalu percaya barangkali lain waktu ada kesempatan yang lebih baik. Jiwa saya jiwa budak. Semangat pengemis. Akhirnya beginilah. Merasa segala sesuatu asing. Selalu merasa terancam. Hidup tanpa perlindungan. Tanpa prestasi. Padahal kawan-kawan dekat saya sudah sukses, karena tidak pernah ragu-ragu (hlm. 2)/.

Meskipun sudah mengetahui kelemahannya itu, “Saya” tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain “menggerundel di belakang”. Celakanya lagi dalam setiap kemalangannya ia masih mampu menikmati diri (hlm. 2).

Hal ini sama seperti kebanyakan orang-orang di sekitar kita yang membenci proses namun menginginkan hasil yang instan.

Di tengah lingkungan dan orang-orang baru yang tidak dikenalnya membuat ia merasa kecil dan tidak percaya diri. Padahal, sikap yang seperti itu dapat membuat apa pun yang kita lakukan menjadi tidak optimal.

Kita sebagai warga negera Indonesia harus yakin dengan kemampuan kita sendiri. Selain kerapuhan yang dialami tokoh “saya” juga tergambar perasaan hampa ketika sahabatnya Marno yang telah kaya dan terkenal di Jakarta sudah tidak mengenalnya lagi.

Seketika hatinya merasa kosong dan hampa. Saat itu “Saya” merasa sangat kecewa karena persahabatan yang dibangunnya telah kandas. Hal ini terlihat dari kalimat berikut. /Semua orang bisa pulang setelah banting tulang, tetapi saya kemana?/ Ke rumah rasanya seperti tamu. Saya tak puya tempat tinggal kecuali dalam kepala saya sendiri. Jadi jangan disalahkan kalau saya mencari persahabatan dengan orang-orang yang bisa dipercaya. Dengan Marno misalnya….. Tetapi sekarang saya tidak punya sobat. Rasanya sakit lagi (hlm. 54-55)/.

Berbagai peristiwa dan konflik batin terjadi selama “Saya” berpetualang di Jakarta untuk mencari seseorang tanpa identitas dan alamat yang jelas. Pada akhirnya “Saya” memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Lagi-lagi tokoh “Saya” menampakkan kerapuhannya tentang hidup yang akan dijalani sesampainya di kampung. Kecemasan dan ketidakberdayaan “Saya” menghadapi persoalan hidup terlihat dari perkataannya kepada dirinya sendiri. /Saya merasa kehilangan semangat. Sebentar lagi pagi.

Kalau bus tidak telat, saya masih sempat pulang, mandi, tukar pakaian, kalau bisa tidur sebentar, lalu berangkat ke kantor. Jadi masih punya setidak-tidaknya satu hari, sebelum tenggelam lagi bersama-sama dengan mereka mengenai tetek bengek sehari-hari.

Soal uang, hubungan-hubungan keluarga, tetangga, tugas-tugas dan kewajiban serta kesenangan-kesenangan yang mungkin direbut sebanyak-banyaknya. Harapan-harapan untuk mendapat kesempatan berbuat bebas, seperti terbayang dulu-dulu, akan sulit sekali. Mungkin juga karena soal nyali saya yang kekecilan (hlm. 137)/.

Terlihat watak “Saya” atau Kropos yang rapuh ketika akan melewati berbagai pergolakan hidup yang akan dialaminya.

Dalam novel ini, “Saya” merupakan tokoh protagonist yang dihadapkan dengan tokoh antagonis. Namun tokoh antagonis tersebut bukan berupa individu atau beberapa individu melainkan dihadapkan pada kekuatan antagonis yang ada dalam pikirannya sendiri. Misalnya, perbedaan sosial-ekonomi antara “Saya” dengan pak Sumarno sahabatnya yang telah kaya dan terkenal di Jakarta.

Konsep persahabatan yang ada di kepala tokoh “Saya” merupakan sesuatu yang tulus tanpa memandang status sosial ekonomi lalu harus bertemu dengan seseorang yang lebih darinya.

Tokoh “Saya” sangat takut melihat jarak yang terbentang lebar itu. Betapa kekayaan itu memisahkan, hal ini terlihat dari kutipan berikut. /Pintu gerbangnya tinggi dari anyaman besi. Rumput hijau mulus dengan rumpun tanaman hias berselera tinggi. Hati saya jadi ciut…. Dengan oleh-oleh itu saya masih belum punya keberanian memasuki pagar. Betapa kekayaan itu memisahkan. Seandainya saja itu betul-betul rumah Marno apa yang akan saya lakukan? (hlm.39)/.

Tokoh “saya” kembali menghadapi kekuatan antagonis saat ia melewati kompleks perumahan mewah. Kekayaan yang tampak begitu timpang dari pengalaman hidup “saya” sangat mempengaruhi perasaannya. Kemudian “saya” kembali bertanya dalam diri. /Dari mana munculnya uang untuk membangun rumah-rumah itu. Mengapa orang bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, sementara dikantung saya lebih banyak nasib buruk………Mungkinkah itu yang membuat orang menjadi perampok, misalnya. Kalau orang yang telah bekerja mati-matian, tak mampu mengubah nasib, tentu saja jalan pintas akan ditempuh. Siapa yang tak ingin berhasil, membangun istana dan kerajaannya seperti penghuni kompleks ini. Saya juga. Saya bukan orang suci yang tergiur oleh keenakan (hlm. 43)/.

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa watak “saya” yang rapuh tak percaya dengan kekayaan. Ia pun menjadi sedih melihat ketidakberdayaan dirinya untuk hidup yang lebih enak dari hidupnya di kampung yang penuh kemewahan.

Perasaannya tentang ketimpangan sosial ini cepat-cepat dihilangkannya karena ketidakberdayaannya sendiri. Cara menghadapi kerapuhan tokoh “Saya” adalah dengan cara mengingat bahwa masih banyak yang bernasib lebih buruk dari dirinya. /Saya hibur diri dengan mengingatkan bahwa saya tak sendiri.

Di belakang saya masih ada lapisan tukang becak yang ngos-ngosan menggenjot becak, sementara saya sibuk berleha-leha dengan menaikkan kaki. Di belakang tukang becak itu masih berlapis-lapis nasib yang lebih kering. Hidup memang seperti kue lapis (hlm. 44)/.

Kekuatan-kekuatan antagonis yang diuraikan, selalu berhadapan dengan pikiran-pikiran tokoh “saya” sepanjang petualangannya di Jakarta.

Tokoh “Saya” mempunyai sifat dan watak yang kompleks. Berbagai peristiwa dan kejadian ditanggapi dengan seksama, misalnya saat seorang laki-laki mengaku kawannya.

Orang tersebut bercerita tentang banyak hal, namun “Saya” tetap mendengarkan seolah seseorang yang peduli terhadap orang lain. Hal ini terlihat sebagai berikut. /Orang itu betul-betul nekat, dan saya tak berdaya. Ia begitu membutuhkan teman bicara.

Saya dengarkan semuanya dengan senyum yang tambah lama tambah konyol. Kini makin jelas. Dimana-mana rupanya orang menderita, walaupun sudah naik mobil dan pakai kacamata seperti dia (hlm. 15)/.

Teknik penokohan melalui jalan pikirannya, terutama untuk mengetahui alasan-alasan tindakannya sangat dominan oleh tokoh “Saya”.

Pengakuan-pengakuan tentang dirinya menunjukkan bahwa “Saya” adalah seseorang yang berusaha memahami dirinya sendiri. Sejak awal kemunculan tokoh “Saya” banyak menggunakan teknik penokohan ini.

Ketika sampai di Jakarta, tokoh “Saya” menggambarkan tentang kota Jakarta yang sibuk (hlm.11). Di lain waktu, tokoh “saya” kagum pada tukang koran yang melakukan pekerjaannya dengan riang, padahal berita yang dijajakannya sangat mengerikan (hlm. 28).

Ketika didatangi oleh seorang laki-laki yang mengaku kawannya, “Saya” tetap mendengarkan cerita-cerita orang itu meskipun ia tidak mengenalnya (hlm. 17). Ada pula reaksi “Saya” ketika melihat perumahan mewah di Jakarta. Ia protes terhadap kekayaan yang ada di depan matanya, sementara begitu banyak pihak lain mengambil jalan pintas untuk mendapatkannya. Ia merasa sangat miskin dan merasa hidup sangat sia-sia. Akan tetapi setelah itu “Saya” sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih sial nasibnya.

Pertemuan “saya” dengan Marno akhirnya terjadi juga. Akan tetapi Marno hanya memandangnya dan melanjutkan pembicaraan dengan kawannya. “Saya” tidak diacuhkan. Hal ini membuat “saya” merenung secara mendalam (hlm. 46-61). Ketika pikirannya dipenuhi dengan protes terhadap perlakuan Marno, tiba-tiba ia dikejutkan dengan tukang becak yang mengembalikan tasnya yang ketinggalan. Percakapan mereka kemudian mengalir masih tentang pak Sumarno. Betapa luluhnya hati “Saya” mendengar bahwa tukang becak itu pernah ditolak oleh Marno seperti dirinya. Perjalanan terus berlanjut sampai ketika “Saya” terdampar disebuah bar. Ia tiba-tiba mengerti bahwa ruangan itu sudah berhasil menjadi rumah palsu kepada mereka yang datang kesana (hlm. 91).

Setelah menimbang-nimbang akhirnya “Saya” memutuskan untuk kembali kekampung halamannya. Hal itu diputuskan karena ia mengalami banyak perasaan aneh tentang Jakarta dengan seluruh isinya. Keputusan yang ia ambil adalah jalan terbaik. Bagaimana mungkin bisa terus bertahan di Jakarta yang serba lain di matanya sedangkan tujuannya sendiri tidak jelas. Cerita lalu mengalir seiring dengan kepulangan sang tokoh ke desanya. Keputusan “Saya” untuk pulang mempertemukannya dengan Pak Min karena bus yang ditumpanginya ditunda keberangkatannya hingga esok hari. Pak Min yang polos dan lugu bercerita tentang kesulitan hidupnya. “Saya” kemudian menyadari ternyata di tengah kota yang memiliki banyak gedung dan mobil mewah itu ternyata ada orang seperti Pak Min yang “luka parah” oleh kesulitan hidup. Tetapi masih dapat berbicara dengan sederhana dan polos (hlm. 109). Kejadian ini lagi-lagi membuat tokoh “saya” membandingkan dan merenungi dengan nasib yang dia alami sendiri.

Kehidupan di jalan tidak luput dari pengamatan “Saya” di kota yang sebelumnya asing baginya. Pengemis-pengemis buta yang bertebaran di sana, ternyata mereka menikmatinya sebagai pekerjaan. Hal itu membuat simpati “Saya” terhadap mereka mulai berkurang (hlm. 110). Demikian dengan orang sinting yang menghina ibu kota, menambah “Saya” menyentuh kehidupan yang sebenarnya. /Anak kecil yang tua itu menirukan suara ketawa itu dengan marah. Rupanya ia kesal sekali. Saya sendiri merasa terwakili. Rupanya bukan hanya saya, tetapi orang sinting juga memikirkan dunia ini (hlm. 111)/.

Petualangan “Saya” dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang bergejolak dan usahanya memahami serta membandingkan dirinya dengan orang yang ia temui. Berbagai persoalan di sekitarnya membuat perwatakan tokoh “saya” mengalami perkembangan. Novel Byarpet ini merupakan cerminan dari kehidupan yang terjadi di sekitar kita yang dipenuhi dengan gejolak pikiran dan hasrat kehidupan yang buas. Putu Wijaya mengajak siapa saja yang membaca novel ini untuk merefleksikan serta menginstropeksi diri terhadap setiap peristiwa di dalam kehidupan yang kompleks ini. Di sinilah keunikan novel lawas ini yang penuh dengan sindiran dan kata-kata bijak seolah mengajarkan kita bagaimana menempatkan diri dalam kehidupan ini. Hanya dari cerita sehari-hari dan mungkin terjadi di kehidupan nyata. Putu Wijaya bermain dengan kata-kata yang menciptakan narasi yang liar. Kepiawaian Putu Wijaya ini memberikan warna terhadap gaya penceritaan novel absurd Indonesia.

Daftar Bacaan

Prawiroatmodjo, S. 1993. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta: Haji Mas Agung.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Poststrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. (terj. Rachmat.

Djoko Pradopo). Jogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumardjo, Jakop dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia.

Teeuw, A. 1984. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Wijaya, Putu. 1995. Byarpet. Jakarta: Pustaka Firdaus.

 

*) Penulis adalah penggiat Budaya Jambi. Komunitas Gemulun Indonesia


Penulis: Sean Popo Hardi
Editor: Herri Novealdi



comments