Minggu, 23 September 2018

Menyoal Diskursus Matinya Gerakan Mahasiswa Milenial


Minggu, 02 September 2018 | 15:47:52 WIB


/

JIKA anda adalah generasi milenial yang saat ini sedang menyandang status sebagai mahasiswa pastinya sering mendapat atau mendengar pertanyaan seperti ini, “mahasiswa kok tidak ikut demo? Mahasiswa kok apatis? Mahasiswa kok buta politik? berbeda sekali dengan mahasiswa angkatan 65 dan 98".

Jujur saja mendengar statement seperti itu membuat harga diri saya sebagai mahasiswa terpancing dan menyadari sebagai generasi muda tidak boleh menjadi generasi yang hilang.

Tulisan ini akan banyak berbicara tentang gerakan mahasiswa milenial, terutama dalam bidang politik dan pemerintahan.

Wacana membanding-bandingkan jika kita berbicara tentang gerakan politik milenial, keterlibatan anak muda dalam politik khususnya, seringkali dari tahun ke tahun selalu ada wacana untuk membanding-bandingkan gerakan mahasiswa dari generasi ke generasi mulai dari generasi 65, generasi 98 dan generasi milenial.

Dewasa ini, banyak masyarakat merasa bahwa generasi milenial tumbuh menjadi generasi yang apatis dan tidak ada bunyinya, sering kali generasi milenial ini dipertanyakan gerakan politiknya dalam mengawal kebijakan pemerintah.

Mantan aktivis mahasiswa  98 yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Budiawan Sujatmiko mengatakan bahwa membandingkan gerakan mahasiswa dari masa ke masa dengan sama persis adalah sebuah kekonyolan.

Zaman berubah seiring berjalannya waktu, hari ini teknologi memungkinkan menyelesaikan persoalan yang berat tanpa menguras energi sebesar dulu. Dulu, aktivis mahasiswa 98 cukup dengan demo untuk menggulingkan sebuah rezim yang berkuasa. Kalau sekarang sebagian persoalan bisa diselesaikan dengan tekonologi, kenapa harus memaksakan diri agar tampak berkeringat.

Budiawan juga menjelaskan pada masa orde baru dahulu, dia pernah mengadvokasi kasus tanah di kampung halamannya daerah Cilacap. Bertahun-tahun kasus itu tidak selesai, tapi begitu dia jadi anggota DPR masalah itu selesai. Artinya apa, cara dia menyelesaikan masalah memang tampak tidak “seromantis” cara yang lama, tetapi kenyataannya  cara ini lebih efektif dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Pengalaman Budiawan Sujatmiko di atas dapat dimaknai dengan dua hal, pertama, kekuasaan bisa membuat suatu masalah diselesaikan secara lebih efektif. Kedua, teknologi juga menawarkan metode penyelesaian masalah yang lebih efektif dan efisien. Menurut penulis, tuntutan yang di alamatkan pada generasi milenial sekarang tidak bisa disamakan dengan tuntutan kepada generasi sebelumnya,  pada masa sekarang yang dituntut  adalah bukan tentang apa yang dilakukan, tapi apakah yang dilakukan tersebut menjadi hasil. 

Jadi jelas bahwa tuntutan yang dapat diberikan kepada generasi milenial adalah bukan sebanyak apa demo yang mereka lakukan, tapi adalah result oriented, karya apa yang sudah kamu berikan kepada bangsa ini.

Beda Masa Beda Tantangan

Masyarakat harus memahami bahwa generasi dulu dan generasi millenial sekarang mempunyai tantangan yang berbeda. Aktivis pada masa orde baru hidup di masa pemerintahan otoriter dan teknologi yang belum terlalu berkembang seperti sekarang.

Menjadi wajar jika kemudian gerakan yang mereka lakukan adalah dengan demo turun ke jalan karena belum didukung oleh teknologi yang memadai. Generasi milenial sekarang tantangannya bukan seperti dulu lagi. tantangan mereka adalah bagaimana menciptakan karya yang berguna di tengah masyarakat. Bukan tentang seberapa banyak demo yang kalian lakukan di tengah masyarakat, tapi tentang seberapa banyak inovasi yang kalian berikan kepada masyarakat.

Sikap kritis mahasiswa jangan hanya dimaknai ketika menghadapi sebuah masalah saja, sikap kritisme mahasiswa harus dimaknai dengan menjadi problem solver bagi masyarakat. Hari ini, gerakan mahasiswa untuk menciptakan teknologi baru yang berguna bagi masyarakat banyak merupakan salah satu gerakan politik, menjadi demikian karena gerakan tersebut membawa perubahan bagi kesejahteraan masyarakat. Gerakan politik itu tidak bisa dimaknai lewat satu perspektif saja, terlebih di era reformasi ini. Setiap mahasiswa mempunyai caranya sendiri dalam berjuang dan tentu saja perjuangan tersebut tidak bisa disamakan dengan dengan mahasiswa generasi sebelumnya.

Teknologi memang memegang peranan penting dalam gerakan mahasiswa millenial, contohnya saja musibah gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam waktu yang relatif singkat semua elemen masyarakat khususnya mahasiswa bergerak melakukan penggalangan dana untuk membantu saudara kita yang terkena musibah tersebut. Tentunya hal ini disebabkan oleh cepatnya informasi yang beredar baik di TV atau media sosial, sesuatu hal yang tidak terjadi dimasa orde baru dimana kebebasan berkumpul dan berpendapat masyarakat sangat dibatasi.

Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan apa yang telah diberikan dan diperjuangkan  oleh mahasiswa generasi terdahulu, tulisan ini hanya sebagai salah satu “pembelaan” penulis sebagai mahasiswa millenial yang selama ini dianggap tidak mempunyai gerakan nyata bagi masyarakat. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua mahasiswa digenerasi ini menjalankan tugas dan fungsi mereka sebagaimana mestinya, bahkan kebanyakan dari mereka tumbuh menjadi mahasiswa apatis yang tidak peduli akan apa yang menjadi persoalan bangsa hari ini.

Pada akhirnya menjadi harapan penulis dan kita semua pada umumnya, bahwa generasi millenial yang ada hari ini dapat tumbuh dan berkembang menjadi calon pemimpin-pemimpin bangsa di masa yang akan datang, biarkan generasi ini berkreasi dan berjuang dengan cara mereka sendiri, selama itu untuk kepentingan masyarakat bersama rasanya hal itu tidak akan menjadi masalah. Perbedaan cara berjuang tidak akan pernah menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah ketika tujuan perjuangan itu tidak lagi sama.

 

Penulis adalah Kolumnis, saat Ini menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi.


Penulis: Deki R. Abdillah
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments