Minggu, 23 September 2018

Agenda Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 dan Kontribusi Ekonomi Kerakyatan


Senin, 03 September 2018 | 10:15:19 WIB


/

ARUS era globalisasi mengantar pada berbagai perubahan yang terjadi, berbagai  bidang-bidang di tengah masyarakat. Perkembangan tentunya membawa pergeseran atau perubahan terhadap keadaan sebelumnya. Baik itu ke arah yang lebih baik atau bahkan ke arah yang lebih buruk.

Poros ekonomi menjadi tujuan utama setiap negara, karena pada hakikatnya negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya tentu terlibat dalam banyak hal terkait ekonomi dan sumber dari pendapatan. Baik itu yang dihasilkan melalui usaha negara dari dalam maupun luar atau sering dijalankan sebagai hubungan kerjasama antar negara.

Kebutuhan yang semakin meningkat dikorelasikan dengan perkembangan arus globalisasi semakin efektif serta efisien. Salah satu aspek yang mengalami perubahan luar biasa terutama di bidang teknologi informasi. Hal ini dapat dilihat betapa canggih dan bahkan terkadang di luar akal pikir manusia sudah berkembang pesat.

Hal ini menjadi peluang besar bagi negara-negara super power di belahan dunia, seperti: Tiongkok, Amerika Serikat, Korea dan lain sebagainya. Peran serta negara kuat ini kini sangat menentukan perekonomian pasar dunia, sehingga beberapa negara berinisiasi membentuk sebuah kerjasama antar negara.

Tahun 2018 menjadi tahun keberuntungan besar bagi Indonesia, ditandai dengan saat ini Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar se-Asia atau akrab disebut Asian Games Jakarta-Palembang XVIII. Pada pelaksanaanya berlangsung sangat meriah karena diikuti oleh 45 negara dan ribuan atlet.

Tentunya satu ini menjadi keberuntungan besar bagi Indonesia. Selain untuk  berjuang mengangkat nama tuan rumah, ini juga menjadi ajang promosi terhadap kekayaan dan kearifan lokal yang dimiliki oleh Indonesia. Di samping pesta olahraga ini, ternyata pada tanggal 8-14 Oktober 2018 Indonesia kembali dipercayakan menjadi tuan rumah Penyelenggaraan Annual Meetings International Monetary Fund-Word Bank Group (AM IMF-WBG) 2018 di Nusa Dua, Bali.

Hadirnya 15.000 delegasi dari 189 lebih negara di dunia, baik dari kalangan pejabat negara, investor, pelaku bisnis, instansi parlemen, komunitas perbankan, organisasi masyarakat, akademisi, media dan partisipan lainnya. Tentunya bukan menjadi suatu hal yang dapat dikesampingkan, bahkan menurut ketua pelaksana harian penyelenggaraan AM IMF-WBG 2018 ini telah dipersiapkan mulai dari tahun 2105,  persiapan selama tiga tahun adalah persiapan yang matang bahkan harus mendekati kata sempurna.

Dalam rapat terbatas Presiden Joko Widodo juga menyampaikan agar semakin maksimal dalam mempersiapkan kedatangan delegasi dari ratusan negara dunia. Pada agenda raksasa ini, tentunya pembahasan yang akan dikaji dan dikupas terkait permasalahan di tengah ketidakpastian dunia.

Kegiatan ini menjadi kategori hal terpenting, karena akan membahas banyak hal yang bersifat global, AM IMF-WBG dihadapkan pada situasi perekonomian global yang pada kuartal kedua mengalami perubahan yang sangat besar, baik dilihat dari kebijakan perdagangan antar negara, normalisasi kebijakan moneter Amerika, serta perkembangan politik di berbagai negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, hal ini akan menggambarkan risiko yang akan muncul dari sisi output perekonomian global, sehingga pertemuan AM IMF-WBG menjadi pertemuan sangat penting untuk membahas berbagai kondisi terkini dan juga tantangan ke depan.
“Ini menjadi penting agar 189 negara lebih yang ikut dalam AM IMF-WBG di Bali nanti, bisa menjaga perekonomian global, agar tetap kondusif bagi kemajuan pembangunan di masing-masing negara,” tuturnya.

Pembahasan pada AM IMF-WBG nanti akan fokus pada isu pembangunan global. Isu-isu yang dibahas juga sesuai dengan fokus pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Beberapa isu yang nanti akan dibahas seperti upaya pengentasan kemiskinan, menangani wilayah yang terkena konflik dan bencana alam, meningkatkan investasi sumber daya manusia, meningkatkan pembiayaan infrastruktur yang sustainable, meningkatkan pengeloaan urbanisasi, meningkatkan peran kaum wanita dan kesetaraan gender.

Selain itu, isu-isu seperti perkembangan teknologi untuk mendorong pembangunan yang bersifat inklusif, adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi perubahan iklim, serta pembiayaan asuransi bencana juga menjadi topik pembahasan dalam AM IMF-WBG mendatang.
Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyampaikan beberapa kegiatan Voyage to Indonesia yang merupakan rangkaian acara dalam rangka menuju AM IMF-WBG 2018. Beberapa topik yang dibahas dalam Voyage to Indonesia antara lain seperti digital ekonomi, climate change, financial rejuving, dan beberapa isu penting lain yang dimasukkan ke dalam voyage Indonesia.

Dalam AM IMF-WBG mendatang, akan diadakan juga dua pertemuan penting yang digagas oleh pemerintah, yaitu ASEAN Leaders Gathering yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden Word Bank serta Managing Director IMF, serta acara pertemuan negara-negara anggota G20.
Pertemuan ini harus benar-benar dipersiapkan, ditambah dengan aksi teror yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, tetapi hal tersebut tidak menjadi penghalang atas semangat dari berbagai delegasi yang akan memenuhi Nusa Dua, Bali. Ditambah dengan optimisme Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan yang meminta ke-39 Dubes dan perwakilan Kedubes untuk menyampaikan pesan kepada negara-negara asal mereka bahwa tidak perlu khawatir dengan situasi di Bali.

Menurutnya, Kepala BMKG telah menyampaikan informasi detail tentang letusan Gunung Agung dan gempa bumi di Lombok, hasilnya Bali aman. Selain itu, Menko Luhut mengimbau para peserta untuk dapat mempromosikan Indonesia sebagai tujuan wisata, karena ini akan membuka kerjasama ekonomi dan budaya antar negara.

Era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla saat ini menjadi sorotan media-media atas prestasi yang dicapai baik lokal maupun Internasional, ditambah lagi fokus pembangunan yang dilakukan “Mulai dari Desa” adalah prisip pembangunan yang dilakukan pada era ini, mulai dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga pulau Rote.

Pembangunan infrastruktur massal cukup memangkas berbagai subsidi sehingga prinsip “disuapi” akan semakin berkurang di masyarakat dan diajak untuk semakin memanfaatkan fasilitas umum yang dibangun. Secara kasat mata dan pemikiran pendek akan beranggapan bahwa infrastruktur tidak dapat digunakan oleh masyarakat kecil, tetapi pemikiran tersebut terlalu sempit untuk ekonomi yang akan datang, sehingga masyarakat Indonesia dapat bersaing dengan perkembangan globalisasi saat ini.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia berjumlah 25,95 juta orang atau sekitar 9,82 persen dari total seluruh jumlah masyarakat Indonesia serta menjadi jumlah terendah sejak tahun 1998. Tingkat pengangguran juga menurun dalam kurun 4 tahun terakhir (5,13 persen).

Pembangunan masyarakat Indonesia tidak terlepas dari kerjasama antar lembaga, kementerian, serta lainnya mulai dari pusat hingga desa. Sehingga pada kesempatan inilah menjadi peluang besar bagi negara Indonesia terutama yang akan bertukar pikir dalam acara besar AM IMF-WBG menyampaikan sederet permasalahan yang masih terjadi di Indonesia, seperti penumpasan kemiskinan, pemerataan pembangunan, konflik, sosial, politik, lingkungan hidup, serta banyak hal yang perlu mendapatkan masukan dan dukungan untuk memperkecil angka-angka terhadap kekurangan yang masih terjadi.

Ekonomi kerakyatan adalah keadaan dimana sila ke-5 pada Pancasila dapat dirasakan oleh setiap masyarakat bahkan individu sekalipun, yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Keadaan ini merupakan hal terpenting yang diinginkan oleh setiap masyarakat.

Kegiatan ini juga dapat mendukung promosi atas kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia, sehingga delegasi yang hadir membawa kesan baik dan menjadikan negara ini menjadi tujuan utama atas kekayaan yang luar biasa dan aman. Sehingga dari itu mari kita sukseskan kegiatan dunia ini, karena kepercayaan adalah buah dari komunikasi dan relasi yang baik kedepannya di antar negara.
                
Penulis adalah Kepala Bidang Internal Komisariat Absalom GMKI Cabang Jambi serta Putra Daerah Doloksanggul.


Penulis: Samuel Raimondo Purba, S.IP
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments