Jumat, 13 Desember 2019

Kamar (Joko & Roby)


Minggu, 02 September 2018 | 12:29:15 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Karya: Nafri Dwi Boy*

KAMAR kos nomor sepuluh yang terletak di pojok, sudah terbungkus sarang laba-laba. Hampir lima tahun tidak pernah ditempati. Terakhir ada seorang pemuda bernama Roby yang tinggal di sana. Dia hanya bertahan selama sebulan, setelah itu menghilang ditelan bumi. Kedua orang tuanya sudah melaporkan pada pihak berwajib.

“Tolong cari anak saya, Pak. Kasihan dia sendirian”

Ibu Roby sudah seminggu menangis tanpa henti. Menghilangnya Roby dengan tiba-tiba membuat urat sabarnya putus. Berulang kali Pak Budi menenangkan istrinya, tapi sia-sia.

Apalagi ketika menatap foto keluarga berukuran dua kali dua meter yang terpampang di dinding kamar. Ibu sering menangis dan memanggil namanya.

“Roby..... Roby..... Kemana kamu, Nak?”

Setiap kali istrinya kumat, Pak Budi hanya mampu menenangkan sebisanya. Dia takut istrinya mengalami gangguan kejiwaaan, jika terus berada dalam kesedihan mendalam.

“Kita tidak bisa berbuat banyak, bu!” Polisi sudah memasang garis kuning di depan pintu kos.

“Maksudnya, pak?” Ibu terus mendesak polisi untuk berusaha.

“Seminggu pencarian ini, kita tidak menemukan tanda-tanda. Menghilangnya Roby membuat kita berduka.”

“Pak.... Cari Roby secepatnya.”

“Kami sedang berusaha, bu. Mohon ibu tenangkan diri dulu....”

“Tolong pak.... Roby harus segera ketemu!”

Pak Polisi bingung menghadapi Ibu, dia mengerti perasaannya. Bagaimana tertekannya orang tua, saat anaknya menghilang secara tiba-tiba.

“Kami akan terus mencari dan menjadikan kasus ini sebagai salah satu kasus serius. Ibu tenang saja!”

Perlahan Ibu bisa menenangkan diri, percaya kepada pihak berwajib untuk mengurus kasus menghilangnya Roby. Pak Budi merasakan suasana hati istrinya mulai membaik. Keluar dari tekanan alamiah, yang dirasakan sebagai seorang ibu. Pak Budi sebenarnya juga merasa tertekan, tapi dia bisa mengontrol diri. Memagar jiwanya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.

Hari ke hari berjalan sangat cepat. Tidak juga ada titik terang dari kasus menghilangnya Roby di kamar sepuluh. Lima tahun berselang, kamar itu masih tersegel garis polisi berwarna kuning. Dinding berwarna hijau mulai memudar. Pintu kayu yang tebal, kini rapuh dimakan rayap. Engsel pintu juga sudah copot lengkap dengan gagangnya. Lima tahun tidak tersentuh, dibiarkan kosong. Mahasiswa yang tinggal di kamar lain juga tidak peduli. Mereka enggan mendekat, apalagi masuk ke kamar angker itu. Polisi juga sudah menyerah, keluarga Roby ikhlas dengan tragedi yang menimpa.

Ketika malam minggu, tepat jam 19.30 saat penghuni kos bersiap untuk menikmati dunia. Seorang pemuda bernama Joko tiba-tiba muncul dari balik pintu. Berjalan menuju sudut ruang, berhenti tepat di depan kamar nomor 10 yang angker. Dipandangnya beberapa menit, Joko penasaran dengan kamar itu. Sekalipun sudah sering diperingatkan, tapi dia tidak peduli.

Joko berteman dengan seorang pemuda penghuni kos nomor 9 bernama Zulkifli. Kamarnya bersebelahan dengan kamar angker. Setiap malam menurut pengakuan Zulkifli, dia mendengar suara aneh dari kamar sepuluh. Mengerikan! Apalagi bila malam jumat tiba. Dia tidak bisa tidur semalaman suntuk. Zulkifli tidak betah, itulah mengapa dia sering mengundang Joko untuk menginap di kamarnya. Joko tinggal tidak jauh dari kos Zulkifli, dia seorang pria pemberani. Pecinta hal yang bersangkutan dengan mistis. Saat malam Jumat, dia sengaja tidak tidur menikmati suara aneh dari kamar sepuluh.

Zulkifli bertambah takut, Joko sering berpura-pura kesurupan. Syok terapi setiap malam Jumat, Zulkifli sudah kukuh tahun depan dia harus pindah kos. Enggan menginjakkan kaki di tempat itu. Meninggalkan suara-suara aneh yang selalu mengganggu tidur. Menangkan diri, bahkan kalau perlu menjalani terapi untuk menenangkan pikiran.

Sudah lama Joko terbendung oleh penasaran yang cukup besar. Sekarang kamar itu ada di hadapannya. Tidak ada siapapun di sana, tangannya memegang gagang pintu. Memutar sampai terbuka, tapi sebelumnya tiba-tiba gagang itu patah. Joko kaget, mundur beberapa langkah.

“Pintu ini sudah sangat rapuh”

Rayap tiba-tiba keluar dari selipan pintu. Joko memukul-mukul pintu, akhirnya terbuka dengan sendiri. Selangkah lagi, Joko bisa melihat sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Misteri yang selama ini dia terka. Sebentar lagi akan terkuak.

Dia mengintip dari celah-celah pintu. Gelap, tanpa ada sedikit cahaya. Joko hanya bisa melihat dinding hijau pudar dengan tulisan "Roby" cukup besar. Tapi saat pintu itu terbuka habis, tiba-tiba cahaya besar menerpa matanya. Joko menjadi silau, dia menutup mata dengan sikut. Tubuhnya seperti terhisap ke lobang waktu yang besar. Melayang dan terhempas pada garis cahaya yang panas. Joko tidak bisa melihat apapun, cahaya itu memaksanya untuk terpejam.

Sadar ada yang tidak beres, Joko menerawang dengan jemari. Berusaha mencari pintu keluar, tapi gagal. Di belakangnya hanya ada dinding yang dihias sarang laba-laba. Joko memukul bahkan mendobrak, tapi tidak membuahkan hasil apapun. Cahaya itu mendadak redup, akhirnya hilang secara tiba-tiba. Joko membuka mata perlahan, tubuhnya gemetar sebab suara yang pernah dia dengar kini semakin besar. Dia yakin, posisinya sangat dekat.

“Ya ampun....”

Joko berteriak keras setelah kedua matanya terbuka lebar. Dia melompat ke belakang dan terbentur dinding. Joko terkejut melihat seekor tikus sebesar gajah. Joko berada di negeri asing, penghuninya hanya tikus-tikus raksasa yang bisa berbicara. Sungguh mengerikan! Padahal alam sekitar cukup indah. Bayangan gunung tertutup awan, hutan yang masih asri dan laut lepas dengan ombak tenang. Negeri itu kaya raya, tapi kenapa penghuninya hanya segerombolan tikus? Joko memukul wajah, berharap itu hanyalah mimpi. Sekuat apapun Joko memukul, tetap saja itu nyata.

Ternyata suara yang selama ini dia dengar berasal dari sana. Negeri ajaib dan kaya raya yang berada di balik sel kamar. Padahal cover-nya tampak lusuh dan mengerikan. Penjara kamar kos nomor sepuluh yang katanya angker, ternyata menyimpan sesuatu yang mengejutkan. Di baliknya terkubur negeri tahayul yang begitu asri. Menyimpan sumber makanan yang berlimpah. Gunungnya saja menimbun emas batangan. Pantas saja tikus-tikusnya berbadan besar. Dibiarkan makan sesuka hati, tanpa ada pengawalan dari manusia. Tikus-tikus menjadi makmur, sebab tidak ada yang berani menghentikan.

Lama Joko bertanya dalam diri, “Kenapa bisa?” tiba-tiba dia sadar satu hal. Seekor tikus raksasa mengejarnya. Joko lari terpingkal-pingkal, mengikuti jalan tanah yang sedikit becek. Menerobos belantara hutan, melewati kebun pisang. Joko berhenti sejenak, melompat tinggi dan mengambil beberapa pisang yang sudah masak. Lalu kembali lari secepatnya, tikus itu berlari lambat. Perutnya buncit karena banyak makan. Jadi Joko bisa menyelamatkan diri, masuk ke sebuah gua. Bersembunyi di balik batu besar.

Gua itu sangat gelap, Joko tidak bisa melihat apapun. Dia tidak mendengar suara dari tikus besar. Joko yakin tikus itu pasti sudah tidak lagi mengejarnya. Perlahan dia mengintip, tapi ada sesuatu yang merasa lengket di kakinya.

“Apa ini?” Joko melihat telapak kaki, dia menginjak kotoran tikus.

“Ishh....” Mukanya langsung berubah jijik.

Joko mendekat ke dinding gua, menempelkan kakinya agar kotoran itu hilang. Tapi tanah-tanah dinding itu ternyata sudah dikuasai oleh semut-semut api yang tiba-tiba keluar. Menyerang Joko yang mulai ketakutan. Tepat pada waktunya, Joko ditarik oleh seorang pria.

“Ikuti aku!”

Tanpa ada jawaban, Joko langsung berlari mengikuti langkah pria itu. Keluar dari gua, masuk ke dalam belantara yang lebat. Menyebrangi sungai, melewati rawa-rawa dan akhirnya tiba di dataran tinggi. Mereka menaiki tebing menggunakan seutas tali tambang yang besar. Pria itu sangat lincah, tampaknya dia seorang pengembara yang tersesat. Joko kewalahan memanjat, tiba-tiba tali itu tertarik. Joko panik, setelah melihat ke atas dia merasa lega. Pria itu menarik tali, agar Joko tidak kewalahan.

Mereka berada di pertengahan gunung. Di atas tebing yang tinggi. Dari sana Pemandangan negeri yang luar biasa terpampang nyata dan jelas. Segala sumber daya yang melimpah terlihat sangat kecil. Gunung tertinggi di negeri ajaib, memberikan gambaran begitu kayanya negeri itu. Di atas tebing ada sebuah gubuk kecil terbuat dari daun-daun. Dindingnya hanya ditopang oleh kayu dan lantainya beralas tanah. Di sanalah pria itu tinggal seorang diri. Memanfaatkan alam sebagai penopang hidup.

“Siapa namamu?” Joko duduk menggigil di atas kursi kayu. Pria itu menyalakan tungku, dan api unggun melelehkan suasana malam yang dingin.

“Namaku Roby.”

“Apa?” Joko terpental ke belakang, jatuh dari kursi.

“Kenapa? Kok kaget.” Roby mendekat dan menolong Joko yang terjatuh.

“Kau masih hidup?”

“Iya aku sehat... bahkan bahagia!”

“Kau menghilang lima tahun yang lalu.”

“Aku..... sebenarnya menghilangkan diri, negeri ini perlu dirombak. Aku bersedia meski seorang diri.”

“Keluargamu khawatir! Lima tahun sudah mereka menahan sedih.”

Roby menatap Joko dengan penuh tanda tanya “Bagaimana keadaan mereka?”

“Tidak tahu, sepertinya baik-baik saja.”

“Syukurlah.... Saat aku tinggal di kamar nomor sepuluh. Setiap malam aku mendengar suara-suara aneh. Aku penasaran, hingga pada suatu malam aku sengaja tidak tidur demi mencari sumber suara itu. Sebuah cahaya besar mengantarku hingga kemari....”

“Tunggu!” Joko memotong pembicaraan “Cahaya besar?”

“Iya... Cahaya itu yang menuntunku hingga kemari dan tak dapat kembali.”

Joko kaget setengah mati. Napasnya membara dan jantungnya berdetak sangat kencang.

“Jadi......” Perkataannya mulai terbata “Tidak ada jalan keluar dari sini?”

Roby menggelengkan kepala dan meminum secangkir teh hangat hasil kebunnya selama lima tahun di atas gunung.

“Matilah aku.....!”

"Tidak mati kok, kita bisa berkebun, mencari ikan dan memanfaatkan alam untuk kelangsungan hidup.” Roby tersenyum seperti tanpa beban.

Tapi Joko hanya memandangnya hampa. Bagaimana mungkin Roby bisa hidup tenang seorang diri selama lima tahun di negeri asing.

“Awalnya aku juga merasa khawatir sepertimu. Tapi pengalaman membuatku terbiasa.” Kata itu keluar dengan mulus tanpa ada gangguan.

“Aku bisa gila! Pokoknya kita harus cari jalan keluar.”

“Tidak ada jalan keluar, kita harus memberantas tikus-tikus besar itu. Agar dia tidak memakan semua sumber daya alam dan kita mati kelaparan.”

“Pasti ada! Aku yakin....”

“Tidak ada, yang aku tahu tidak jauh dari sini ada sebuah istana, di dalamnya tinggal raja tikus.”

“Apakah di sana ada jalan keluar?”

“Aku tidak tahu! Tapi apa salahnya kita coba cari ke sana.”

Joko menghela napas, dia seperti putus asa “Kita bisa mati dihimpit tikus-tikus itu!"

“Tidak! Tikus itu cuma badannya saja yang besar, tapi otaknya kecil. Dia banyak makan, tapi tidak banyak bergerak.”

“Lalu, apakah penting bagiku untuk memusnahkan tikus-tikus itu? Inikan negeri asing, negeri yang bukan menjadi kewajibanku untuk membela. Biarkan saja!”

“Kita harus peduli! Tidak ada siapapun di sini kecuali kita. Sekalipun negeri ini sangat asing, tapi kita bisa menyelamatkannya untuk penduduk aslinya kelak. Ini minumlah dulu!” Roby memberikan secangkir teh hangat pada Joko untuk melelehkan dingin yang menyengat “Setelah itu barulah kita cari jalan untuk kembali.”

“Bagaimana kalau tidak ada jalan?”

“Artinya kitalah penghuni pertama dan kedua di negeri ini!”

“Ya ampun....”

Joko menggelengkan kepala tanda tidak setuju, lalu meminum teh hangat. Tidak ada yang bisa dilakukannya, Roby lebih tahu medan yang mereka tempuh. Kabur darinya sama saja bunuh diri. Joko pendatang baru, untuk bermain laga di negeri asing. Satu-satunya cara hanyalah tidur menunggu mentari terbit dan malam menghilang ditelan waktu.

Mereka mengendap untuk melewati hamparan sawah. Sebab sawah sudah dikuasai oleh tikus-tikus raksasa. Mereka memakan padi-padi yang mulai menguning. Tapi, siapa yang menanam padi? Bukankah tidak ada penduduk satupun. Menurut pemaparan Roby, semua kekayaan alam di negeri itu tumbuh secara alami. Tidak ada campur tangan manusia. Apakah bisa? Namanya juga negeri ajaib, sesuatu yang dianggap mustahil akan menjadi biasa saja.

Joko tersandung, jatuh ke dalam lumpur di pinggir sawah. Tikus-tikus mencium bau mereka.

“Gawat!”

Roby menjulurkan tangan dan menarik Joko. Tikus itu mengejar, mereka berlari menyelamatkan diri. Melewati hamparan sawah yang luas. Tiba-tiba dari depan mereka, tikus-tikus yang lain sudah mengepung.

“Ternyata mereka cukup pintar!”

Joko dan Roby terjebak. Tikus-tikus itu mengepung mereka. Perlahan mulai mendekat, tubuh tikus yang besar siap menimpa Joko dan Roby.

“Mereka ini apa?”

Joko heran, sebenarnya tikus ini binatang biasa atau siluman.

“Binatang!”

“oh...”

Joko mengambil keju raksasa dari dalam tasnya, melempar ke tengah sawah. Tikus-tikus tergoda, berebutan untuk melahap keju raksasa yang dilempar Joko.

“Dari mana kau dapat keju?”

“Alam!”

Tanpa ada pertanyaan lagi, mereka pergi menjauh dari tikus-tikus itu.

“Ternyata alam menyimpan kekayaan yang luar biasa.”

Joko mulai kagum dengan negeri itu. Dia bahkan tersenyum manis kepada Roby. Melewati setapak tanah yang becek, serta gerimis yang mulai turun. Mereka tiba di sebuah gerbang besar. Ada tulisan raksasa di atasnya ‘Raja Tikus’ begitulah tulisan itu terpampang besar. Joko sampai terkagum, dia menelan ludah.

“Seberapa besar rajanya?”

“Tidak begitu besar!”

Ketika mereka masuk, mengendap hingga ke altar. Barulah Joko tidak bisa berucap banyak.

“Ya ampun...”

Kagumnya pilu, melihat raja tikus berukuran Dinosaurus.

“Ini.... sangat besar!”

“Anggap saja kecil!” Roby menangkan Joko.

Aku mau keluar... Aku tidak sanggup menghadapi tikus sebesar ini.”

“Jangan....! Kita sudah sejauh ini, meskipun besar dia tetap saja binatang.”

“Siapa dia?”

Joko menunjuk ke arah seorang wanita cantik dan seksi yang sedang mengipas raja Tikus yang terlelap.

“Seorang wanita!”

“Sungguhan?”

Joko merasa aneh, kok bisa Raja Tikus dilayani oleh seorang wanita yang sangat cantik.

“Iya, dia pengawal setia Raja Tikus. Wanita cantik dan seksi.”

“Ternyata tikus itu genit juga, dasar binatang! Enak betul jadinya. Makan banyak, suka maling dan dilayani wanita cantik. Pantas saja tikus-tikus itu merasa nyaman di penjara kamar nomor sepuluh”

“Sssttt.....!” Roby menutup mulut Joko “Jangan berisik! Nanti penyamaran kita ketahuan.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Begini..... kita harus...” Tiba-tiba istana itu berguncang.

“Ada apa ini?”

Joko dan Roby kaget. Apakah terjadi gempa bumi? Ternyata tidak, dari balik pintu istana yang besar. Ribuan tikus berbondong masuk ke istana. Mereka sudah mencium keberadaan Joko dan Roby.

“Rob, apakah kita satu pemikiran!” Joko kembali menelan ludahnya yang pilu.

“Iya sepertinya begitu.”

“Jadi apa rencanamu?”

“Lari......!”

Mereka berlari cepat, Raja Tikuspun terbangun. Ribuan tikus mengejar mereka. Mencari Joko dan Roby hingga dapat. Sebab keberadaan mereka berdua, akan merusak populasi tikus yang berkuasa di negeri itu. Joko dan Roby tiba di sebuah ruang besar tanpa ada properti sedikitpun. Pintu yang mereka kunci menggunakan kayu, tiba-tiba jebol didobrak ribuan tikus. Mereka tidak bisa berlari, terjebak di ruangan itu. Tersudut dan punggung mereka menempel di dinding. Tikus-tikus perlahan mendekat, mereka semakin mendekati ajal. Tidak ada cara lain, dobrak! Mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk mendobrak dinding-dinding besar itu. Ruangan itu bergoyang, tiba-tiba saja kekuatan dahsyat hadir dalam tubuh Joko dan Roby. Hingga saat dobrakan terakhir dinding itu jebol, mereka terpental keluar.

Tubuh mereka tersungkur, Joko bangkit dan memgucek matanya yang kelilipan. Joko tercengan dan memanggil Roby.

“Rob.... Rob....”

“Ada apa?”

“Lihat itu!”

Mereka melihat banyak warga mengkerubuni mereka. Begitu pula dengan mahasiswa dan polisi. Mereka semua terkejut ketika melihat Roby. Bagaimana bisa Roby menghilang di kamar kosnya selama lima tahun, lalu kembali lagi. Setelah itu mereka menatap aneh ke arah Joko. Polisi tidak bisa berkata banyak, mereka memberikan air putih kepada Joko dan Roby.

“Syukurlah! Akhirnya kita kembali lagi ke dunia nyata. Negeriku tercinta yang tidak ada tikus-tikus raksasa. Aku merasa aman!”

Tapi tidak dengan Roby, dia merasa stres berat.

“Aku mau kembali ke negeri itu, membasmi tikus-tikus raksasa!”

Roby seperti orang gila, dia berlarian di kamar nomor sepuluh yang angker. Polisi berusaha menenangkan, tapi gagal.

“Kenapa dia?” Seorang polisi bertanya pada Joko.

“Entahlah! Dia butuh perawatan, jiwanya terganggu.”

Setelah itu Roby langsung dilarikan ke rumah sakit jiwa. Perjalanannya selama lima tahun dalam membasmi hama tikus di negeri ajaib. Dianggap gila oleh khalayak. Banyak yang tidak percaya dengan cerita Roby dan tikus raksasa. Tapi beberapa orang yang berpandangan kritis menganggapnya nyata. Mereka sering mengkaji cerita Roby dan menggali fakta. Meskipun selalu gagal, sebab tikus-tikus itu bersembunyi di balik sel kamar nomor sepuluh yang angker. Tidak semua orang bisa melihat. Sedangkan Joko memilih untuk bungkam dan menikmati hidupnya yang hambar.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Komunitas Gemulun Indonesia


Penulis: Nafry Dwi Boy
Editor: Herri Novealdi



comments