Selasa, 30 November 2021

Harga TBS di Jambi Kembali Alami Penurunan

Jumat, 21 September 2018 | 10:29:20 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAMBI - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi untuk periode 21-27 September 2018, kembali mengalami penurunan menjadi Rp 1.487,05.

Kabid Pengolahan Standarisasi dan Pemasaran Hasil Perkebunan Provinsi Jambi, Putri Rainun mengatakan, memang saat ini permintaan pasar dunia terhadap CPO turun sehungga mempengaruhi harga.

"Permintaan pasar menurun akan tetapi produksi pada petani masih stabil. Karena permintaan turun, tentunya mempengaruhi harga," ujarnya, Kamis (20/9).

Menurutnya, perhitungan harga TBS minggu ini adalah, untuk umur tanam 3 tahun pada periode ini Rp 1.161,04 dan umur tanam 4 tahun Rp 1.239,71. Sedangkan umur tanam 5 tahun Rp 1.296,74.

Lalu, umur tanaman sawit 6 tahun ditetapkan Rp 1.350,92, umur tanam 7 tahun Rp 1.385,01 dan umur taman 8 tahun Rp 1.414,46 serta umur tanam 9 tahun ditetapkan sebesar Rp 1.442,31.

Sedangkan tanaman yang paling baik yaitu 10 sampai 20 tahun dihargai Rp 1.487,05. Sedangkan umur tanam 21 sampai 24 tahun Rp 1.442,49 dan umur tanam 25 tahun Rp 1.376,64.

Indeks yang berlaku adalah indeks K yang ditetapkan pada tanggal 13 September 2018 sebesar 87,85 persen. Periode ini harga rata-rata CPO Rp 6.510, 86 dan harga rata-rata inti sawit ditetapkan Rp 5.086,71.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Roy Asnawi menyebutkan, kalau dari pihak perusahaan, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turun karena daya beli di pasaran ekspor menurun.

Ia mengatakan, TBS kelapa sawit juga saat ini banyak penawaran untuk produksi dan penjualan di pasar lokal stabil, hanya di pasar ekspor mengalami penurunan.

"Karena kita rapat bersama-sama dengan pihak perusahaan, pemerintah dan petani, pihak perusahaan yang memberikan informasi tentang harga penjualan mereka di pasar ekspor. Jika ekspor menurun, maka otomatis disampaikan dalam rapat menurun juga dan berdampak pada harga TBS turun juga," ujarnya.

Dikatakannya lagi, kemungkinan penurunan ini tidak begitu signifikan, karena turunnnya hanya sedikit. Tapi ada indikasi untuk beberapa bulan ke depan, harga cenderung menurun karena daya beli di pasaran ekspor menurun.

"Apa lagi yang terasa dampaknya itu petani swadaya, kalo petani swadaya itu harga beli di bawah Rp 1.000 perkilogram, kalo petani plasma masih di kisaran Rp 1.400. Kalau memang kondisinya demikian, dari segi pendapatan pekebun swadaya menurun, karena harga yang dibawah Rp 1.000," ungkapnya.

Saat ini, kebanyakan petani sawit merupakan petani swadaya dan memperjuangkan agar selisih harga tidak terlalu jauh. "Jika memang kualitas TBS belum sesuai maka disesuaikan saja harga dengan kualitas," katanya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments