Selasa, 25 Februari 2020

Ritual Peradaban Perunggu yang Tersisa di Bumi Seribu Syair (2)


Senin, 24 September 2018 | 16:25:26 WIB


Persiapan Upacara Asyeik, di Kerinci pada tahun 1914,
Persiapan Upacara Asyeik, di Kerinci pada tahun 1914, / sumber foto : Tropens Museum, The Netherlands

Upacara Asyeik suatu bentuk tarian primitif masyarakat Kerinci yang dilakukan pada kesempatan tertentu, yang mengandung unsur kerohanian, ini sangat menarik dalam penampilan sewaktu menari. Tari asyeik ini lebih tepat dikatakan “Upacara ritual asyeik” karena merupakan persembahan dengan menggunakan sesajian, sedangkan mantra yang dilakukan berirama beserta dengan gerak-gerik, dan dilakukan dengan sangat sederhana tapi penuh dengan penghayatan, yang dihubungkan dengan arti mantra yang diucapkan. Sejalan dengan perkembangan zaman dan masuknya Islam ke daerah Kerinci, upacara asyeik ini kemudian berasimilasi dengan kebudayaan Islam, dimana didalam mantra-mantranya dimasukkan pula nama-nama Nabi serta para sahabatnya.

Upacara asyeik beragam maksud dan tujuannya, seperti upacara asyeik minta kesuburan tanah, membuka lahan baru pertanian, selamat panen, minta obat, minta anak (bagi pasangan suami istri yang sudah lama menikah, namun belum dikaruniai anak), upacara asyeik minta ilmu, upacara asyeik tolak bala, upacara asyeik lindung negeri dari timpaan bencana alam.

Untuk melindungi kepunahan upacara ritual asyeik ini, pada tahun enam puluhan oleh seniman suku Kerinci mencoba menggarap tari asyeik ini menjadi seni pertunjukan, tapi hasil yang mereka capai sangat jauh berbeda, meskipun tari tersebut bisa diangkat ke atas pentas tapi ia tetap kehilangan keakraban, karena tarian ini adalah upacara ritual yang bersifat spontan dan tidak bisa dilepaskan dari suasana alam Kerinci.
 Dengan mengambil upacara asyeik yang sangat kuno dan mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang dalam yaitu dengan mengadakan upacara ritual asyeik tolak bala yang meliputi upacara ritual mintak selamat atas berkah alama, (Kesuburan tanah dan agar melimpah ruah hasil panen padi maupun perkebunan), Asyeik secara kosmologi yang didalam mantranya sarat akan petuah dan nasehat untuk menjaga alam semesta dan pendekatan kepada Ketuhanan, hutan tanah dapat selalu memberi kesejahteraan buat umat manusia.

Alur kegiatan upacara ritual Asyeik persiapan sesajian : bunga lima macam, bunga tujuh macam, bunga sembilan macam, pisang dingin, pisang batu, pisang raja, pisang serai, benang berjalin tiga warna, benang berjalin lima warna, benang berjalin tujuh warna, benang berjalin sembilan warna, metas padi biasa (metas=ikatan padi yang akan dituai), beras kunyit (beras kuning), nasi putih, nasi kuning, nasi merah, nasi hitam, ayam, telur ayam, lemang putih (ketan putih yang dimasak dalam ruas bambu), lemang hitam, macam-macam jeruk, air jeruk, manik yang dibuat bentuk tangga, kayu cendana, bunga cina, kemenyan putih, rokok nipah, pinang di belah empat (delapan x lima buah),     keris, kapur sirih, tembakau dua kepal, hati kambing jantan, pecahan kaca.

Penulis: M Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments