Senin, 26 Agustus 2019

Ritual Peradaban Perunggu yang Tersisa di Bumi Seribu Syair (2)


Senin, 24 September 2018 | 16:25:26 WIB


Persiapan Upacara Asyeik, di Kerinci pada tahun 1914,
Persiapan Upacara Asyeik, di Kerinci pada tahun 1914, / sumber foto : Tropens Museum, The Netherlands

Sesajian yang sudah siap diletakkan diatas rak-rak undakan dilatar belakangi oleh layar hitam yang digantungi manik-manik dan keris. Semua sajian disusun dalam mangkuk –mangkuk porselin putih dari peninggalan dinasti Sung. Alat-alat yang dipergunakan : gong besar, gong kecil, rebana yang besar (dap), rebana yang kecil, Tingkatan pelaksanaannya : pembukaan, tingkat orang jadi, tingkat masuk bumi, tingkat naik tangga, tingkat muji guru.

Pembukaan : Dalam babakan ini Salih (Dukun) bersimpuh menghadap kearah sajian sambil membaca mantra yang berisi puja-puji terhadap roh-roh nenek moyang serta menyatakan maksud diadakannya asyeak tersebut, sambil membaca mantra guru-guru tersebut menabur beras kuning kearah sajian yang ada.

Tingkat orang jadi : Pada babakan ini salah seorang anggota masyarakat didudukkan di tengah arena asyeik,  luasnya lebih kurang 6x6 meter dengan lampu penerangannya obor. Setelah duduk menggelilingi salah satu angota masyarakat yang ditunjuk oleh dukun tadi, dukun mengelilingi sambil membaca mantra, sehingga orang tadi trance (masuknya roh-roh ke dalam tubuh manusia).

Tingkat masuk bumi : Babak ini guru-guru (Dukun) kembali duduk menghadap sesajiian sedangkan orang tadi kembali ke tepi arena. Disini  Salih (Dukun) yang memimpin upacara, dengan mantra dan diiringi irama dari gong dan rebana yang dikuti oleh semua yang hadir. Salih menceritakan tentang kejadian alam, manusia yang diciptakan oleh Tuhan, dan bagaimana Tuhan mengangkat derajat umat manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya diatas muka bumi ini, kemudian menceritakan pula bagaimana naik kepintu langit. Dalam mantra inilah disebut dan salih memberi nasehat untuk menjaga ciptaan Tuhan seperti hutan dan isinya.

Tingkat naik tangga : Pada babakan ini orang tadi diselubungi dengan kain kemudian diasapi dengan kemenyan yang dibakar. Sementara orang tadi diasapi, masyarakat mengelilingi si sakit sambil mengikuti lagu mantra yang dibacakan dukun atau salih.
Kemudian satu-persatu masyarakat trance, ada yang bertingkah seperti harimau, atau bersilat, serta mandi dengan pecahan kaca, namun tidak semua yang hadir ikut trance, biasanya yang trance adalah mereka yang memiliki turunan langsung dengan arwah nenek moyang yang disebut oleh salih dalam mantranya.

Bagi masyarakat yang trance tadi, si salih menanyakan kepada roh-roh nenek moyang yang masuk ke tubuh mereka yang trance, apa salah masyarakat selama ini  dan bagaimana untuk memperbaikinya . Biasanya pada waktu inilah, roh-roh yang masuk ketubuh mereka yang trance tadi mengatakan sebabnya, seperti ada anggota masyarakat yang menebang pohon di hutan, padahal pohon itu tempat bersemayam roh-roh nenek moyang, atau ada yang berburu dan membunuh binatang di hutan sehingga menyebabkan murkanya roh-roh tadi.

Muji Guru  : Pada babakan ini seluruh yang ada disitu kut menari dan membaca bacaan mantra yang berisikan pujian terhadap salih-salih yang terdahulu, sambil berjanji tidak akan menggangu tempat-tempat bersemayamnya roh-roh nenek moyang tadi dan tidak akan mengganggu binatang di hutan.

Pembudayaan : Upacara ritual asyeik dilaksanakan sesuai kebutuhan dan bukan upacara rutin yang dilaksanakan tiap tahunnya seperti upacara lain di Kerinci. Upacara ritual asyeik yang saya maksud bukan upacara ritual yang sudah dikemas dalam bentuk pertunjukan diatas pentas tapi upacara ritual yang sudah-turun temurun, dengan sentuhan alami, tanpa merubah, menambah atau mengurangi, namun dibiarkan utuh apa adanya seperti yang sudah turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang suku Kerinci. Upacara yang hanya dimiliki oleh suku Kerinci dan berhubungan dengan kerohanian serta alam ghaib serta bersifat spontan.


Penulis: M Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments