Selasa, 11 Desember 2018

Kandasnya Revitalisasi Kesultanan Jambi (Bagian 4:Tamat)


Sabtu, 06 Oktober 2018 | 21:52:48 WIB


/

“Hari ini tumbuh dari masa lalu”

(Joeslinar Joesoef)

 

Perlawanan Sultan Baru

Menanggapi tidak adanya rekomendasi mufakat keluarga, Raden Rahman punya pendapat sendiri. Menurutnya, dari dulu negara Jambi bukan dan tidak pernah menjadi kesultanan, melainkan kerajaan yang rajanya bergelar Sultan. Dalam struktur kerajaan, peralihan waris dan hak atas gelar raja (sultan) ditelisik berdasarkan garis keturunan, bukan musyawarah untuk mufakat. Atas dasar ini Raden rahman menolak kompromi dengan pihak turunan Thaha yang lain. Ia berpegang pada silsilah dan putusan mahkamah syari’ah. Raden Rahman juga mengaku memegang surat wasiat yang ditulis oleh Raden Jakfar Kertopati. 

Menurut Raden Rachman (65 thn) dalam keluarga kesultanan dikenal istilah Probowali dan Probosekso. Probowali adalah turunan STS yang memiliki tugas perwalian atas Sultha, ia lah yang menunjuk, melayani, merawat dan memelihara orang yang menjadi pewaris kesulthanan, termasuk didalamnya memilihkan jodoh bagi Sulthan. Probosekso adalah istri dari probowali. Probowali bagi Raden rachman adalah Raden Hasan Basri dan istrinya adalah proboseksonya.

Terkait polemik sosok bernama Bunda Ratu dari Malaysia, Datuk Rahman mengatakan dirinya tidaklah dilantik oleh Bunda ratu, karena bunda ratu tidak memiliki hak untuk melantik Sulthan. Yang benar adalah dirinya dilantik oleh Raden Haji Abdullah, cucu STS dari istri yang kelima yaitu Permaisuri Chalijah. Bunda ratu adalah orang asli Sarolangun yang tinggal di Malaysia namun memiliki kepedulian tinggi dan keinginan menyelamatkan kesultanan, ia membiayai sepenuhnya biaya pelantikan Sultan pada thn 2012 lalu di Hotel Novita Jambi yang menelan biaya lebih dari 200 juta rupiah. 

 

Tentang tim 6 sendiri, Raden Rahman TS mengaku tidak pernah mengetahuinya. RM. Yusuf Kertapati menyayangkan sikap arogan dan tidak kompromi dari Raden Rahman (Guntur). Andai saja Raden Rachman mau menyambangi, berdiskusi atau mendengarkan pendapat sanak keluarga turunan STS yg lain, RM Yusuf kertapati dan keseluruhan keluarga kemungkinan akhirnya akan menunjuk ia sebagai pewaris kesulthanan.

Berbeda dengan Raden rachman yang tidak pernah masuk dalam struktur Lembaga Adat melayu Jambi, RM. Yusuf Kertapati adalah sekretaris LAM Kecamatan Telanaipura dan merupakan anggota LAM Kota Jambi.

 

Raden Ismail Den


Raden Ismail Den (cucu Thaha Saifuddin) Koleksi Sendiri

 

Penelusuran atas silsilah Thaha Saifuddin membawa penulis pada Raden Ismail Den (83 tahun), anak dari Raden Usman, putra Thaha Saifuddin dari istri ke-8 yang bernama Nyimas Sentot. Ini berarti Raden Ismail Den adalah cucu langsung Thaha, sekaligus keturunan Thaha yang masih hidup dan garis darahnya paling dekat dengan Thaha. Raden Ismail Den adalah kakak sepupu Raden Mas Yusuf Kertapati. 

Raden Ismail Den tinggal bersama istri kedua dan anak-anaknya di Sebrang Kota Jambi dalam kemiskinan yang sangat. Sehari-hari, selain dari raskin dan BLSM, Raden Ismail Den menggantungkan hidup dari pemberian anak gadisnya yang bekerja sebagai buruh di Sanggar Batik Halim. Raden Ismail Den rupanya juga orang yang disetujui oleh mayoritas faksi dalam keluarga keturunan Thaha, sekaligus sosok yang dicari oleh tokoh-tokoh adat karena silsilah anak jantan turun ke jantan akan bertemu di diri Ismail Den.

Namun Ismail Den menolak diangkat menjadi Sultan Jambi karena merasa tidak memiliki kapasitas. Ia mengaku hanya pernah mengecap sekolah setingkat SR. Ia juga tidak bisa berbahasa Indonesia dan sehari-hari bercakap dalam bahasa dan dialek Jambi. Jikapun ia diharuskan untuk duduk di kursi kesultanan hanya sebagai simbol, maka ia menginginkan adanya jabatan wakil sultan yang hendaknya diberikan pada putranya sendiri.

Sejalan dengan rekomendasi tim 6, Ismail Den berpendapat orang yang paling tepat menduduki jabatan sultan Jambi adalah Raden Mas Yusuf Kertapati. Ia termasuk tidak menyukai Raden Rahman karena kepribadiannya yang dianggap pongah dan arogan. Raden Rahman juga dinilai ingkar janji karena sampai tulisan ini turun tidak pernah sekalipun raden rahman berkunjung ke tempat Ismail Den dan memberikan bantuan ekonomi yang sangat dibutuhkan keluarganya.

 

Bersitegang Dengan Pemerintah Daerah

Fakta bahwa tidak ada satupun utusan pemerintah provinsi Jambi pada acara penobatan Raden Abdurrahman Thaha Saifuddin menjadi gambaran bahwa Sultan ini tidak mendapat restu dari Gubernur Jambi. 

Menurut Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, pemerintah provinsi tidak berada dalam posisi memihak salah satu faksi. Seluruh keputusan terkait siapa pewaris gelar Sultan diserahkan sepenuhnya pada keluarga, dengan berpegang pada dua prinsip: pertama, penunjukan melalui mufakat dalam musyawarah Kerapatan Adat. Kerapatan adat terdiri dari para pepatih, probowali-proboseso, anak dan cucu terdekat STS. Kedua, memegang norma adat anak jantan turun jantan, yang berarti ahli waris ditisik melalui jalur keturunan laki-laki (patrilineal).

Dapat dilihat bahwa dukungan para tokoh adat Jambi lebih banyak ditujukan pada Raden Mas Yusuf Kertapati. Yusuf dianggap orang yang paling dekat secara kedarahan dengan Thaha. selain itu, Yusuf adalah juga tokoh adat yang menjabat sebagai sekretaris Lembaga Adat Kecamatan Telanaipura, kota Jambi. Sebaliknya, Raden Rahman yang tidak pernah masuk dalam struktur kepengurusan lembaga adat dinilai tidak pernah punya andil dalam urusan peradatan Jambi.

Mengejutkan, sekitar bulan Agustus 2013, datang utusan yang mengaku dari HBA, yaitu ketua Laskar Melayu Jambi (LMJ) bernama Arpian yang meminta kembali kepada RM. Yusuf Kertapati untuk sekali lagi mengumpulkan keluarga STS dan berembuk mengangkat Sulthan yang dimufakati oleh semuanya. HBA kabarnya menjanjikan untuk membangun Istana Sulthan di tanah pilih, selain seluruh fasilitas lain yang layak didapatkan oleh Sulthan. 

 

Sendiri Menjalin Jejaring

Di Indonesia, beberapa kesultanan yang masih berdiri memiliki organisasi sebagai wadah perkumpulan mereka. Beberapa diantaranya adalah Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia (AKKI), Yayasan Raja dan Sultan Nusantara (Yarasultra), Forum Informasi dan Komunikasi Keraton Nusantara (FIKKN), dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN). Keempat organisasi ini mewadahi setidaknya sekitar 150 raja dan sultan se-Indonesia. 

Setiap organisasi diatas memiliki agenda pertemuan nasional setidaknya satu tahun sekali. Sekalipun tidak diukung pemerintah daerah, Sultan Jambi, Raden Abdulrahman Thaha Saifuddin (RATS) tercatat dalam keanggotaan AKKI. RATS juga kerap diundang hadir dalam acara yang diadakan organisasi lainnya. Bagi Organisasi-organisasi ini, undangan mewakili Kesulthanan jambi ditujukan pada RATS. Ini sekaligus merupakan pengakuan dari organisasi kerajaan dan kesultanan se_Indonesia, bahwa Sultan Jambi sekarang adalah RATS. 

Ada sebuah polarisasi yang menyamakan kondisi kekinian beberapa kesulthanan Nusantara, yaitu perpecahan internal keluarga atas penunjukan ahli waris. Selain di Jambi, hal demikian juga menimpa Kesultanan Deli di Sumatera Utara, Kesultanan Palembang di Sumatera Selatan, Kesultanan Indrapura Siak, di Riau dan Keraton Kasununan Surakarta.

 

Historia Docet

Salah satu karakteristik kerajaan-kerajaan Melayu (termasuk kesultanan Jambi) adalah rajanya tidak pernah benar-benar memegang kuasa yang solid. Mayoritas Sultan digambarkan tidak memiliki kekuasaan yang utuh. Sultan adalah pribadi yang lemah dan cenderung menghindari konfrontasi. Hal ini dibayangi pula dengan kepentingan politis kolonial yang memainkan politik pecah belah dengan mengangkat sultan bayangan ketika sultan definitif tidak mau tunduk pada keinginan kolonial. Kondisi ini pun menimbulkan apa yang dalam sejarah Jambi dikenal dengan dikotomi hulu-hilir.

Pada masa revolusi kemerdekaan, perpecahan kembali berulang. Gerakan Inu kertapati yang didukung oleh para tokoh tua menuntut pemisahan Jambi dari Sumatera Tengah dan menjadi kesultanan tersendiri, mendapat perlawanan dari kaum muda yang pro Republik.  

Paska reformasi, tatanan lama yang mendapat ruang untuk kembali hadir dalam kontestasi kehidupan publik, juga karam dalam konteks Kesultanan Jambi. Ia memang hadir, namun tanpa pengakuan orang banyak, ahli waris maupun pemerintah daerah sebagai mitra, ia nyaris serupa tak adanya. Peran  atas nama kesultanan terutama dalam memperjuangkan harkat hidup yang lebih baik bagi 1000 lebih ahli waris Thaha yang hidup dalam kemiskinan, tak dapat dilakukan.

Adalah fakta bahwa sekitar 85 persen keturunan STS merupakan penerima BLSM dan raskin (beras miskin). Mereka hidup dalam kesusahan ekonomi, yang menurut Sultan Jambi yang baru, antara lain disebabkan perlakuan diskriminatif dari dua gubernur sebelumnya, yaitu Maschun Sofwan dan Abdurrahman Sayoeti. Tidak jelas apa yang menjadi penyebab perlakuan diskriminatif ini. 

Namun, pernyataan ini dibantah tegas oleh Drs.Djunaedi T. Noor dan Datuk Sulaiman Hasan. Kedua tokoh adat Jambi ini mengatakan bahwa realitas kemiskinan yang menggigit mayoritas keluarga pewaris trah STS disebabkan faktor internal yaitu tingkat sekolah yang relatif rendah (hanya sampai SLTA), sifat pemalas, dan kebanyakan dari mereka pengangguran karena merasa sombong sebagai turunan Sultan yang tidak boleh bekerja di sektor kasar.

Sudah miskin, mudah dipecah pula mereka kedalam beberapa faksi yang masing-masing mengklaim sebagai ahli waris sah tahta kesultanan. Ruang mufakat yang disediakan, buyar tanpa hasil memadai. Dendam demi dendam menjadi latar karamnya program revitalisasi. Dendam kemiskinan menahun paska pengambilalihan tanah adat STS dalam kuasa negara, polemik kemuliaan nasab yang satu diatas yang lain, ego cucu diatas cicit, dan kehendak ingin diakui sebagai ras yang mulia yang tak boleh bersentuhan dengan sektor informal yang kasar, akhirnya tak tak mendatangkan apapun selain kesia-siaan. 

Sejarah Kesultanan Jambi sejak berdirinya telah ditulis dalam tegangan konflik internal yang turun naik. Sayang para ahli waris nampaknya tak mengambil yang baik dari narasi sejarah ini. Jika masa lalu tak jadi pijakan, bagaimana kita hendak memenangkan masa kini dan yang mendatang?. Historia Docet!. (Sejarah memberi pelajaran/tamat)


Penulis: Ratna Dewi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments