Sabtu, 15 Desember 2018

Tunakarya Terdidik Semakin Meluap


Selasa, 09 Oktober 2018 | 13:40:29 WIB


/

PADA tahun 2017 dari data statistik pendidikan tinggi tercatat lebih 6.924.511 mahasiswa tercatat melakukan studi di perguruan tinggi di Indonesia.

Jumlah ini melebihi jumlah warga Singapura yang mencapai 5.747.886 jiwa. Dengan kata lain 21 persen lebih banyak jumlah mahasiswa belajar di pendidikan tinggi di seluruh Indonesia. Seharusnya dengan begitu banyak calon sarjana yang melebihi warga Singapura dapat memberikan kemajuan pada negara ini lebih signifikan dibandingkan dengan warga Singapura. Ini karena mahasiswalah yang akan meneruskan estafet perjuangan.

Kontribusi mahasiswa bagi negara merupakan sebuah keharusan yang wajib dilakukan. Ini disebabkan karena mereka adalah kaum terdidik yang mengemban titel sarjana. Mereka merupakan mahasiswa yang telah menyelesaikan penelitian yang disebut skripsi. Sehingga diharapkan ke depan mereka bisa menjadi orang yang membanggakan di berbagai sektor, mulai dari politisi, pengusaha, maupun peneliti.

Sementara di sisi lain faktanya banyak mahasiswa yang telah menyelesaikan proses studinya di perguruan tinggi justru menyandang status tunakarya atau pengangguran. Kondisi ini tentu menjadi pembicaraan sering kita dengar di telinga masyarakat.

Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan negara maju seperti Jepang yang memiliki negara relatif kecil dibanding Indonesia. Jepang memiliki sumber daya alam lebih sedikit dibandingkan Indonesia, tapi bisa menghasilkan kualitas sarjana terbaik di dunia.

Menurut  hasil laporan Economic Cooperation  and  Development (OECD) dalam laporannya yang berjudul “OECD’s Education at a glance” bahwasanya Jepang berhasil menduduki posisi perrtama sebagai negara penghasil sarjana dengan penghasil kelulusan terbaik.

Belajar dari negara Jepang kita sebagai neagara yang kaya akan sumber daya  alam dan sumber daya manusianya harus bisa untuk bersaing dalam meningkatkan kualitas mahasiswa pada saat sekarang ini.

Dalam pasal 13 ayat 2  UU NO 12  Tahun 2012  tentang pendidikan perguruan tinggi diatur bahwa mahasiswa secara aktif mengembangkan potensinya dengan melakukan pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, dan atau penguasaan, pengembangan, dan pengamalan suatu cabang ilmu pengetahuan dan atau teknologi untuk menjadi iluwan, intelektual, praktisi, dan atau profesional yang berbudaya.

UU NO 12 Tahun  2012 pada pasal  13 ayat 2 sebenarnya memberikan sebuah gambaran kepada mahasiswa untuk dapat mengembangkan potensi dan keahlian mereka dalam bidangnya masing-masing. Sehingga dapat memberikan keuntungan bagi mereka untuk memiliki keahlian khususnya dalam bidang penelitian dan penalaran.

Perguruan tnggi memang menekankan mahasiswanya untuk bisa melakukan penelitian dengan harapan mereka dapat menjadi para penemu yang dapat memberikan sebuah temuan yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

Maka dari itu dengan mengembangkan potensi dan keahlian, setidaknya dapat memberikan sebuah kualitas bagi mereka untuk tidak menjadi tunakarya. Ini karena adanya sebuah keahlian para sarjana yang telah menyelesaikan proses belajarnya.                

Pengembangan kemapuan pada mahasiswa merupakan sebuah cara untuk menjadikan sebush keahlian bagi mereka untuk dapat bersaing mencari pengalaman pekerjaan baik di  institusi pemerintahan maupun  instansi swasta. Hal  itu sejalan dengan apa yang kita rasakan pada saat ini dimana para mahasiswa lulusan kampus dalam negeri cenderung kalah dengan para pekerja yang lulusan luar negeri.

Dari beberapa pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa rakyat dan pemerintah harus bisa saling mendukung dan mensupport apa yang dijalankan dalam setiap program kerjanya yang memang berjalan dan sesuai dengan cita-cita dan tujuan  negara kita.

Contoh solusinya seperti pembuatan pelatihan kewirausahaan, pembuatan UMKM di setiap desa yang dikelola masyarakat. Sehingga masyarakat ataupun para sarjana yang telah menyelesaikan studinya mendapatkan pekerjaan.

Suatu bangsa tanpa adanya sumber daya manusia yang mempuni maka tidak akan dapat dikelola dengan baik sumberdaya alamnya. Oleh sebab itu rakyat dan pemerintah wajib saling bekerjasama, karena suatu negara tanpa ahli yang berkompeten maka tidak akan bisa digerakkan.

Para mahasiswa mesti lebih ikut aktif lagi secara intensif untuk mengikuti pola pendidikan yang telah diterapkan. Banyaknya para mahasiswa yang kurang begitu berkualitas dan berkeahlian khusus disebabkan kurangnya minat para mahasiswa untuk ikut dalam program yang mendukung mereka untuk mengembangkan potensinya.


*) Penulis adalah mahasiswa  Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Fisip Unja


Penulis: Fathul Yasin
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments