Selasa, 12 November 2019

Era Milenial dan Tantangan Toleransi


Selasa, 16 Oktober 2018 | 14:13:19 WIB


/

Beri aku 10 pemuda,niscaya akan ku guncang dunia.

Bung Karno

KESADARAN Bung Karno terhadap potensi pemuda ini seakan menggambarkan bagaimana  dasyatnya pemuda sebagai agen perubahan. Bagaimana tidak, sumpah pemuda adalah salah satu bukti nyata dari the power of pemuda yang dapat kita percayai bahwa pemuda mampu dan mempunyai kekuatan untuk memulai sebuah  perubahan.

Berbicara terkait era milenial, milenials merupakan istilah populer yang menggantikan istilah dari  Generari Y (GenY) yaitu generasi yang lahir setelah generasi X atau yang sering kita sebut ABG (Anak Baru Gede). Menariknya generasi yang satu ini selalu dianggap spesial dan berbeda dari generasi yang lain atau sebelumnya.

Kelahiran mereka selalu dikaitkan dengan teknologi. Mereka lahir di saat kecanggihan tenologi diperkenalkan dan ini membuat generasi ini menjadi perbicangan yang hangat di kalangan masyarakat Mulai dari segi pendidikan, moral, budaya, dan cara mereka bersosialisasi di kalangan masyarakat.

Di negara Indonesia sendiri penduduk yang termasuk generasi milenial berkisar 81 juta penduduk atau sekitar 32 persen dari total penduduk indonesia. Namun bukan jumlah kaum milenialnya yang perlu kita bahas saat ini akan tetapi apakah mereka mampu membawa perubahan untuk Indonesia? Apakah mereka siap membawa dan membangun serta meneruskan untuk  memimpin bangsa dan negara kita cintai ini? Dan apakah mereka mampu menyatukan keberagaman yang ada di negeri ini dengan sikap toleransi yang semakin hari semakin hilang di tengah masyarakat kita? Inilah merupakan tantangan  terberat bagi generasi milenial indonesia saat ini.

Di era saat ini dimana dunia bergerak tanpa batas membuat generasi milenial menjadi generasi yang sangat mahir menggunakan teknologi dan sarana apapun dibanding generasi sebelumnya yang membuat mereka seakan menjadi primadona termasuk dalam media sosial.

Perkembangan kehidupan membuat pemuda menjadi tidak akrab terhadap lingkungan yang mana melalui teknologi manusia jaman sekarang tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain. Sikap individualis menjadi sangat tinggi di kalangan masyarakat sekarang ini. Anggapan mampu hidup sendiri atau hanya bergabung dengan kaum sendiri membuat jiwa atau sikap toleransi masyarakat menjadi sangat rendah.

Di tengah gejolak konflik yang terjadi saat ini, inilah yang menjadi tugas penting bagi kaum milenial Indonesia, yaitu bagaimana menumbuhkembangkan jiwa nasionalisme di kalangan masyarakat agar sikap toleransi antar masyarakat kembali tumbuh.

Kehadiran teknologi membuat kita menghadapi perbedaan yang luar biasa namun berjiwa toleransi yang tinggi merupakan rumus ampuh memecahkan persoalan keberbedaan yang terjadi. Toleransi bukan hanya tentang mengetahui perbedaan namun suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau individu dalam masyarakat atau lingkungan lainnya.

Ini menjadi sebuah pembelajaran yang sangat mendalam bagi kita dalam menghargai perbedaan ras  atau kultur yang berbeda-beda yang mana saat ini kerap saling berbenturan satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan saling mengedepankan identitas masing-masing, ibarat minyak dan air di dalam suatu wadah seakan bersama namun tidak saling melebur menjadi satu.

Sebagai contoh kasus yakni pada Maret lalu kita dibuat heboh oleh seorang oknum mahasiswa yang diduga melakukan penistaan agama. Jelas ini merupakan suatu kasus karena rendahnya jiwa toleransi pada jiwa muda saat ini. Tentu penulis berharap itu menjadi kasus terakhir agar  rasa kebhinekaan kita tidak semakin pudar dan hilang.

Namun tidak cukup hanya berharap dari kasus ini sebagai kaum muda  apa yang dapat kita perbuat untuk meningkatkan jiwa toleransi kita. Meminjam kalimat Goenawan Mohamad, wartawan senior dan pendiri majalah tempo “bahwa menjadi indonesia adalah menjadi manusia yang bersiap untuk memperbaiki keadaan,tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan  itu tidak pernah sempurna dan ihktiar itu tidak pernah selesai”.

Dalam hal beragama sikap toleransi di masyarakat kita yakni negara Indonesia sebagai negara yang dinilai demokratis sudah sepantasnya  menjadi negara yang tingkat dukungan terhadap  kebebesan dalam beragama adalah tinggi.

Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sikap intoleran terlihat di kalangan masyarakat kita. Ini dibuktikan dengan banyaknya kasus yang terjadi banyak di antara masyarakat kita. Mereka keberatan bertetangga dengan masyarakat lain yang tidak seiman atau sesuku dengan dengan mereka, dan banyak masyarakat yang tidak suka jika dibangun rumah ibadah di lingkungan mereka. Ini merupakan sikap yang perlu disingkirkan dari kalangan masyarakat kita.

Toleransi bukan kewajiban satu kelompok akan tetapi semua orang. Toleransi bukan kewajiwan satu agama tetapi semua umat beragama. Ini menjadi  suatu tantangan bagi kaum milenial Indonesia saat ini. Sebagai kaum milenial yang sekarang berada dalam fase aktif, kreatif, dan kritis soal perkembangan sosial sudah sepatasnya pemuda menjadi inovator dan promoter bangsa ini. Pemuda seharusnya mampu menjadi tampuk perubahan sosial  dan pemuda harusnya jadi penetrasi konflik diantara keberagaman konflik yang terjadi antar umat beragama di negara kita ini.

Era milenial yang trend saat ini dengan kecanggihan teknologi harusnya mampu mengubah tantangan dan peran mereka,jika dulu pemuda berperan sebagai pelopor kemerdekaan. Pemuda era milenial harusnya  bervolusi menjadi agen perubahan dalam menghadapi tantangan toleransi yang mana semakin hari semakin mengikis di kalangan masyarakat kita.

Untuk itu sebagai penulis saya mengajak kaum muda Indonesia sebagai orang yang memiliki peran penting dalam membawa negeri ini dimasa depan  marilah kita membangun interaksi yang baik dan intensif. Mari kita tumbuh kembangkan lagi sikap toleransi di dalam diri dan lingkungan kita agar kebhinekaan terjalin erat kembali dalam diri dan negara yang kita cintai ini.
                                                                                             
*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol Unja


Penulis: Iin Surbakti
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments