Selasa, 22 Oktober 2019

Peran Perempuan dalam Eksekutif, Berbasis Kesetaraan Gender


Senin, 22 Oktober 2018 | 14:37:08 WIB


/

BERBICARA mengenai kesetaraan gender  banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya peran gender terhadap pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif). Tulisan ini membahas tentang  pertama, keterlibatan wanita dalam jabatan politik kedua, perbandingan gaya kepemimpinan. Ada 2 faktor penulis ingin membahas tentang gaya kepemimpinan wanita seperti faktor utama dari tingkat ketelitian dan faktor kedua wanita lebih menggunakan prasaan ketimbang logika.

Sebelum membahas lebih lanjut baiknya kita mengetahui apa itu kesetaraan gender? Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut.

Ketelitian Perempuan

Tuntutan persamaan hak perempuan dalam berbagai bidang kehidupan  sudah menjadi  agenda di zaman sekarang. Prestasi dan keterampilannya dapat dilihat dari peran dan kepemimpinan dalam politik di negara ini. Kekuataan berupa ketegaran, ketegasan dan ketepatan menjadi ciri khas dari seorang perempuan dan syarat kepemimpinannya. Perempuan sebagai seorang pemimpin formal mulanya banyak yang meragukan karena mengigat penampilan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, tetapi keraguan ini dapat diatasi dengan keterampilan dan prestasi yang dapat dicapainya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan kepemimpinan Tri Rismamaharani sebagai Walikota Surabaya, dikenal dengan wanita yang berani, tegas dan pekerja keras, ditanganya kota surabaya menjadi kota besar  yang tertata. Berikut Prestasi Risma yang diakui Dunia: Kota Terbaik Se-Asia Pasifik versi Citynet pada tahun 2012, Penghargaan Kota Berkelanjutan ASEAN, Enviromentally Award 2012. Masuk nominasi 10 wanita paling inspiratif 2013 versi Majalah Forbes pada tahun 2013, Meraih 2 kategori penghargaan tingkat Asia Pasifik dalam ajang FutureGov Award 2013, yakni data center melalui Data Center Pemerintah Kota Surabaya dan Data Inclusion melalui Broadband Learning Center (BLC). Menyingkirkan 800 kota di Asia Pasifik. Taman Bungkul mendapatkan penghargaan pada tahun 2013 The Asian Townscape Award dari PBB, Risma mendapatkan penghargaan Mayor of the Month sebagai wali kota terbaik pada Februari 2014. Mendapatkan penghargaan Socrates Award kategori Future City dari European Business Assembly (EBA) pada April 2014. (Sumber: Radar Surabaya: Jawa Pos Group).

Dari pemaparan diatas mengenain prestasi walikota surabaya Tri Rismamaharani  bisa membuktikan bahwa peran perempuan di pemerintahan dapat diakui oleh dunia, perempuan menjadi salah satu kekuatan yang sangat penting untuk memajukan sistem yang ada dalam dunia pemerintahan baik itu eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Perbandingan Gaya Kemimpinan

Melihat kepemimpinan Sutarmidji sebagai Walikota Pontianak di penghujung 2017 ini misalnya, Sutarmidji berhasil meeraih dua penghargaan sekaligus dalam sepekan. Penghargaan pertama, sebagai Walikota Entrepreneur Award 2017 dalam bidang pelayanan publik kesehatan yang diserahkan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) KIN Innovation and Entrepreneurship Kellog School of Management, Prof Robert Wolcott, dan Founder Philip Kotler sekaligus CEO Marketeers Hermawan Kertajaya. Kedua, penghargaan Seven Media  National Award for Local Government 2017 sebagai Top Mayor of  The Year 2017 yang diserahkan di The Trans Resort Bali, Denpasar.

Berbagai penghargaan bergengsi yang dicapai oleh orang nomor satu dikota pontianak, hal ini menujukan berahasilnya sebuah kepemimpinan yang dijalankan Sutarmidji selama menjabat menjadi walikota, tentunya dengan prestasi tersebut membawa kota pontianak menjadi kota yang sangat luar bisa danbisa diaku oleh dunia hal ini bisa menjadi contoh bagi walikota lainya bagaimana membangun kota yang sesuai harapan masyarakat.

Akan tetapi hal ini tidak dapat dikatakan sebanding dengan prestasi Tri Rismamahasani sebagai walikota surabaya yang berhasil membawa kota surabaya menjadi kota luar biasa dan berkelas, hal ini  membawanya sebagai walikota terbaik ketiga di dunia.

Jika kita melihat hal yang berkembang di masyarakat selama ini bagaimana pandangan terhadap peran laki-laki dan perempuan tidak disetarakan, kenyataannya kita bisa menangkap dari perbandingan diatas bahwasanya terjadi kesenjangan gender ketika membicarakan kepemimpinan antara laki-laki dan perempuan .

Sudah saatnya kita mengubah gagasan kuno masyarakat tentang peran gender di dunia politik dan kepemimpinan. Perempuan akan unggul saat diberi kesempatan untuk bergerak begitu pula dengan laki-laki, terutama ketika mereka juga merasa perlu untuk membuktikan diri dalam peran di bidang masing-masing.

Apa yang diperlukan untuk mengembangkan seorang pemimpin besar, baik laki-laki atau perempuan, adalah kesediaan mereka sendiri untuk mengembangkan diri dalam berbagai poitensi yang  ada, diberikan kesempatan untuk tumbuh melalui tugas pekerjaan yang menantang, dan dukungan melalui pendampingan dan pembinaan.

Harapan penulis kedepannya bagaimana bisa merubah pandangan masyarakat terhadap gender  bahwasanya seorang perempuan juga memiliki hak yang yang sama dengan laki-laki untuk menjadii seorang pemimpin

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jambi


Penulis: Lili Kosera
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments