Minggu, 25 Agustus 2019

Kerinci Tanah Kunci Puncak Andalas (1)


Minggu, 28 Oktober 2018 | 22:00:29 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Untuk memudahkan, saya lampirkan Tembo Kerinci kode TK. 140. Disimpan oleh Depati Muda/Raja Muda Dusun Kemantan Darat. Surat bertulisan Melayu pada kertas, bunyinya: “Surat akan jadi ingatan Kiai Dipati Raja Muda (Pangeran?). Wakatibuhu Paduka Seri Sultan Muhammad Syah Johan Berdaulat Zille illahi fi”l”alam.”

Diperbuat surat ini di Inderapura pada bulan Ramadan 23 sanah 12(4?)6 demikianlah supaya ma”lum segala tuwan  yang melihat surat ini.

Fasal pada menyatakan patuturan dan pakaunan Yang dipertuan Inderapura dengan Kerinci. Bahwa pada awalnya adalah Yang dipertuan Berdarah Putih tetap/ di atas takhta Kerajaan pada negeri Jayapura ujung tanah Pagaruyung, serambi “alam Minangkabau, memerintahkan sekalian daerah Pesisir/ Barat. Pada suatu hari maka datanglah Datuk Permi Diwasa (?) dari Tapan hendak mengadap duli Yang dipertuan. Titah Yang dipertuan: “Hendaklah/ segera sia mari,”. Maka Datuk Permi Diwasa segera datang. Maka ditegur Yang dipertuan: “Apa khabar Datuk Permi Diwasa.” Sembah Permi Diwasa: “Patik/ bertemu dengan seorang manusia muara? utan sebelah Gunung Barisan ini, dia hendak mengadap duli Yang dipertuan. Adalah dia serta/ dengan patik ini, jika jadi……………………..panggil akan dia.

Jika tidak patut pekerjaan patik itu, diharapkan Yang dipertuan empunya kelimpahan memberi ampun di atas batu kepala patik yang bebal ini, supaya segera patik nyehkan dia dari sini.”/ Titah Yang dipertuan: ”Panggil akan dia segera mari” Setelah itu maka orang itupun datang. Titah Yang dipertuan: ”Apa namamu dan dari/ mana kamu dantang?”

Jawabnya: “Aku datang dari sebelah Gunung Barisan nama Kurinci, nama aku Raja Berkilat, dusanak aku Raja Bakawia.”/ Titah Yangdipertuan: ”Adakah negeri di sebelah Gunung Barisan ini?” Jawab Raja Berkilat:”Ada, Yang dipertuan.” Titah Yang dipertuan: ”Kalau begitu, marilah/ kita membuat sumpah setio supaya negeri kamu itu dengan negeri aku ini menjadi satu.” Jawab Raja Berkilat itu: “Tidak aku berani/ membuat sumpah setio dengan Yang dipertuan, karena aku ini suruhan orang. Adalah pertuanan aku, bergelar Raja Muda, pancarannya daripada tuan/ Perpatih S batang dari Minangkabau. Jika Yang dipertuan hendak bersumpah bersetiu, dengan beliau itulah” Maka Raja Berkilatpuan kembali/ ke Kerinci membawa khabar kepada Raja Muda. Maka berpatutanlah mufakat itu.

Maka Raja Berkilatpuan merambah jalan yang semak, mengabung/ batang yang terlintang, merateh onang yang bejarahit dari Kerinci ke Dayapura, di istana Taluk Air Manis. Maka Yang dipertuan naik dari/ Japura, Raja Muda naik dari Kerinci, maka bertemulah di atas Bukit Peninjau Laut. Diperbuatlah balai panjang dua belas, yaitu/ dua belas hasta. Maka dipotonglah kerbau putih tengah dua, yaitu beranak dalam. . Dipertiga Dipertigalah kepeng yang sekepeng, diaru darah kerbau,/ dimaka dagingnya, nyawanya dipersembahkan. Kelu Gunung2 Yang dipertuan, kelu laut2 dupati, sedalam laut setinggi langit, nan tidak/ lapuk di ujan, nan tidak lakang di panas. Siapalah orang yang bersumpah? Raja Muda di Kerinci Tinggi, Dupati Rantau Telang di Kerinci/ Rendah, Siapalah yang mengarang sumpah setio? Ialah Pangeran Kebaru Di bukit, datang dari Jambi. Jadi empatlah orang yang bersumpah:/ Pertama Yangdipertuan Berdarah Putih, kedua Raja Muda, ketiga Dipati Rantau Telang, keempat Pangeran Kebaru Di bukit. Maka jadi/ lah tanah Kerinci tanah menang, yaitu tanah pertemuan raja/ antara Sultan Jambi dengan Sultan Inderapura, Jika mengadapa/ ia ke hilir jadilah beraja ke Jambi. Jika mengadap ia ke barat, ialah ke tanah Inderapura. Akan kepeng sekepeng dipertiga itu:/ sepertiganya ke pesisir balik bukit, sepertiganya ke Kubang Sungai Pagu, sepertiganya tinggal di Kerinci.

Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments