Minggu, 25 Agustus 2019

Kerinci Tanah Kunci Puncak Andalas (1)


Minggu, 28 Oktober 2018 | 22:00:29 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Maka diguntinglah rambut/ Yang dipertuan Berdarah Putih, tinggal di Kerinci ganti batang tubuh Yang dipertuan. Dan keris malila mengaru karang setio/ yaitu Malila Panikam Batu, tatkala Yang dipertuan naik ke tanah daratan di Pulau Langka Puri, dari Gunung Gemala Rampah jadilah keris/ itu lantak tempat bergantung oleh Yang dipertuan, itupun tinggal di Kerinci akan ganti tulang belakang Yang dipertuan:/ sarungnya kembali ke Jaya-pura. Dan mangkuk tempat mengarang setio tinggal di Kerinci akan ganti mulut Yang dipertuan./ Akan Raja Berkilat itu, diberilah karunia akan dia jadi Pemangku Sukarami Hitam, karena tidak mengubah kata/ Raja Muda pertuanannya. Apalah pekerjaannya? Jalan semak dirambah, batang melintang dikabung. Jadi wa”adlah/ perjanjian itu sekiannya hendaklah dipagangkan dan diingatkan anak cucu kami.. Barang siapa mengubahkan/ dikutuk Allah dikutuk Rasulullah dan Kur”an tiga puluh juz, dikutuk karang setio, dimakan biso/ kawi, anak dikandung jadi batu padi ditanam lalang tumbuh. /Kisah Yang dipertuan Sultan Permansyah tatkala di atas kerajaan adalah masa itu sudah pindah dari Taluk Air Manis/ kepada istana Muara Betung dan negeri Jayapura telah bertukar namanya Inderapura.

Masa itu adalah seorang anak raja/dari Inderapura itu bernama Sultan Galumat. Kemudian dari pada kerajaannya telah dibuang oleh rapat menteri/ sebab tidak tertahan oleh isi negeri daripada sangat gagah dan perkasa Sultan Galumat itu di/ kira2kan orang tidak kurang di dalam empat lima hari seorang manusia mati dibunuhnya. Maka Baginda/ itu sampailah ke Kerinci pada sumah Dupati Raja Muda itu dan dipeliharanyalah seperti patut oleh Raja Muda/ itu. Dalam antara itu maka adalah Sultan Galumat berbuat taksir pula, jadi hamillah perempuan yang memelihara makannya. Kemudian maka dinikahnya, adalah sekira-kira sampar mad, maka lahirlah anak daripada perempan itu laki2 yang tiada berlainan dengan/ rupa bapanya, di belakang Sultan Galumat telah turun ke Palembang. Setelah sampai usia anak Sultan Galumat itu kira2 enam/ tahun, maka iapuan berdirilah menjadi raja Muda pula.

Maka tersebut pula ihwal negeri Inderapura itu. Dengan takdir/ Allah ta”ala maka datanglah perang, jadi selisih di antara Yang dipertuan Sultan Permansyah dengan Kempani Walanda. Telah/ sampailah tiga tahuan berperang itu, maka Yang dipertuan Sultan Permansyah undurlah ke Batayan pada kampung yang empat/langgam, serta Yang dipertuan pun teringatlah akan sumpah setia yang diperbuat nenek moyang di atas Bukit Tinjau Laut./ Maka menyuruhlah Yang dipertuan ke Kerinci. Setelah itu maka turunlah Raja Muda itu duduk pada negeri Inderapura sembilan bulan sebelas hari pada tanah Batayan kampung yang/ empat langgam. Dengan takdir Allah ta”ala berhentilah peperangan itu dan amanlah negeri.

Maka Yang dipertuan membaharu sumpah setio dengan Raja Muda/ itu pada hari Arba” di atas Pulau Persumpahan, tatkala maniti di balakang buaya kumbang di kanan dimudiknya pohon telang kuning, dihilirnya/ kubangan batu berduri, didaratnya pasir genting Dusun Pasir di bawah nibung ditaku raja, supaya jadi kenyataanlah negeri Inderapura/ dangan Kerinci jadi satu. Akan Sengada tuha hulu balang itu, dibawalah serata bersumpah setio serata dikurnia memakai gelar Raja Simpang Bumi Berdarah/ Putih, sebab daripada sangat kasih Raja Muda itu, terlebih redlanya Yang dipertuan pun sangat kasih pula akan Sengada itu karena yakinnya/ memeliharakan anak Yang dipertuan Puteri Jilan serta diberilah kurnia sapucuk bedil, sebilah keris, suatu momongan serta kepeng tembaga/ kalung Puteri Jilan itu.

Jadi kenyataan dia sangat berani akan jadi pagar parit Raja Muda. Dan tatkala itu bertambahlah gelar Raja Muda itu/ Baginda Raja Muda. Dengan itu dinyatakan asal-asal kedatangannya dari Inderapura turun dari Minangkabau. Yang dipertuan Sultan Permansyah dengan/ Baginda Raja Muda membaharui sumpah setio di atas Pulau Persumpahan pada hari Arba” dua belas hari bulan Zulhijjah sanah 1022 (?) wallahu a”lam.

Beradasar Ranji Tinggi Kerajaan Indrapura. Peristiwa persumpahan Karang Setia terjadi pada tahun 1560 M, yaitu menurut Ranji (Tambo Tinggi) Indrapura yang tertulis dalam huruf Arab, Bahasa Melayu, yang ditranskripsikan sebagai berikut:

  1. Sultan Kerajaan Indrapura, Sultan Gegar Alamsyah Tuanku Nan Berdarah Putih, yang bermakam di Kampung Gobah Palukan Hilir Indrapura, Permaisurinya bernama Raja Perempuan Putri Siah Bintang Purnama.
  2. Pangeran Temenggung dari Muara Besumai, Pucuk Jambi Sembilan Lurah.
  3. Rajo Mudo Pancardat, Dipati Empat-Delapan Helai Kain, Punggawa Raja, Pegawai Jenang, Suluh Bendang Alam Kurinci.Perjanjian ini, dilaksanakan dan bertempat di Bukit Sitinjau Laut, memotong kerbau tengah dua, mengacau darah, menanam tanduk dan melapah daging, membuat sumpah Karang Setia di Balairung Sari. Yang kelak menjadi lambang adat bagi pertemuan segi tiga ini. Balai Bergonjong Tiga tersebut terdiri dari:
    1. Satu Gonjong dari Indrapura, beratap Ijuk.
    2. Satu Gonjong dari Jambi, beratap Daun Sikai.
    3. Satu Gonjong dari Kerinci, beratap Kayu Sebagi.

Isi perjanjian itu adalah sebagai berikut : “Isi Karang Setia Gunung yang memuncak tinggi, Lurah yang dalam, dan segala apa yang ada di dalamnya, adalah kepunyaan milik Kerajaan Indrapura. 

Laut yang berdebur, pesisir yang panjang, adalah kepunyaan Raja Mudo Pancardat Alam Kerinci. Dan apabila hilang dan tersesat rakit Yang Di pertuan Kerajaan Indrapura ke gunung yang memuncak, hilang bercari terbenam diselami tertimbun digali, begitu juga apabila hanyut dan hilang rakit Rajo Mudo Pancardat Dipati Empat Helai Kain, Pegawai Raja, Pengawal Jenang, Suluh Bendang Alam Kurinci, hanyut dipintasi, terbenam diselami, hilang dicari, dan tertimbun dikekas, terbujur ke dalam laut diselami.Dan apabila musuh datang dari gunung Rakit Alam Kerinci yang menghadapinya, dan apabila musuh (bajau) datang dari laut, rakit Kerajaan Sultan Indrapura menghadapinya Apabila musuh datang dari dalam, dari tengah, sama di kepung. Yang uang kepeng sekepeng dibagi tiga.

Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments