Senin, 9 Desember 2019

Kerinci Tanah Kunci Puncak Andalas (2)


Minggu, 28 Oktober 2018 | 22:22:23 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Dan pemikiran awamnya di tilik dengan yang terjadi sekarang, ninek moyang dahulu sudah sangat cerdas dalam hal manajemen pengarsipan, jadi kita jangan pernah berpikir bahwa naskah dan pusaka itu dari satu periode, tapi disimpan secara turun menurun, kalau tidak kita tidak akan pernah ketemu pusaka itu sekarang!, jadi ada perasaan geli, kalau ada kita yang berpikir naskah dan pusaka itu, berasal dari periode yang sama.

Perlu diketahui bahwa naskah tersebut dibuat di Inderapura dan merupakan naskah kembar dimana dibuat rangkap dua, yakni satu disimpan di Mendapo Kemantan (TK-140) dan satu lagi disimpan oleh Inderapura. Naskah yang di Inderapura tersebut pernah diperlihatkan kepada Belanda dan disalin ulang dimana bagian awal naskah tersebut dipublikasikan dalam buku tulisan E.A Klerk (1895). Kemudian dicetak ulang dalam buku “Nota betreffende de afdeeling Koerintji” (1915).

Naskah TK. 140 ternyata dari penelusuran Iwan Setio ada dua. Satu pertinggal di Indrapura, dan satu dibawa ke Kerinci. Informasi ini ditemukan dalam tulisan E. A Klerks tahun 1897, "Geographisch en ethnographisch opstel over de landschapen Korintji, Serampas and Sungai Tenang. Penelusuran E.A Klerks ini adalah untuk kepentingan Belanda dalam rangka menduduki Pulau Sumatra secara keseluruhan dan untuk melihat kemungkinan pembukaan jalur kereta api yang akan membawa batubara dari Pantai Barat ke Pantai Timur. Jadi, jauh sebelum Perang Kerinci tahun 1903, Belanda sudah tahu perihal Kerinci. Pada tahun 1800 Belanda sudah hadir di Indrapura (pada abad 17-18 M, perusahaan dagang Belanda, VOC sudah hadir di Indrapura). Belanda sudah tahu bahwa banyak orang Kerinci yang berdagang ke Indrapura, atau transit di Indrapura.

Di kemudian hari, tulisan E. A. Klerks inilah yang dipakai Belanda untuk mempelajari Kerinci sebagai persiapan ekspedisi masuk ke Kerinci sampai meletusnya Perang Kerinci tahun 1903.

Ternyata pula pertinggalan naskah TK. 140 untuk pihak Indrapura hilang, atau tidak dikembalikan Belanda, mungkin digunakan saat penyusunan naskah E. A Klerks di atas. Akibatnya sampai saat ini pihak Indrapura tidak memiliki referensi yang tegas soal Perjanjian Sitinjau Laut. Dan parahnya lagi, banyak sejarawan, budayawan, ataupun peminat sejarah yang mengkaji Kerajaan Indrapura mengatakan seolah-olah Kerinci adalah bawahannya Indrapura atau bertendensi ke sana. Menyedihkan, ternyata "ribu ratus" yang banyak "mengamini" kaji yang sudah salah. Kerinci dan Indrapura hidup berdampingan sebagai "saudara" sejak ratusan tahun lalu.

Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments