Rabu, 11 Desember 2019

Kerinci Tanah Kunci Puncak Andalas (2)


Minggu, 28 Oktober 2018 | 22:22:23 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Kejadian Perjanjian Sitinjau Laut adalah seperti yang diceritakan pada paragraf dua TK. 140 tersebut. Saat itu negeri Indrapura belum bernama Indrapura, tapi masih bernama Air Pura. Disebutkan bahwa Yang Dipertuan Hitam Berdarah Putih menerima kedatangan Raja Bakilat yang membawa amanat dari Raja Muda yang memiliki "pancaran" dari Parpatih Sabatang. Sampai pada akhirnya dibuatlah Perjanjian Sitinjau Laut tersebut. Kita tidak tahu persisnya kapan peristiwa ini terjadi, tapi jika ditelusuri dari ranji standar para raja/ sultan Indrapura, Yang Dipertuan Hitam Berdarah Putih atau Sultan Permansyah bertahta dimulai tahun 1560 M (mohon koreksi kalau ada yang salah). Inilah tahun yang dipakai para pengkaji sejarah sebagai tahun dilaksanakannya Perjanjian Sitinjau Laut. Jika memang perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Temenggung Kabul During bukit, kita bisa juga menelusuri kapan beliau wujud dan siapa raja/ sultan Jambi yang berkuasa saat itu.

Perjanjian Setinjau Laut tahun 1560 M belum tentu benar karena tidak ditulis oleh pelaku sejarah itu sendiri atau ditulis oleh orang yang menyaksikannya...tidak seperti Negarakretagama yang penulisnya Mpu Prapanca yang hidup dan menyaksikan peristiwa2 kerajaan Majapahit...apalagi Siak Lengih dikatakan tukang baca doa persumpahan itu sedang Siak Lengih tidak hidup di periode tersebut karena ia setangkup dengan periode Dt. Parpatih nan Sabatang.

Perihal berita Perjanjian Sitinjau Laut seperti yang diceritakan dalam TK. 140 ini pun adalah generasi di bawah yang menceritakan, yakni Sultan Muhammadsyah pada tahun 1831 M dengan menulis surat sebagai ingatan bagi generasi penerus Raja Muda dan tentu saja untuk semua orang Kerinci zaman itu.

Analisa 3 dan 4). Paragraf ketiga TK. 140 menceritakan:

- Sultan Permansyah memindahkan pusat kerajaannya dari Teluk Air Manis ke Istana Muaro Betung dan negeri Dayapura (Air Pura?) telah berganti menjadi Indrapura.

- Ada tokoh Sultan Galumat yang tindak tanduknya meresahkan negeri (satu hari bisa membunuh 4-5 orang) dan dibuang oleh rapat menteri. Dia tampaknya dititipkan kepada Raja Muda di Kerinci. Kemudian menikahi orang yang mengurus keperluannya (pembantu mungkin). Dalam jangka waktu "sampar mad" lahir anak laki-laki yang sangat mirip dengan bapaknya (Sultan Galumat). Dikemudian hari Sultan Galumat pergi ke Palembang. Setelah anak itu berusia 6 tahun, ia berdiri (dilantik secara adat) sebagai Raja Muda. Kemudian diberitakan perang terjadi perselisihan Sultan Permansyah dengan Kompeny Belanda (VOC).

Perang berlangsung selama tiga tahun. Sultan terdesak dan mengundurkan diri ke Batayan pada Kampung yang Empat Langgam. Dia teringat akan Perjanjian Sitinjau Laut dan mengirim utusan ke Kerinci meminta bantuan kepada Raja Muda (tampaknya Sultan Gulemat yang begelar Raja Muda?). Kemudian Raja Muda datang ke Indrapura, tinggal di Betayan Kampung yang Empat Langgam selama 9 bulan 11 hari. Perang selesai, negeri aman.

Oleh sebab itu Yang Dipertuan "memperbaharui" sumpah setia dengan Raja Muda pada hari Rabu di atas Pulau Persumpahan supayannegeri Indrapura dengan Kerinci jadi satu. Akan "Sengada Tua" (hulu balang) dibawa serta bersumpah setia, serta diberi gelar Raja Simpang Bumi Berdarah Putih (salah satu sko di Semurup dan Siulak Gedang?). Terlebih ridlonya (senangnya) Yang Dipertuan karena begitu yakinnya "Sangada/ Sangada (siapa tokoh ini? apakah Sangada Tua yang diberi gelar Raja Simpang Bumi Berdarah Putih tersebut?) itu memelihara anak Yang Dipertuan Putri Jilan (Sultan Galumat kah maksudnya?), maka diberilah sepucuk bedil, sebilah keris, suatu momongan (meriam kecil?) serta kepeng tembaga dan atau kalung Putri Jilan. Sangat nyata keberaniannya menjadi "parit pagar" atau penjaga Raja Muda. Raja Muda bertambah gelarnya menjadi Baginda Raja Muda. Dengan itu dinyatakan asal-usul kedatangannya dari Indrapura turun dari Minangkabau. Sultan Permansyah dengan Baginda Raja Muda memperbaharui Sumpah Setia (memperbaharui Perjanjian Sitinjau Laut) di atas Pulau Persumpahan di hari Rabu, 12 Zulhijah 1022 H = 1613/1614 M (analisis selanjutnya mengkoreksi kepada tahun 1722 M lebih kurang).

Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments