Minggu, 9 Agustus 2020

Kerinci Tanah Kunci Puncak Andalas (2)


Minggu, 28 Oktober 2018 | 22:22:23 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa


Untuk naskah TK-140 tersebut dapat dikategorikan mengandung dua bagian naskah... dimana naskah pertama menceritakan peristiwa Persumpahan Sitinjau Laut yang PERTAMA... kapan peristiwa tersebut tidak ada tanggal yang disebutkan..kita hanya bisa menggali dari periodesasi tokoh2 utama yang terlibat... terutama dari Sultan Inderapura yaitu Yang Dipertuan Berdarah Putih (merujuk ke tahun 1560an).

Sedangkan bagian kedua menceritakan tentang Sultan Galumat dimana anaknya di Kerinci kemudian menjadi Raja Muda dan MEMPERBAHARUI persumpahan dengan Sultan Permansyah di “Pulau Persumpahan” dekat Muaro Sakai pada tahun 1022(?) H.
Jadi TK-140 menceritakan dua peristiwa persumpahan, yakni Persumpahan Sitinjau Laut dan Pembaharuan persumpahan di Pulau Persumpahan.

Mengapa saya tekankan pada angka tahun 1022(?) H tersebut?.... karena ada dua hal yang meragukan seperti yang telah saya sampaikan diatas. Tahun 1022 H tersebut kemungkinan adalah SALAH... apakah kesalahan Penyalin sewaktu transliterasi (alih aksara) ataupun karena kesalahan Penulis naskah yang juga tidak merasa pasti sehingga ditulis “wallahualam”.

Menurut ahli Incung Iwan Setio Seperti telah saya singgung sebelumnya, Sultan Galumat meninggalkan Kerajaan Manjuto (nama versi Belanda) atau Kerajaan Anak Sungai (versi Inggris) pada tahun 1714... dimana kemudian beliau menghilang yang dalam laporan kolonial disebutkan menghimpun dukungan dari pedalaman termasuk ke Kerinci (Lebih banyak ke Kerinci Hilir hingga Serampas dan Sungai Tenang). tetapi usaha perlawanannya ini tidak berhasil sehingga tahun 1716 tidak pernah munjul lagi di Muko-muko maupun Inderapura. Dari naskah TK-140 tersebut diketahui bahwa sebenarnya setelah thn 1716 Sultan Galumat turun ke Kerinci ditempat rumah Raja Muda (1) di Kemantan.... sampai akhirnya memiliki anak yang setelah berumur 6 tahun menjadi Raja Muda (2) pula.

Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments