Minggu, 26 Mei 2019

Kerinci Tanah Kunci Puncak Andalas (3)


Minggu, 28 Oktober 2018 | 22:25:39 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Oleh: M Ali Surakhman

Hadirkah Siak Lengih di Pembaharuan Perjanjian Sitinjau Laut


MENURUT Aulia Tasman seorang Profesor Universitas Jambi, Siak Lengih hadir di perjanjian kedua ini, dan Siak Lengis tidak sezaman dengan Datuk Parpatih Nan Sebatang, jauh se sudahnya.

Namun dibantah keras pakar adat Kerinci, yang juga pernah menjadi peneliti di Leiden University Pak H. Alimin Dpt : “Saya bantah keterangan Siak Lengih sebagai cicit Tuan Kadi Padang Ganting kerajaan Pagaruyung jelas larinya ia sebagai tukang baca doa persumpahan Bukit Setinjau Laut antara Yang Dipertuan Berdarah Putih Pangeran Temenggung dengan Kerinci abad 16...ini keterangan bersumber dari tulisan Latin piagam Sultan Muhammadsyah tahun. 1939 yg kertasnya berulang – ulang saya pegang tidak semua tulisan sang Sultan Indrapura itu bisa dibenarkan untuk jadi kutipan ilmiah.  

Siapa Siak Lengis atau bahasa tambo Incung Siyak Langin nama lain Syech Samilullah puluhan tambo tanduk Incung Kerinci menerang Siyak Langin ini keterangan “Siyak” terbanyak di Kerinci...tambo tanduk Incung tidak menyebut Pagaruyung tapi Pariyang Padang Panjang asal Puti Dayang Barani isteri Siyak Langin nikah di Sungai Kunyit Koto Pandan.

Puti Dayang Barani adalah kakak Puti Unduk Pinang Masak dan Parpatih Sabatang akhir abad 13...ketuaan naskah tanduk Incung belum ada uji Carbon dating termasuk penelitian Uli Kozok jadi Siyak Langin bukan cicit Tuan Kadi Padang Ganting.

Menurut Iwan Setio, Perihal sumber naskah tanduk incung tersebut perlu dibedakan kajian menelusuri usia media naskah dan kajian isi/kandungan naskah karena saling berkaitan. Naskah tanduk tersebut sudah di salin berulangkali sehingga narasi pengantarnya telah disesuaikan oleh penulisnya, baik dalam penyebutan “anak cucung”, “nenek” ataupun “asalamuhalikum”. Bukti naskah tanduk sudah berulangkali disalin ulang dapat dijumpai dalam tambo Kerinci ada beberapa naskah kembar berupa naskah incung pada tanduk yang disimpan oleh Depati yang sama dan isi naskahnya sangat mirip. Bahkan ada naskah awal yang sudah rusak sehingga yang terbaca sebagian kecil, kemudian ada salinannya yang juga pada tanduk dimana kondisinya lebih baik tapi juga sudah tidak terbaca sebagian sehingga dibuat lagi salinannya pada media kertas beraksara Melayu (ada 3 naskah, tanduk-tanduk-kertas, memuat isi yang sama).

Begitu juga halnya dengan naskah tanduk beraksara incoung yang menceritakan tutur Siyak Lengih. Naskah tanduk tersebut merupakan salinan naskah sebelumnya yang sudah rusak, bukankah Voorhove banyak melaporkan tentang kondisi naskah tanduk yang sudah hancur/pecah ataupun yang sudah tidak terbaca lagi? belum lagi adanya naskah yang tidak ditunjukkan ke Voorhoeve oleh pemegang naskah karena dianggap tidak perlu sebab kondisinya yang sudah rusak parah.

Meskipun sudah berupa salinan... namun isinya masih konsisten menyebutkan bahwa Siyak Lengih beristrikan Dayang Baranai yang merupaka sepupu Perpatih Sebatang. Naskah tersebut tersebar di berbagai dusun yang masih memiliki hubungan geneologis/keturunan Siyak Lengih. Point inilah yg perlu dicatat terkait perihal periodesasi Siyak Lengih yg harus ditempatkan sezaman dengan Perpatih Sebatang yakni wujud sekitar abad-14.

Menurut penulis, Islam sudah berkembang di Kerinci awal abad 13, menurut Thomas W Arnold, 1985:323, Dalam penelitian Arkenas tentang naskah naskah dari Kerinci, 1994, objek kajian naskah raja raja yang bertulis diatas kain, dengan bahasa arab, disimpulkan oleh para peneliti, di Kerinci, khususnya di 5 dusun sudah berkembang tulisan arab, masuknya huruf arab di nusantara di yakini oleh para ahli mulai abad ke 7 sampai 13, yang dibawa oleh pedagang Arab, rujukan (De Graaf, 1989:18) jadi kalau kita hubungakan ke topik diatas, saya sependapat itu pembaharuan dari perjanjian Sitinjau Laut, dan Siak Lengih secara individu tidak hadir di dalam perjanjian tersebut, sekadar tambahan, Naskah Undang Undang Tanjung Tanah, pada abad 14, naskah incung jauh di atas itu, pada periode ini masyarakat sudah mulai meninggalkan tulisan Incung dan sudah mulai menulis dengan huruf Arab.

Dari Hasil pembahasan diatas ditarik kesimpulan bahwa secara umum pembaharuan perjanjian Sitinjau Laut, antara Kerajaan Inderapura, Kedepatian Kerinci, dan Kesultanan Jambi, disebabkan tidak lepas dari perdagangan hulu dan hilir, faktor rempah, lada, emas, serta kebutuhan sandang, ini sebelum adanya pengaruh VOC, sudah mulai mencari pengaruh, dari portugis, inggris sampai Belanda.

Bahwasanya ada pendapat Prof. Aulia Tasman, yang mengatakan siyak lengih hadir di dalam perjanjian yang baru, dan periodesasinya sekitar abad 17 M dan 18 M, tidak berdasar, karena kajian sejarah adalah mengkaji masa lalu, yang kita tidak hidup, mengalami kejadian di masa itu, untuk itu membuktikan peristiwa sejarah mesti ada data, fakta, dan bukti, dalam hal ini naskah incung adalah bukti yang tidak terbantahkan, karena sudah disimpan sekian ratus tahun oleh kaum dan puak di Kerinci, dan juga tinggalan tinggalan benda arkeologi tangible maupun intangible yang berhubungan dengan peristiwa di masa itu, masyarakat Kerinci sangat beruntung bahwasanya benda benda tersebut disimpan secara turun temurun. Kemudian mengkaji harus dipilah berdasarkan hipotesis dan metodologinya, serta mencari perbandingan dan rujukan dari peneliti lain.

Tutur atau tradisi lisan, legenda sah sah saja menjadi sumber awal mengkaji, namun tidak bisa dipakai sebagai bukti akurat, karena cerita rakyat bisa saja diceritakan berdasarkan imaginasi si penutur, saat dia dibawa ke ranah sejarah mesti ada data, fakta dan bukti berupa tinggalan. Menganalisa sejarah tidak bisa berdasarkan logika saja, tanpa bukti, fakta dan data serta rujukan, saat pengkaji membawa hubungan emotional dan hanya berdasarkan logika dia pribadi, ini sudah berbahaya, karena akan membuat sejarah versi pribadi, dan terjadi pembelokan sejarah serta pengaburan sejarah.

SUMBER
Bopi Cassiaputra, pengkaji dan salah satu pakar sejarah Kerinci,
Iwan Setio Pengkaji dan ahli analisis transkrip Incung,
Mamok Kincai Niang, admin grup Pencinta Adat Kerinci dan pemerhati sejarah Kerinci,
Prof. Aulia Tasman Pengkaji Sejarah Kerinci,
H. Alimin Dpt, Tokoh adat Kerinci dan peneliti Kebudayaan Kerinci,
M. Ali Surakhman, peneliti Kebudayaan Kerinci
Hafiful Hadi Suliensyar, Pengkaji Sejarah Kerinci
Dan berbagai sumber serta rujukan yang tidak dapat saya tuliskan semua.


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments