Jumat, 18 Oktober 2019

Pemuda dan Literasi


Minggu, 28 Oktober 2018 | 16:36:43 WIB


/

PERISTIWA sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. 

 

Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

 

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. 

 

Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. 

 

Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak kemerdekaan Indonesia. Dalam rangka memaknai kembali sumpah pemuda pada hari ini, penulis ingin memaparkan beberapa masalah yang harus pemuda selesaikan.

 

Pertama: menurut data dari perpustakaan nasional bahwa Provinsi Jambi termasuk peminat baca terendah. Kedua: menurut data dari kompas.id, pendidikan di Jambi adalah salah satu terendah di negeri ini. Ketiga; menurut data dari pos Indonesia, pengiriman buku dari luar provinsi ke Jambi itu termasuk salah satu terendah. 

 

Tiga masalah yang patut kita pikirkan bersama. Ini adalah masalah bersama yang harus kita hadapi dan selesaikan bersama para pemerintah. Ini bukan hal sepele, banyak hal yang akan terjadi jika permasalahan-permasalah tersebut dibiarkan begitu saja, sebut saja kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. 

 

Dalam rangka menjawab tantangan-tantangan  tersebut. Kita  selaku pemuda harus bersatu. Kita harus belajar dari persatuan pemuda pada masa lalu. Mempelajari substansi yang mereka lakukan, agar kita hari ini dapat memilah hal-hal yang harus dilakukan pemuda saat ini. 

 

Dalam perkembangannya, pemuda Indonesia telah memasuki zaman yang serba canggih, dengan kecanggihan yang kita rasakan saat ini, pemuda Indonesia harus mempunyai tujuan yang jelas terhadap masa depan bangsa ini. Salah satunya melalui gerakan literasi. 

 

Kenapa harus literasi? Dalam pemaknaannya, literasi itu memiliki makna yang sangat luas. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, literasi adalah merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya "Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).

 

Sementara itu UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang “multiple Effect” atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. 

 

Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.

 

Kita dapat ambil gambaran, bahwa kemampuan literasi adalah salah satu penunjang maju atau tertinggal nya negeri ini dan dapat menyelesaikan tiga permasalahan yang penulis sampaikan diatas.  Dalam rangka menjawab tantangan-tantangan yang kita negeri ini hadapi seperti, rendahnya minat baca dan pendidikan dibawah standar Nasional. Ini harus dapat dijawab oleh pemuda itu sendiri. 

 

Hal-hal yang harus dilakukan pun tidak boleh tidak memiliki strategi dan taktik. Ini harus dipikirkan secara matang. 

 

Penulis adalah salah satu pegiat literasi (katakan lah seperti itu) yaitu Perpus Rakyat. Selama perjalanan yang penulis lihat, peran-peran pemuda terhadap Literasi tidak boleh dianggap sebelah mata. 

 

Selama perjalanan mengabdi di dunia literasi, sudah banyak yang penulis jumpai pemuda lah penggerak Komunitas literasi tersebut. Sebut saja ketika kemarin, penulis dan beberapa komunitas literasi bersatu padu dalam kegiatan memajukan literasi di Provinsi Jambi. Ada Komunitas Jari Menari, Perpustakaan Garuda, Lapak Baca Jambi dan sudah tentu Perpus Rakyat juga berkontribusi dalam kegiatan itu. 

 

Ini salah satu bukti bahwa peran pemuda sangat penting dalam memajukan negeri nya. 

 

Perlu kita ingat, literasi itu harus menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Ini adalah soal pencerdasan kehidupan bangsa, bukan soal sepele untuk turun dalam bidang ini. Penuh dengan tantangan, kemalasan, godaan dan pasti bakal ada saja yang akan menghambat nya. 

 

Penyakit-penyakit pemuda yang penulis amati akhir-akhir ini bukan hal sepele, ini harus sama-sama kita perbaiki untuk kemajuan. Contoh, hoaks telah menjadi konsumsi wajib bagi pemuda hari ini. Coba saja kita tidak hanya berpatokan pada media sosial. 

 

Dengan buku contoh nya, ketika ada hal-hal baru yang tidak kita ketahui, jangan langsung percaya, perbanyak baca buku untuk menghindari hoaks tersebut. 

 

Memaknai sumpah pemuda kali ini, penulis ingin mengajak pemuda untuk melakukan kegiatan mempersatukan bangsa ini. Lalu mengatasi permasalahan-permasalah yang ada. Jika pemuda hanya berdiam diri mengenai hal tersebut, apa boleh buat bangsa ini tidak akan pernah maju dan akan kehilangan jati dirinya. 

 

Sejatinya seluruh ciptaan Tuhan ini bergerak, bergerak sesuai dengan ketentuannya masing-masing. Tetapi jika pemuda berdiam diri saja, mau jadi apa bangsa ini?  Indonesia ini dibangun oleh pemuda, maka jangan lah sampai pemuda juga yang menghancurkan bangsa ini. 

 

Gerakan literasi adalah satu langkah kita memperbaiki semua ini, mari bersama-sama terjun ke bidang ini. Perkuat pondasi pemikiran untuk masyarakat yang melek akan literasi. 

 

 

Salam Pemuda!

 

 

*) Penulis adalah Ketua LAPMI Jambi, pegiat Perpus Rakyat dan mahasiswa Unja


Penulis: Lukman Hakim Dalimunthe
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments