Selasa, 22 Oktober 2019

Tahun Politik Makin Terasa Panas


Senin, 29 Oktober 2018 | 16:14:21 WIB


/

PEMILU secara serentak memang baru akan dimulai pada April 2019. Namun, genderang kompetisi elektoral tersebut seakan sudah ditabuh dan berawal pada saat Presiden Joko Widodo hadir pada saat acara Rakernas III Projo, Senin (4/9). Langkah eksplisit yang dilakukan presiden tersebut seakan menaikkan suhu politik di Indonesia karena sebelumnya pun sudah mulai terasa hangat.

Pemilihan umum kepala daerah juga tidak lepas dari yang namanya ranah politik dikarenakan suatu penyumbang terwujudnya tahun politik bagi Indonesia, pemilihan kepala daerah juga tidak kalah panasnya dibandingkan kelas nasional. Di tengah panasnya arus politik yang sedang berjalan, hawa panas juga tercium dari beberapa daerah di Indonesia terbukti dengan banyak kasus korupsi yang menyeret sebagian orang–orang penting guna untuk memenuhi kebutuhan kampanye.

Dinamika politik kita saat ini diwarnai oleh gambaran buram yang diwarnai oleh aktor –aktor politik yang nyaris menguasai kita setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam hari-hari dengan mengumbarkan kata–kata janji manis yang dapat dikatakan juga sebagai harapan rakyat namun lebih sering sebagai janji palsu atau kebohongan belaka.

Saat ini dalam panggung politik Indonsia sangat banyak sekali terjadi distorsi yang penuh dengan kegaduhan dan kepalsuan sehingga mengakibatkan pengaruh yang kurang baik terhadap masyarakat awam dalam memaknai suatu persoalan ataupun dapat dikatakan taktik atau cara politisi melakukan suatu tindakan.

Sangat prihatin melihat kondisi politik Indonesia saat ini di saat tahun politik yang semakin memanas di saat itu pula para politisi kita bersikap kurang dewasa dalam menyikapi sebuah permasalahan. Seperti saaat ini mudahnya mereka menuliskan umpatan, makian, dan kata–kata kotor lainnya hanya dikarenakan perbedaan pandangan belaka, seakan perpolitikan Indonesia dia norma dan aturan.

Sudah pengetahuan umum bahwa yang dianggap lebih pintar hendaknya dijadikan teladan untuk mereka yang berada di bawah. Demikianlah sepertinya yang diterapkan bangsa Indonesia sehingga menirukan apa yang terjadi di kalangan para pilar–pilar kekuatan partai politik saat ini. Di setiap acara televisi jika diisi dengan tokoh politik dan dihadiri oleh tokoh politik lain akan selalu menimbulkan pertikaian yang tak menemu jalan kebenaran.

Akibat dari perilaku tokoh-tokoh penting yang berperilaku kurang baik masyarakat yang terlalu fanatisme yang berlebihan tidak jarang juga menimbulkan keresahan diantara mereka dengan cara mendukung calon yang didukungnya lewat media sosial dengan melebih–lebihkan calonnya. Bahkan tidak segan untuk menjelek–jelekkan pasangan calon dukungan orang lain sehingga keduanya sering sekali berbalas komentar pedas hingga berujung dengan perselisihan panas.

Tidak hanya sebatas politisi dan masyarakat yang memanas dalam tahun politik ini di sisi lain tim kampanye juga tidak mau kalah dalam ikut memanaskan tahun poitik di tahun 2018. Salah satunya dengan adanya kasus yang yang menggemparkan perpolitikan bahkan menggemparkan tanah air dimana kejadian tersebut menimpa Ratna Sarumpaet yang awalnya dikatakan mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari oknum tertentu.

Kejadian ini sempat membuat masyarakat yang mengetahuinya naik pitam dikarenakan tidak sewajarnya seorang wanita mendapatkan perlakuan seperti itu walau mengataskan kepentingan apapun, karena pada dasarnya wanita adalah kaum lemah yang layak untuk dilindungi. Namun sangat disayangkan ternyata setelah ditelusuri kejadian yang sebenarnya berita tersebut tidak sesuai dengan kabar yang beredar atau sering disebut dengan berita hoaks.

Indonesia adalah negara demokrasi yang selalu akan melaksanakan pemilu yang melibatkan yang namanya politik sehingga setiap masanya akan terus menyangkut kepentingan. Bukan hanya Indonesia bahkan seluruh dunia juga akan terus melakukan kegiatan kepentingan. Namun apakah dengan adanya kepentingan akan selalu menciptakan kegaduhan dan mengurangi rasa persaudaraan?

Pesan penulis dalam tahun politik ini marilah kita seluruh bangsa Indonesia baik dari elemen terbawah hingga sampai kepada pilar penguasa sebaiknya dalam tahun politik ini kita saling menjaga persaudaraan jangan karena pemilu rusak hubungan kekerabatan. Karena kepentingan akan terus berlanjut sementara batas umur akan mendapat akhirnya masing – masing.

*) Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik Fisipol Universitas Jambi


Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments