Selasa, 13 November 2018

Mencari Pekerjaan atau Menciptakan Lapangan Pekerjaan?


Selasa, 30 Oktober 2018 | 13:58:04 WIB


/

KEBERADAAN teknologi yang semakin canggih layaknya dua sisi mata uang. Sisi yang satu berhasil memudahkan kehidupan manusia, sisi lainnya mempersempit lapangan kerja manusia.

Akhir-akhir ini juga sering kita dengar bahasan mengenai fenomena revolusi Industri 4.0. Fenomena ini menggambarkan segala perkembangan teknologi di dunia. Hal ini ditandai dengan menjamurnya tenaga manusia yang digantikan oleh robot. Alhasil tercatat 40 persen lapangan pekerjaan di Asia Tenggara hilang terganti oleh robot. Hal ini dikhawatirkan akan menggugupkan para lulusan perguruan tinggi saat menghadapi dunia kerja.

Realita dunia kerja sekarang ini cukup keras. Lapangan pekerjaan tak cukup banyak jika membayangkan ribuan sarjana lulus setiap tahunnya. Lulusan sarjana di zaman yang canggih hendaknya tak lagi ingin mencari pekerjaan tapi menciptakan lapangan pekerjaan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir menjelaskan perlunya dilakukan reformasi pendidikan tinggi, yaitu untuk meningkatkan daya saing bangsa. Perguruan tinggi dirancang mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan teknologi. Rancangan kurikulum dan metode pendidikan pun disesuaikan dengan iklim bisnis yang terus berkembang. Hal ini seiring dengan penetapan mata kuliah Kewirausahaan atau Enterpleneurship pada beberapa perguruan tinggi Indonesia.

Pendidikan kewirausahaan atau entrepreneurship digalakkan di perguruan tinggi agar lulusan mampu mandiri. Pendidikan kewirausahaan diharapkan bisa menyiapkan mahasiswa untuk berani mandiri, tidak lagi terfokus menjadi pencari kerja (job-seeker) melainkan menciptakan lapangan pekerjaan (job-creator). Apalagi data pengangguran perpendidikan di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Tingginya jumlah pengangguran berpendidikan pastilah ada kaitanya dengan fenomena Revolusi Industri 4.0. Dimana fenomena ini mengubah 180 derajat pekerjaan yang tersedia untuk para sarjana. Banyak pekerjaan yang tersedia berkaitan dengan kemampuan menguasai ilmu teknologi.

Mata Kuliah Kewirausahaan atau Entrepreneurship menjadi skala prioritas pada beberapa perguruan tinggi Indonesia. Berkaca pada kesuksesan negara maju seperti Amerika dan Eropa yang hampir seluruh perguruan tingginya menyisipkan materi kewirausahaan disetiap mata kuliah. Jepang, Singapura, dan Malaysia juga menerapkan mata kuliah entrepreneurship minimal di dua semester.

Perguruan tinggi di Indonesia sudah mulai menerapkan pentingnya mata kuliah Kewirausahaan di kampus dan menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai hal penting untuk mahasiswa. Perguruan tinggi seperti Universitas Diponegoro, ITB, Universitas Padjadjaran, IPB, UGM, STMB Telkom, President University, UKSW, Paramadina, Unpar, Universitas Semarang, BSI, Binus, Trisakti, UI dan lainnya telah memberikan materi kewirausahaan kepada mahasiswa.

Selain Mata Kuliah kewirausahaan atau entrepreneurship, masih ada beberapa Mata Kuliah di Perguruan Tinggi yang sebenarnya sangat berpotensi dalam dunia kerja untuk menghadapi era Revousi Industri 4.0.

Pertama, penguasaan lebih terhadap Information Techology adalah modal utama untuk mencari ataupun menciptakan lapangan pekerjaan pada era Revolusi Industri 4.0 pada saat ini. Peran IT sangat besar bagi masyarakat modern. Terlebih lagi dalam hal inovasi. Hampir seluruh sektor usaha membutuhkan orang-orang yang berkecimpung di bidang Information Technology (IT). Alhasil secara otomatis, banyak lowongan pekerjaan dan peluang menciptakan lapangan pekerjaan di bidang IT.

Kedua, kemampuan menulis, banyak orang yang menganggap kemampuan menulis tidak ada hubungannya dengan bidang pekerjaan yang dilakoni sekarang. Namun, percaya atau tidak menulis menyangkut pada semua aspek kehidupan. Apapun profesi yang akan dijalani nantinya, dengan memiliki kemampuan menulis yang baik akan membuka peluang karir yang lebih baik.

Dalam penguasaan dua hal tersebut harapannya mahasiswa mampu memprediksi lapangan kerja yang ideal untuk kedepannya. Pembekalan Kewirausahaan dan kemampuan penguasaan dalam bidang IT serta menulis inilah yang dapat melapangkan pikiran karena kekhawatiran krisis lapangan kerja.

Namun, anggapan bahwa menjadi pencari kerja (job-seeker) ataupun menciptakan lapangan pekerjaan (job-creator) adalah sebuah pilihan. Pencari kerja ataupun menciptakan pekerjaan tetap saja diperlukan sebuah kahlian. Tapi alangkah baiknya kalau kita memilih untuk menciptakan lapangang pekerjaan dari ilmu yang pernah dipelajari sewaktu kuliah sehingga bisa bermanfaat untuk diri sendiri juga orang lain. Anggaplah memberikan jalan untuk orang lain. maka sewaktu-waktu jika kita butuh pertolongan maka jalan akan dibukakan karena niat kita membantu orang lain.

Pada dasarnya tak ada suatu keahlian yang pada akhirnya tidak menumbuhkan penghasilan. Dengan kreativitas dan kinerja yang baik, maka timbullah lapangan pekerjaan. Sehingga banyaknya lapangan pekerjaan yang ada di suatu negara sangatlah penting dalam menopang tingat pengangguran di negara tersebut.

Pada intinya, dengan adanya keahlian diatas kita dapat berupaya agar terciptanya sebuah inovasi baru yang bisa membuat lapangan pekerjaan. Dimana inovasi ini akan menopang sumberdaya manuisa yang ada. Apabila dalam sebuah masyarakat angka pengangguran dapat terminimalisir maka terciptalah sebuah konsumsi dimasyarakat yang mempuni. Sekarang untuk mahasiswa ‘silahkan pilih ingin mencari kerja atau menciptakan lapangan pekerjaan!’, karena kehidupan pada dasarnya adalah sebuah pilihan.

*) Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jambi.


Penulis: Nani Nirwani
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments