Sabtu, 19 Oktober 2019

Mengenal Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)


Sabtu, 03 November 2018 | 14:09:30 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

UKBI merupakan singkatan dari Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia yang diperuntukkan untuk mengukur sejauh mana Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) mahir menggunakan bahasa Indonesia.

Seperti halnya TOEFL, UKBI juga mempunyai beberapa seksi pengujian yang terdiri dari seksi I mendengarkan, seksi II merespon kaidah, seksi III membaca, dan seksi IV, V menulis dan berbicara.

Kriteria pemeringkatan nya pun juga tak beda jauh dari TOEFL. Jika TOEFL memiliki 9 kategori pemeringkatan maka UKBI memiliki 8 kategori pemeringkatan yang terdiri dari peringkat istimewa dengan skor (725-800), sangat unggul (641-724), unggul (578-640), madya (482-577), semenjana (405-481), marginal (326-404) dan terbatas (251-325). Nah, untuk orang Indonesia sendiri minimal berada di tingkat unggul, dan tingkat madya untuk warga negara asing.

Sejauh ini untuk wilayah Jambi baru memakai tiga seksi saja. Penulis sempat mencobanya. Pukul 13.00 WIB ujian dimulai. Panitia memberikan tiga buah buku soal masing-masing berwarna merah, kuning dan biru. Di seksi I penulis sempat kebingungan mengisi lembar jawaban. Karena di seksi ini bukan hanya keterampilan menyimak saja yang dibutuhkan tetapi juga ketelitian membaca soal yang diberikan. Seksi I berlangsung selama 20-25 menit, dilanjutkan dengan seksi II dan III dengan durasi 20 menit dan 45 menit.

Dari tes yang penulis ikuti didapat beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa tidak selamanya orang Indonesia piawai menggunakan bahasa Indonesia. Kebanyakan mereka mungkin menguasai bahasa Indonesia pada ragam lisannya saja tetapi tidak dengan ragam tulisnya. Selain itu, yang paling fatal adalah banyaknya masyarakat kita yang belum mengenal UKBI. Bahkan di kalangan pelajar sekalipun. Istilah UKBI terdengar sangat asing di telinga mereka. Mereka justru lebih akrab dengan istilah TOEFL.

Ini bukanlah suatu fenomena yang lucu. Di saat kita terlalu mengelu-elukan TOEFL, kita malah mengabaikan UKBI yang notabenenya merupakan produk kita sendiri. Memang, jika ditelisik lebih jauh, tidak ada yang salah dengan TOEFL. Skor TOEFL yang tinggi dan ditunjang dengan kemahiran berbahasa Inggris yang mumpuni akan mampu mengantarkan seseorang mencapai level karier yang lebih tinggi. Kebutuhan pasar akan SDM yang cakap TOEFL nya juga semakin banyak.

Kita bisa apa kalau sudah begini? Tentu saja kita juga akan mempersiapkan diri untuk bersaing di masa depan. Tapi, apa jadinya nanti jika masyarakat kita lebih menguasai TOEFL daripada UKBI? Dimana lagi letak rasa cinta kita terhadap bahasa Indonesia. Para pejuang kita dulu sudah bersusah-susah payah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Malah kita seenaknya melupakan perjuangan mereka.

Kini, sudah seharusnya kita menghargai dedikasi mereka. Dengan cara tidak meninggalkan bahasa Indonesia dan memudayakannya kembali. Mengikuti UKBI, merupakan salah satu cara untuk membudayakan bahasa Indonesia serta menghadirkan kembali rasa cinta dan menghargai bahasa Indonesia di hati kita.

Semoga ke depannya nanti UKBI bisa semakin berjaya, dikenal oleh masyarakat dan dapat sejajar dengan TOEFL. Jika sertifikat TOEFL selalu ada di setiap persyaratan menjadi PNS, menjadi syarat kelulusan bagi mahasiswa, menjadi syarat untuk kuliah & bekerja di luar negeri. Maka sudah sepatutnya juga sertifikat UKBI ada di dalam persyaratan tersebut. Dengan demikian antara TOEFL dan UKBI akan berjalan beriringan. Di satu sisi kita tetap gaul, tapi disisi lain kita tetap nasionalisme.

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jambi


Penulis: Zarobi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments