Jumat, 18 Oktober 2019

Fakta Makna Sumpah Pemuda Saat Ini


Sabtu, 03 November 2018 | 14:11:02 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / twitter

HARI sumpah pemuda sudah lewat dan sudah kita rayakan pada tanggal 28 Oktober kemarin, tetapi bila kita tanyakan kembali kepada pemuda-pemuda kita, masih ingatkah isi sumpah pemuda…? Tentunya mereka akan menjawab masih . Namun dengan durasi jawaban yang cukup lama, mungkin mereka mencari dulu di internet, ataupun bertanya dulu pada kakek neneknya. Memang terdengar lucu namun itulah kenyataan nya bila kita menanyakan langsung hal tersebut kepada pemuda-pemudi kita.

Lalu bagaimana kita ingin mengetahui makna jika kita tidak mengetahui isi dari sumpah pemuda itu. Jadi sebelum kita ulas makna dari sumpah pemuda sebaiknya kita cari tahu terlebih dahulu isi dari teks sumpah pemuda dan dibawah inilah isi dari teks sumpah pemuda.

1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Ya itulah isi dari sumpah pemuda, isi yang menggambarkan dan mempunyai makna begitu sulit nya pemuda-pemudi kita dalam mempertahankan Indonesia. Begitu bangga nya dengan tanah air kita. Memang terlihat dan terdengar sederhana, namun memiliki arti dan makna yang mendalam. Tapi sekarang makna sumpah pemuda seakan perlahan hilang tersapu oleh zaman.

Seperti pada bait pertama isi sumpah pemuda yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia”, disitu terlihat terdapat kata bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.

Dari kalimat itu tergambar dengan jelas bahwa pemuda-pemudi kita dulu tidak memandang dari mana asal daerah dan status kawan seperjuangan mereka. Yang mereka pandang adalah perjuangan mereka dalam mempertahankan Indonesia dan rela memperjuangkan Tanah Air hingga titik darah penghabisan.

Namun sekarang nyatanya pemuda-pemudi kita malah lebih bangga bila dia dapat tinggal dinegara asing dan menetap disana. Bahkan mereka lebih bangga bila mereka dapat berteman dengan warga Negara asing dari pada Negara kita sendiri.

Lalu pada bait kedua menjelaskan, bahwa pemuda dan pemudi kita hanya menerangkan satu bangsa, yakni bangsa Indonesia. Maksudnya adalah kita harus melestarikan budaya Indonesia, tidak mudah meniru budaya asing, dan selalu menjaga nama baik Indonesia. Namun pada kenyataannya sekarang pemuda-pemudi kita lebih memilih budaya asing yang dipandangnya lebih modern dibandingkan budaya kita budaya Indonesia. Seharusnya kita itu harus dapat melestarikan budaya kita. Bukannya meninggalkannya dan menggantikannya dengan budaya asing yang dinilai lebih modern.

Sedangkan pada bait ketiga sedikit berbeda karena menggunakan kata “ menjunjung “ bukan “mengaku” tidak seperti pada bait-bait sebelumnya. Dan kata “menjunjung” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) memiliki arti mengangkat. Jadi makna dari bait ketiga itu adalah kita harus mengangkat bahasa kita, bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Namun seiring perkembangan zaman fakta berkata lain pemuda-pemudi kita sekarang lebih memilih dan membanggakan bahasa asing dari pada bahasa Indonesia mereka merasa bangga bila dapat berbicara dengan bahasa asing dari pada bahasa Indonesia. Sebagai contoh timbul nya istilah-istilah seperti semoga lekas sembuh diubah menjadi GWS (Get Well Soon), dalam perjalanan dirubah menjadi OTW (On The Way). Nah ubahan kata dalam bahasa asing tersebut lebih popular saat ini dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Itu adalah sedikit bukti dan contoh kecil dari lunturnya semangat sumpah pemuda. Ya sungguh lucu memang sebuah kebanggaan dan pengakuan dari pemuda-pemudi kita yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang hingga kini setiap tahunnya selalu diperingati.

Sumpah pemuda itu sendiri merupakan sumpah setia hasil dari kongres pemuda yang kedua di Batavia yang sekarang kita kenal dengan sebutan Jakarta. Peristiwa itu sendiri menjadi tonggak sejarah dalam pergerakan nasional bangsa Indonesia. Seiring perkembangan zaman mereka tetap selalu mengingat bahwa tanggal 28 Oktober adalah hari peringatan sumpah pemuda namun mereka tidak memaknai setiap helai isi dari bait sumpah pemuda itu. Mereka acuh dan menganggap itu hanya sebuah peringatan yang harus di peringati.

*) Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unja


Penulis: Andika Pandu Sylvawan
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments