Minggu, 22 September 2019

Cermin Masyarakat Urban Dalam Pertunjukan "Bangku Kayu dan Kamu Yang Tumbuh Di Situ"


Senin, 03 September 2018 | 14:35:48 WIB


/ istimewa

Oleh: Sean Popo Hardi *)
JUMAT
, 31 Agustus 2018 pukul 20.00 WIB Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi kembali berdetak denyut nadinya oleh pertunjukan teater dari rombongan ISI Padang Panjang. Adalah Dr. Yusril, M.Sn atau yang akrab disapa Pak Katil. Pada malam itu yang dikemas dalam acara Jambi Performance Art terdapat dua pertunjukan yakni “Bangku Kayu dan Kamu Yang Tumbuh Di Situ” (teater modern) dan teater tradisi, “Randai Perempuan”. Tulisan ini akan mengulas bagaimana pertunjukan teater migrasi yang dipilih oleh pak Katil sebagai gaya ucap untuk mengangkat sejumlah isu yang berkembang dalam masyarakat urban saat ini terutama isu pendidikan.

Pertunjukan yang meraih Hibah Penelitian Penciptaan dan Penyajian DRPM Dikti diawali dengan pembacaan sinopsis yang berisi sebagai berikut. Pada awalnya manusia dilahirkan sendiri-sendiri dan kemudian masuk pada lingkungannya sehingga dirinya dipandang sebagai makhluk yang harus bereksistensi atau aktif dengan sesuatu yang ada di sekelilingnya serta mengkaji cara kerja manusia ketika berada di alam dunia dengan kesadaran. Bangku Kayu dan Kamu Yang Tumbuh Di Situ merupakan konsep berpikir tentang manusia konkret. Bangku Kayu dan Kamu Yang Tumbuh Di Situ ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan objektif serta mengatasinya sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri dan memandang manusia  kepada jati-dirinya kembali.

Bangku kayu dan Kamu Yang Tumbuh Di Situ melihat manusia yang teruji adalah manusia yang cenderung melalui jalan yang terjal dalam hidupnya. Manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will the power). Untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super power dan mempunyai mental mencipta  supaya manusia tidak diam dengan kenyamanan saja. Bangku kayu dan Kamu Yang Tumbuh Di Situ adalah memusatkan semua hal kepada manusia dan mengembalikan semua masalah apa pun. Ujung-ujungnya adalah manusia sebagai subjek atau objek dari masalah tersebut.

Pertunjukan ini di buka dengan video yang disorot ke layar putih raksasa melalui projector sebagai penanda dimulainya adegan. Video tersebut menampilkan kehidupan masyarakat urban yang serba cepat. Kepadatan penduduk dan bangunan bertingkat hadir sebagai penanda zaman millenial saat ini. Pagi, siang, malam ke pagi lagi terasa begitu cepat. Kemacetan dan hiruk pikuk kota besar disajikan lewat video yang ditayangkan. Terasa betul bahwa kita saat ini memang sedang berada di masa ketika semuanya menuntut kecepatan, ketepatan dan kemewahan.

Bangku kayu hadir sebagai cikal bakal menuntut eksistensi manusia yang terus berproses. Proses itu dijalani dari lahir, sekolah, bekerja dan mati. Pada saat di bangku sekolah manusia menjalani pemprosesan yang unik seperti harus melipat tangan di atas bangku, menunjuk dengan tangan kanan dan nilai raport sebagai tanda eksistensi seseorang. Persaingan tersebut di dapat dengan berbagai upaya dari manusia itu sendiri yang pada hakikatnya manusia juga akan kembali kepadaNya.

Lewat pertunjukan Bangku Kayu, memperlihatkan betapa sekolah menjadi instrumen pembentuk karakter manusia. Hal ini ditunjukkan lewat adegan-adegan yang menggambarkan bagaimana aktivitas siswa ketika berada di sekolah. Adegan bagaimana menjawab pertanyaan guru, lalu bagaimana tugas-tugas itu diberikan dan dikerjakan oleh siswa meskipun semua tugas-tugas disukai oleh siswa. Apalagi mata pelajaran yang menuntut untuk menghafal rumus-rumus serta angka-angka. Namun dengan super power guru, siswa tetap harus menerima pelajaran tersebut. Akibatnya siswa menjadi manusia penghafal tanpa mampu mengembangkan kepribadiannya secara alamiah.

Pertunjukan didominasi oleh gerakan-gerakan tubuh, pose-pose dan benda-benda yang menimbulkan efek alienasi Brechtian. Efek alienasi yang ditampilkan oleh sutradara untuk menciptakan keanehan yang tak lazim dari satu kondisi masyarakat tertentu yang dianggap biasa. Padahal, kondisi yang lazim tersebut merupakan suatu konstruksi dari orang-orang yang diuntungkan dengan keadaan tersebut. Misalnya kondisi kepadatan penduduk yang sering dianggap sebagai suatu kewajaran sebagai ciri kota yang maju dan modern. Padahal, dibalik itu semua merupakan konstruksi dari agen-agen yang mendapatkan keuntungan. Serta masalah-masalah lain yang muncul akibat pertumbuhan kota-kota terutama masalah moral dan sosial.

Teknik akting tanpa make up, tanpa kostum dengan gaya yang santai memperlihatkan sang sutradara mencoba mengolah teknik akting Brecht untuk mengajak penonton mendiskusikan topik tertentu dalam pertunjukan. Para pemeran mengenakan kostum keseharian seperti menggunakan sepatu kets, kaos, kemeja, celana pendek tanpa make up. Begitu juga tata pentas dan lighting terlihat biasa saja bahkan cenderung tidak seperti pentas dalam suatu pertunjukan teater realisme yang menggunakan properti khusus.    

Properti yang digunakan hanya bangku kayu yang dibawa oleh aktor masing-masing ke atas pentas. Properti tersebut untuk memperjelas dalam membaca ulang isu pendidikan di Indonesia sejak dahulu hingga kini. Selama pertunjukan penonton dibuat bertanya-tanya sekaligus berpikir tentang kondisi kita saat ini terutama persoalan pendidikan. Cita-cita atau mimpi anak-anak yang pada masa dahulu didominasi ingin menjadi polisi, dokter, pilot dan presiden, saat ini sudah berganti menjadi politisi, menteri, bahkan pelacur. Adegan-adegan keseharian yang didekonstrukti ulang lewat bahasa tubuh cukup membuat penonton untuk mengkonfirmasi keadaan saat ini yang sedang berada di zaman guru menjadi tidak begitu penting ketika semua pengetahuan bisa didapat dengan mudah lewat teknologi.

Struktur cerita dalam pertunjukan ini dalam bentuk nyanyian dan komentar-komentar dari para aktor yang mengarah pada penonton. Selain itu, karakter dan kata-kata yang digunakan menjurus kurang ajar. Kata-kata “anjing, pelacur” dan sejumlah adegan yang bersifat kurang ajar muncul dalam pertunjukan ini. Namun demikian penggunaan kata-kata tersebut mampu menyadarkan penonton bahwa kita sedang berada dalam kondisi yang mengancam eksistensi manusia. Bisa jadi penyebabnya adalah pendidikan dan teknologi atau manusia itu sendiri.  

Bantuan operasional yang terhambat, kurikulum yang berubah-ubah serta masih adanya sekolah yang tidak representatif menghiasi kata-kata dan komentar-komentar selama pertunjukan berlangsung dengan komposisi aktor di atas panggung. Bangku kayu menjadi penanda bahwa semua manusia lahir dan besar lewat bangku kayu tersebut. Sementara kebijakan untuk mengelola hal itu belum juga tercapai. Berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini kita temui dalam pertunjukan Bangku Kayu. Misalnya, komentar tentang sistem demokrasi yang dianut saat ini menjadi dilematis ketika masih ada manusia Indonesia yang dibatasi haknya untuk bersuara. Dibatasi haknya untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Semua yang ada pada saat ini hanya menuntut pembangunan fisik, kecepatan tanpa mengedepankan ideologi dan identitas sebagai manusia.

Tugas, PR yang selalu dirasakan oleh manusia saat di bangku sekolah juga disinggung dalam beberapa adegan lewat kata-kata atau komentar-komentar aktor. Pelajaran membaca “ini budi” juga menjadi salah satu kata-kata yang muncul dalam adegan yang ditampilkan. Selain itu pelajaran bahasa inggris yang terlihat rumit bagi siswa menunjukkan betapa konyolnya manusia ketika sedang melalui proses yang bernama “sekolah”. Kita seakan sedang berkaca sekaligus menertawakan kehidupan yang sedang kita jalani saat ini.

Adegan proses pembelajaran di sekolah membuat penonton berpikir kembali terkait kualitas guru serta kurikulum yang ada di Indonesia saat ini untuk membentuk manusia-manusia yang tangguh. Masyarakat belajar, UN, PNP, P4, Ulangan adalah perjuangan yang sangat mengasyikkan yang dipertontonkan dalam pertunjukan ini. “Tahun 2018 tahun spidol tapi mengapa masih digores dengan kapur” komentar-komentar ini seakan menampar betapa sebetulnya kita sedang mengalami kemunduran berpikir akibat budaya instan, hedonisme dan budaya ingin berkuasa. Masih banyak masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis. Masih banyak manusia yang terjebak dalam pikiran yang kabur.

Lagu ibu kita kartini yang sering dinyanyikan pada saat sekolah juga ditampilkan dalam salah satu adegan. Hal ini membuat penonton berpikir betapa sekolahan saat ini sudah jarang menyanyikan lagu-lagu nasional. Kehadiran lagu-lagu pop dan lagu-lagu yang berasal dari luar negeri lebih banyak digunakan ketimbang lagu-lagu nasional. Akibatnya banyak manusia Indonesia yang tidak tahu dengan lagu sendiri. Adapula adegan pelajaran membaca puisi yang memperlihatkan kepada penonton betapa pelajaran-pelajaran yang mengasah rasa dan jiwa manusia seperti membaca puisi sudah semakin jarang diajarkan di sekolah-sekolah. Yang ada hanyalah menghafal-hafal rumus dan pelajaran yang kaku. Sementara pelajaran ilmu budaya dan sosial dianggap tidak mampu membawa manusia menemui eksistensinya.

Dunia percintaan di sekolah, serta kebahagiaan selama menjadi siswa ditampilkan lewat olah tubuh dan pose-pose serta benda-benda yang dihadirkan ke atas panggung sebagai gaya ucap sutradara. Gerakan dan pose tersebut mengekspresikan berbagai aktivitas dan suasana selama di sekolah. Ijazah dianggap sebagai salah satu penanda eksistensi manusia. Sementara banyak manusia yang tidak punya ijazah namun memiliki kemampuan luar biasa tetapi tidak bisa dimaksimalkan karena ketiadaan ijazah di era saat ini.

Kekacauan dalam kehidupan manusia saat ini ditunjukan lewat kehadiran musik pengiring seakan kita sedang berada di luar angkasa. Musik dan tayangan video mempertegas setiap perpindahan adegan demi adegan. Kehadiran musik ini pula dapat membangkitkan daya kritis penonton terhadap setiap kata-kata, komentar-komentar dan gerak tubuh aktor. Walau demikian, penonton cukup terhibur dengan pertunjukan teater yang minim dialog ini.

Pertunjukan ditutup dengan gerakan jalan mundur oleh aktor-aktornya diringi dengan tayangan video ke kain putih raksasa dan musik yang dapat membangkitkan daya kritis penonton. Hal ini mempertegas gaya pengucapan teater epik oleh sang sutradara untuk membuat penonton melihat fenomena yang terlihat biasa dan lazim menjadi sesuatu yang tidak biasa atau lumrah.  Bahwa sebenarnya kehidupan kita ini sedang berjalan mundur sama seperti kehidupan modern atau masyarakat urban saat ini, sebetulnya juga sedang berjalan mundur. Mundur belas kasihnya, mundur toleransinya, mundur rasa sosialnya yang ada hanya manusia-manusia individualis, materialistis, manusia-manusia hedonis.

*) Penggiat Budaya Jambi Komunitas Gemulun Indonesia


Penulis: Sean Popo Hardi *)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments