Minggu, 20 Juni 2021

Radio di Masa Kini

Oleh: Reski Emilia *)

Minggu, 11 November 2018 | 19:05:41 WIB


ilustrasi
ilustrasi / Istimewa

SIAPA yang hari ini sudah mendengarkan radio? Di masa kini, rata-rata anak muda jarang mendengarkan radio.  Pada survei Nielsen Indonesia sampai kuartal ketiga tahun 2017 menyebutkan jumlah pendengar radio mencapai 62,3 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Sekarang ini pendendengar radio didominasi anak muda sebanyak 56 persen. Sedangkan 44 persen lainnya orang dewasa. Tetapi, anak muda sekarang jarang mendengarkan radio.

 

Perkembangan teknologi yang kini semakin modern sedikit demi sedikit mulai menggantikan posisi radio, karena adanya media televisi dan internet yang dianggap jauh lebih menarik. Padahal radio tak hanya sekedar sebagai media hiburan saja, tetapi juga bisa menjadi wadah bagi anak muda untuk mengembangkan kebudayaan daerahnya dan penjaga kebudayaaan di tengah derasnya arus globalisasi yang dibawa internet.

 

Tak hanya itu, kelebihan radio daripada media televisi yakni radio itu praktis saat digunakan, kita dapat mendengarkan  radio dimana saja, seperti ketika mengendarai mobil dan tentunya radio kini sudah canggih dan mudah sehingga dapat diakses melalui internet menggunakan smartphone.

 

Di masa lampau, radio mempunyai peran penting untuk menginformasikan kemerdekaan Indonesia. Di masa itu radio menjadi media komunikasi paling efektif jika dibandingkan dengan media cetak, karena tidak memerlukan waktu lama dalam penyebarannya. Hal ini karena radio memanfaatkan gelombang elektromagnetik, sehingga pendengar bisa langsung dengan cepat mendengarkan informasi yang disiarkan.

 

Selain itu, sebagian besar masyarakat Indonesia saat itu sudah mempunyai radio. Seiring perkembangannya, radio tak hanya berfungsi untuk menyiarkan berita. Lebih dari itu, radio menjadi sarana penyebaran tren dan informasi lainnya, mulai dari sandiwara radio, lagu-lagu terbaru, hingga sejumlah wawancara diputar dan disiarkan di radio.

Bertepatan dengan Hari Radio Nasional tanggal 11 September lalu, seorang praktisi media radio mengungkapkan bahwa radio tidak dapat bertahan pada tampilan dan gaya lama yang hanya berfungsi sebagai media hiburan. Sehingga, radio harus mampu menampilkan pesona dan daya tarik yang mampu menggerakan masyarakat mendengarkan radio sebagai sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat secara umum.

 

Tak hanya menjadi media hiburan, radio juga dapat menjadi sarana mengembangkan kebudayaan daerah. Ada suatu pernyataan, ‘Dalam menaklukan sebuah negara sekarang ini bukan lagi dengan aksi militer, tetapi dengan cara masuk dan merusak budaya setempat’. Hal ini dikarenakan kebudayaan yang mulai sedikit demi sedikit tergerus karena adanya pengaruh dari budaya luar. Untuk menanggulangi hal tersebut, radio juga memiliki peran penting. Salah satu peran radio untuk tetap mempertahankan kebudayaan seperti adanya siaran tentang budaya daerah setempat, lagu-lagu daerah dan diskusi mengenai kebudayaan daerah. Oleh karena itu, radio tak hanya sebagai media informasi dan hiburan saja melainkan memiliki peran dalam kebudayaan daerah.

 

Dengan adanya siaran mengenai kebudayaan daerah, radio dapat dengan cepat menyebarkan infomasi, dan pengetahuan tentang kebudayaan kepada pendengar. Tak hanya itu, pendengar pun dapat berbagi pengetahuan kebudayaan dengan bercerita melalui siaran tersebut bersama announcernya.

 

Hal  ini tentunya menjadi dampak yang baik bagi para anak muda untuk lebih menambah wawasan mereka tentang kebudayaan daerahnya, dan dapat mempertahankan eksistensi budaya daerah, sehingga tidak tergerus oleh perkembangan teknologi. Dan kini, era radio telah bertransformasi menjadi lebih modern. Teknologi yang dibutuhkan untuk akses radio lebih maju. Radio bisa diakses menggunakan smartphone berbasis jaringan data internet. Sehingga tidak ada lagi alasan anak muda untuk tidak mendengarkan radio.

 

 

 

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unja


Penulis: Reski Emilia
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments