Senin, 26 Agustus 2019

Garuda Indonesia Masih Punya Harapan


Senin, 20 Mei 2019 | 14:16:27 WIB


Triananda Maulana
Triananda Maulana / istimewa

Oleh Triananda Maulana

TRANSPORTASI udara merupakan sektor yang memegang peranan vital untuk perkembangan perekonomian khususnya pada negara kepulauan seperti Indonesia. Sektor pariwisata akan berkembang cukup pesat ketika ditunjang dengan fasilitas transportasi udara yang memadai. Selain sektor pariwisata, upaya pemerataan penduduk atau yang biasa disebut transmigrasi tidak begitu sulit dilaksanakan oleh pemerintah.

Melihat kondisi Indonesia saat ini dimana perekonomian masih terpusat di Pulau Jawa, diperlukan upaya pemerintah untuk membuat sebuah gerakan transmigrasi. Rencana pemindahan pemerintahan dari DKI Jakarta bisa menjadi langkah awal yang baik sebagai salah satu upaya pemerintahan untuk menggerakkan roda perekonomian menjuju pulau – pulau lain di luar Pulau Jawa. Hal ini akan memiliki dampak yang signifikan jika dibarengi dengan peningkatan fasilitas transportasi publik khususnya transportasi udara.

Secara statistik, jumlah penumpang pesawat di lima Bandara Udara terbesar di Indonesia terus mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik dalam situs resminya merilis data yang menunjukkan tren positif selama sepuluh tahun dari 2008 hingga 2018. Data ini merupakan sebuah indikasi bahwa minat masyarakat terhadap transportasi udara terus bertumbuh. Masyarakat semakin menyadari kebutuhan akan pesawat sebagai moda transportasi yang paling ekonomis dari segi waktu pada negara kepulauan seperti Indonesia. Sebagai perbandingan, jika ingin menuju Balikpapan dari Surabaya menggunakan jalur darat dan laut, dibutuhkan sekurang-kurangnya 25 jam dengan asumsi perjalanan lancar dan tidak ada kendala saat berada di kapal laut, sedangkan jika menggunakan pesawat hanya dibutuhkan waktu tempuh selama 1,5 jam saja.

Pemerintah, sebagai penanggung jawab keberlangsungan suatu negara, sudah sepatutnya berupaya untuk menyediakan fasilitas transportasi udara yang memadai. Sejak awal kemerdekaan, pemerintah sadar betul akan pentingnya penyediaan fasilitas di sektor penerbangan ini hingga akhirnya didirikan maskapai penerbangan berplat merah pada tanggal 26 Januari 1949 dengan nama KLM Interinsulair Bedrifj yang kemudian berganti nama menjadi Garuda Indonesia Airways.

Jumlah pengguna layanan maskapai penerbangan yang meningkat ternyata tidak berbanding lurus dengan performa Garuda Indonesia. Terbukti dari laporan keuangan Garuda Indonesia yang terus menunjukkan penurunan laba dari 2014 hingga 2017. Bahkan perusahaan mencatatkan kerugian sebesar 371 juta USD pada tahun 2014 dan 213 juta USD pada tahun 2017 (kurs sesuai tanggal laporan keuangan). Pada tahun 2015 dan 2016 perusahaan mencatat keuntungan bersih sebesar masing-masing 77 juta USD dan 9,3 juta USD. Jumlah yang kurang signifikan dibandingkan dengan kerugian yang diderita pada tahun 2014. Pada 2016, perusahaan gagal melanjutkan momentum positif dengan hanya mengantongi keuntungan bersih sebesar 9,3 juta USD. pada tahun 2018 perusahaan mecatatkan keuntungan bersih sebesar 5 juta USD namun dua komisaris Garuda Indonesia menolak untuk menandatangani laporan keuangan perusahaan periode tahun 2018. Kedua pihak beranggapan bahwa pendapatan perusahaan dari kontrak kerjasama dengan pihak ketiga sebesar 200 juta USD belum bisa diakui sebagai pendapatan tahun 2018.

Performa Garuda Indonesia yang mengecewakan sebenarnya bukan tanpa sebab. Jika dilihat dari laporan keuangan selama 4 tahun dari 2014, perusahaan mencatatkan beban operasional yang cukup besar. Kita ambil contoh pada 2014, perusahaan mencatatkan pendapatan usaha sebesar 3,9 Milyar USD dengan beban usaha sebesar 4,2 Milyar USD. Pada 2015 hingga 2016 perusahaan mencatatkan penurunan beban usaha di angka 3,7 Milyar USD. Namun perusahaan gagal melanjutkan momentum positif tersebut, ditunjukkan dengan meningkatnya beban usaha pada 2017 dan 2018 senilai 4,2 Milyar USD dan 4,5 Milyar USD. Bahkan beban usaha pada 2018 tercatat lebih tinggi dari beban usaha pada 2014. Perusahaan berpendapat bahwa kenaikan beban usaha tersebut akibat dari naiknya harga minyak dunia yang berdampak pada performa perusahaan. Pada laporan keuangan perusahaan periode 2018, beban bahan bakar tercatat sebesar 1,4 Milyar USD atau sebesar 30% dari total beban usaha perusahaan. Beban usaha selain beban operasi menyumbang 40% dari total beban usaha.
Yang menjadi tanda tanya besar sekarang ini adalah apakah memang beban usaha industri penerbangan begitu tinggi? Pada 5 tahun terakhir, faktanya banyak perusahaan penerbangan di dunia yang juga merugi. Pada belahan dunia lain, Amerika Serikat, hampir 100 perusahaan penerbangan mengalami kerugian dan bangkrut. Demikian juga di Eropa. Air Berlin, salah satu maskapai penerbangan terbesar di Jerman menyatakan diri bangkrut pada pertengahan tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa industri penerbangan dunia sedang bergelut dengan permasalahan mahalnya biaya operasional.

Garuda Indonesia, yang merupakan Badan Usaha Milik Negara, bukan tidak mungkin akan mengikuti jejak Air Berlin jika tidak segera berbenah dan mencari solusi terkait permasalahan-permasalahan yang terjadi. Tentunya akan sangat disayangkan jika hal ini terjadi. Pasalnya, Indonesia merupakan satu dari sedikit negara Kepulauan dengan jumlah populasi menempati peringkat empat dunia. Kondisi tersebut menjadikan moda transportasi udara sangat diminati. Jadi, sejatinya maskapai penerbangan Indonesia sudah diuntungkan secara geografis untuk rute penerbangan lokal.

Berita baiknya, tidak semua maskapai penerbangan dunia mengalami kerugian. Terdapat beberapa perusahaan penerbangan yang memiliki pertumbuhan keuangan yang positif dan sehat. Contohnya maskapai penerbangan milik negara tetangga, Singapore Airlines. Singapore Airlines pada 5 tahun terakhir tercatat selalu menghasilkan laba positif, bahkan, pada 2017, perusahaan tersebut mencatatkan kenaikan laba hingga 148%. Sebuah performa yang fantastis mengingat banyaknya maskapai penerbangan yang merugi pada tahun tersebut. Kemajuan Singapore Airlines ini tak lepas dari komitmen bersama seluruh manajemen perusahaan. Perubahan internal pada strategi bisnis seperti perbaikan pada manajemen pendapatan dan sistem harga sangat membantu perusahaan dalam mencapai keuangan yang positif.

Singapore Airlines dapat menjadi bukti, bahwa sektor penerbangan masih memiliki harapan. Dibalik banyaknya permasalahan yang terjadi, jika dilihat secara objektif, industri penerbangan menjadi salah satu kunci utama untuk penggerak ekonomi suatu negara khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia.
Penulis berharap, maskapai-maskapai tanah air seperti Garuda Indonesia mampu mencari solusi terkait masalah-masalah internal maupun eksternal perusahaan. Hal tersebut bukanlah suatu hal yang mustahil jika melihat kinerja Singapore Airlines yang sudah dijabarkan sebelumnya. Dengan komitmen dan kerja keras, serta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk terus menggunakan jasa maskapai-maskapai penerbangan lokal, penulis yakin, Garuda Indonesia akan kembali berjaya di Tanah Air atau bahkan di dunia sehingga akan memberikan kesan positif terhadap Indonesia di mata Dunia.

Penulis adalah Mahasiswa PKN STAN


Penulis: Triananda Maulana
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments