Jumat, 14 Desember 2018

Dunia, Kertas dan Kita

(Memperingati Hari Pohon Sedunia)

Senin, 26 November 2018 | 14:06:42 WIB


/

BANYAK manusia yang hidup bergantung pada kertas. Hampir setiap hari kertas digunakan disekeliling kita. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa semua mengkonsumsi kertas dengan berbagai keperluan. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa produksi dan konsumsi kertas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perusahaan yang bergerak dibidang penyedia kertas (Hutan Tanaman Industri) sangat kewalahan untuk memenuhi hal itu.

Akibatnya, perusahaan terus berusaha untuk memperluas lahan usaha serta memikirkan teknologi terbarukan untuk memenuhi permintaan pasar akan kertas.

Untuk memenuhi bahan baku kertas, tanpa disadari kita membuat dunia kehilangan 1.733 hektare hutan setiap harinya. Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya hutan kita hilang hampir setara dengan Pulau Bali. Artinya, kertas-kertas yang kita gunakan juga salah satu penyumbang terbesar penyebab global warming. Ingat, kertas yang kita pakai berasal dari pohon. Satu batang pohon membutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk dapat dijadikan bahan baku kertas. Itupun dengan asumsi bahwa pohon tersebut merupakan pohon dengan pertumbuhan yang cepat (fast growing).

Jika kita lihat konsumsi kertas dari kaum akademisi, seperti mahasiswa. Dimana hari-harinya diharuskan untuk memenuhi tugas seperti laporan, makalah bahkan skripsi yang harus diserahkan dalam bentuk hard copy (print out). Tentu pemakaian kertas tidak ada habisnya. Ambil saja 1 contoh salah satu universitas di Jambi yang jumlah mahasiswanya sekitar 2.000 mahasiswa.

Bayangkan saja, jika per-mahasiswa menyerahkan kewajiban tugas dalam bentuk hard copy sebanyak 100 lembar kertas setiap harinya. Jika ditotalkan dari jumlah mahasiswa tersebut, untuk satu universitas saja dapat menggunakan sebanyak 200.000 lembar kertas per-hari. Ini baru satu hari dan baru satu contoh universitas. Bayangkan jika dihitung penggunaan kertas mahasiswa selama 5 tahun, berapa banyak? Tentulah sangat banyak.

Kondisi konsumsi kertas ini juga tidak terlepas dari kurang maksimalnya penggunaan kertas oleh kaum akademisi. Mahasiswa sendiri sangat tahu mengenai tata aturan penulisan. Penulis ambil contoh, penulisan dengan batas tepi (margin) 4-3-3-3 juga menyita banyak ruangan dalam lembar kertas. Memberi space kosong pada lembar kertas samping, atas dan bawah. Belum lagi tata aturan penulisan kaya ilmiah yang mengharuskan menggunakan spasi ganda yang lebih mempersedikit kata yang ditulis pada lembar kertas membuat mahasiswa mau tidak mau harus mengikuti tata aturan tersebut.

21 November 2018 diperingatinya kembali sebagai hari pohon sedunia, penulis sendiri yang merupakan mahasiswa kehutanan di salah satu universitas di Jambi mulai tergerak hati untuk menyuarakan dalam bentuk tulisan. Betapa tidak sadarnya kita, bahwa kaum akademisi juga berperan dalam eksploitasi hutan Indonesia. Kaum akademisi jugayang membuat para pelaku ilegal logging semakin marak di luar sana, demi memenuhi kebutuhan kertas kita.

Jadi, masih pantaskah kita menuding pihak-pihak lain sebagai penyebab kerusakan hutan? Padahal kaum intelektual jugalah yang tampaknya berperan aktif sebagai sumber utama masalah kerusakan hutan. Hal yang ditakutkan, jika kita tidak memperbaiki pola konsumsi kertas kita sejak saat ini. Maka akan menjadi kebiasaan kita untuk selalu menggunakan kertas dalam jumlah besar.

Laporan, makalah, karya ilmiah dan lain sebagainya memanglah cara yang bijak untuk menemukan solusi dari segala permasalahan yang ada disekeliling kita. Hanya saja, jika prosesnya menimbulkan banyak masalah yang sadar atau tidak sadar sangat berpengaruh pada lingkungan, sama saja tidak ada pertanggungjawaban atas semua itu.

Sudah saatnya universitas memikirkan untuk mencetak kaum intelektual yang tidak sekedar pandai dalam bidang akademisi namun juga perduli akan kelestarian alam dan lingkungan. Fakultas yang bergerak dibidang lingkungan terutama kehutanan kiranya perlulah membuat kebijakan untuk penggunaan pemaksimalan lembar kertas. Tentunya dibuat dengan berbagai ketentuan yang disepakati bersama.
Seringkali pengguna kertas (mahasiswa) hanya memanfaatkan 1 sisi lembar kertas, apalagi sewaktu bimbingan skripsi. Jika salah, maka seringkali mahasiswa melakukan revisi dan melakukan print out kembali dengan kertas yang baru. Padahal kertas yang diawal tadi dapat saja dimanfaatkan sisi sebelahnya lagi umtuk memaksimalkan penggunaan kertas.

Penggunaan dua sisi lembar kertas juga sangat perlu dilakukan untuk kasus kasus tertentu, seperti laporan praktikum, makalah, draft dan lain sebagainya. Hal ini juga akan menghemat penggunaan kertas. Karena jika kita butuh 100 lembar kertas, maka dengan mencetaknya menjadi dua sisi akan menghemat menjadi 50 lembar kertas saja.

Kini zaman juga sudah maju. Teknologi dimana-mana digunakan. Menghemat penggunaan kertas dapat jugadengan memaksimalkan pemanfaatan email oleh mahasiwa dan tenaga pendidik. Selain hemat kertas, mahasiswa juga terbantu untuk tidak mengeluarkan biaya lebih dalam mencetak tulisan di lembar kertas. Ini semua tidak harus, namun bisa saja jadi pertimbangan untuk kita bersama, untuk dunia kita yang lebih baik.

Terima kasih, Salam lestari.

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Jambi


Penulis: Oleh : Ihsan Santana *)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments