Jumat, 14 Desember 2018

Jangan Sampai Ceroboh Saat Pilih Caleg


Senin, 03 Desember 2018 | 14:13:35 WIB


/

UNTUK Pemilu 2019 nanti tergantung pada elit politik. Kalau mereka benar-benar komitmen memperjuangkan dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan segala-galanya, insya Allah untuk mewujudkan menuju damai Pemilu 2019 akan terwujud.

Akan tetapi apabila sebaliknya, ini pertanda kemunduran di dunia perpolitikan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Dengan beberapa uraian di atas dapat kita klarifikasi bahwa harapan kita bersama ialah kandidat-kandidat yang punya kompetensilah yang akan benar-benar memperjuangkan suara-suara rakyat.

Namun yang jadi pertanyaan seperti apakah harapan kita, seperti apa kualitas Calon Anggota Badan Legislatif (Caleg) sekarang? Ini harus kita tentukan sejak saat ini.

Jangan sampai pesta demokrasi hanya menjadi ajang candaan kepada masyarakat Jambi tanpa si Caleg tahu bagaimana Jambi ke depannya.
Tak hanya itu, untuk menentukan sebuah pilihan politik pada Pemilu kita pastinya mendapatkan pertimbangan dari kuping ke kuping, mulai black campaign, isu SARA, propaganda serta fitnah yang yang dimainkan oleh elit politik.

Pastinya ini akan membuat masyarakat harus mempertimbangkan pilihan tanpa landasan yang tepat.

Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa dalam memilih Caleg tentu harus berkualitas. Sebab dari pengalaman beberapa pemilu lalu banyak anggota legislatif memiliki keterkenalan yang luar biasa, akan tetapi saat bekerja nihil hasilnya.

Hal itu disebabkan karena pada saat pemilihan kita tidak punya acuan jelas untuk memilih Caleg yang berkualitas. Sehingga pada saat kita membutuhkan realisasi dari ocehan mereka saat kampanye, tentu tak bisa diterapkan.

Untuk memilih Caleg yang berkualitas, paling tidak kita memiliki beberapa kriteria penilaian secara umum, yaitu mandiri dalm berfikir, kepedulian sosial dan kuat secara keimanan.

Mandiri dalam berfikir (mencukupi syarat-syarat intelektual)

Hal yang bersifat prinsipil seperti ini tak boleh kita lupakan begitu saja. Caleg harus memiliki gagasan keilmuan dan wawasan serta bisa dipertanggungjawabkan secara total. Kemampuan ini tidak hanya dibuktikan dengan selembar ijazah atau gelar yang berderet panjang di depan atau di belakang namanya. Tapi gelar panjang lebar itu harus berdampak kepada kesejahteraan masyarakat. Untuk apa punya gelar panjang lebar tapi tetangga di samping rumah kelaparan.

Karena banyak di negeri ini terutama Provinsi Jambi yang bergelar dan berijazah namun kualitas berfikirnya dipertanyakan. Pendidikan tinggi memang membantu memiliki kematangan integritas intelektual.

Indikatornya adalah mampu bijak dalam menentukan solusi dalam kesenjangan sosial dengan cepat dengan tidak mengorbankan golongan tertentu.

Kualitas intelektual Caleg bisa dilihat ketika dia berpidato/kampanye. Apakah bahasanya baik dan berbobot, bisa menulis gagasan serta mau mendengarkan keluhan warga dan mencari jalan keluar? Tapi jika ia memenuhi syarat-syarat intelektual pastinya kita tidak ragu lagi dalam segi tataran konsep.

Kebiasaan yang seperti ini nantinya akan menjadi modal awal dalam menjalankan tugas dan wewenang sebagai anggota badan legislatif untuk membuat peraturan atau legislasi, pengawasan kontrol dan menyusun anggaran budgeting.

Bagaimana mungkin seorang dewan perwakilan rakyat bisa bekerja sesuai tugasnya jika para anggota dewan tersebut tidak bisa menulis, menyampaikan gagasan dan memperjuangkan aspirasi rakyat di gedung parlemen.

Jika poin ini tidak kita hiraukan, nanti akan terbukti pada output kebijakan dan produk hukum yang tidak pro rakyat, banyak masalah publik yang terabaikan, anggaran yang tidak memihak kesejahteraan masyarakat.

Padahal di sisi lain, pihak pejabat eksekutif sudah terdidik dan terlatih dalam membuat kebijakan publik. Sementara anggota dewan setiap periode pasti ada wajah baru yang manggung, dengan kemampuan yang beragam.

Kepedulian Sosial
Kriteria ini dapat kita ukur mulai dari sebelum di tentukan sebagai Caleg dan setelah usai pesta demokrasi. Tentunya yang peduli hanya saat momen politik saja itu cuma pencitraan dan tidak murni peduli kepada masyarakat.
Apakah sebelum dan selama menjadi anggota dewan tetap merakyat? Memperjuangkan kepentingan umum atau tidak? Jika tidak, kesimpulannya dia bukan pejuang sejati tetapi seorang oportunis. Dengan kata lain, kita hanya sia-sia jika harus memilih kembali anggota dewan atau caleg sepertiitu.

Kuat Secara Keimanan
Kriteria bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa harusnya variable yang terukur, bukan sekadar bukti fisik Kartu Tanda Penduduk bahwa dia warga negara yang beragama.

Bentuk lain dari bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dilihat dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, masyarakat dan lingkungan kerjanya selama ini.

Moral dalam kejujuran, keberanian membela yang benar, mengajak dan mengajarkan kebenaran, menegur dan mencegah kejahatan.
Dengan sikap ini kita yakin seorang caleg akan konsisten memperjuangkan kebenaran demi kesejahteraan masyarakat.

Apakah perilaku Caleg nanti masih seperti pada Pemilu sebelumnya? Jika Caleg belum siap mengubah diri untuk ke depannya, mending bantu kesejahteraan rakyat dari sisi lain saja seperti ikut para petani mencangkul di kebun dan berjualan di pasar tradisional. Jangan sampai ketidakmampuan personal ini merecoki sistem demokrasi.

Dari tulisan ini mari sama-sama kita mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia, Jambi terutamanya agar memanfaatkan kesempatan pemilu mendatang memilih Caleg yang betul-betul memiliki kapabilitas dan integritas yang tidak diragukan.

Mari kita renungkan sejenak, jika kita salah dalam pilihan pastilah lima tahun ke depan Jambi ini akan lebih memalukan, dan kehancuran menunggu kita.

*) Penulis adalah mahasiswa dan pegiat literasi, tinggal di Jambi


Penulis: Andri Septiawan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments