Selasa, 20 Agustus 2019

Sike, Dominasi Agama Islam Dalam Kebudayaan Kerinci


Minggu, 09 Desember 2018 | 12:14:23 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

M. Ali Surakhman

SELAMAT datang di Serambi Madinah: Sekepal Tanah Surga yang Tercampak di bumi. Slogan ini bisa saya jumpai di gapura Bandara Depati Parbo Kerinci. Slogan yang kemudian memberi isyarat kepada saya akan suburnya tanah di Kerinci, dan penduduknya merupakan pemeluk Islam yang taat.

Masyarakat Kebudayaan Kerinci, dalam beberapa aktivitas budayanya dipengaruhi oleh adanya kepercayaan lain selain ajaran Islam, misalnya aktivitas menjaga sko (pusaka). Bagi orang Kerinci, menjaga sko merupakan penghormatan terhadap leluhur, sehingga benda-benda peninggalan leluhur itu, kemudian dijadikan sebagai benda pusaka.

Sko disimpan dan dijaga oleh masyarakat dengan cara menempatkannya di rumah seorang tetua adat, sehingga tidak mudah untuk melihat atau menurunkan sko tanpa melewati persyaratan adat yang ditentukan oleh para depati dan ninik mamak.

Selain sko, penemuan benda-benda purbakala di Kerinci berupa batu-batu bergambar dengan motif “manusia kangkang”, matahari dan upacara-upacara sakral masyarakat yang menyertakan pembakaran kemenyan menunjukkan bahwa masyarakat Kerinci, sebelum masuknya Islam telah menganut kepercayaan tertentu.

Pengaruh agama selain Islam di Kerinci hanya dapat ditemukan dengan melihat aktivitas budaya dan peninggalan–peninggalan purbakala, tidak temui sumber tertulis yang menyebutkan bahwa adanya pengaruh Hindu, Budha, dan kepercayaan lainnya di Kerinci.

Menurut Kozok (2006:41), benda-benda yang pernah dimiliki oleh seorang leluhur sering dianggap sakral dan disimpan sebagai pusaka.

Hal ini terutama penting bagi kaum elit tradisional seperti para depati di Kerinci. Pusaka Kerinci lazim dilihat sebagai wujud nyata kebesaran nenek moyang dan menjadi bukti bahwa keturunannya berhak atas gelar-gelar yang disandang para lelulur mereka, penurunan sko sering dikaitkan dengan upacara penobatan seorang depati.

Agama Islam di Kerinci disebarkan oleh kaum Siak dari Minangkabau dan beberapa ulama asal Kerinci, media penyebarannya adalah dengan berdagang dan Kesenian, dampaknya dapat dibuktikan dengan beberapa seni tradisi yang dimiliki oleh Masyarakat Kerinci. diantaranya adalah tari rangguk dan sike.

Sike berasal dari kata Zikir, sike merupakan perpaduan antara budaya daerah dengan ajaran Islam, pertunjukan dilakukan oleh kaum laki-laki dan perempuan. Mereka menabuh rebana sambil bersenandung untuk pujian kepada Nabi besar Muhammad SAW, selain pujian kepada Nabi Allah; pesike mengungkapkan beberapa kalimat berbahasa Kerinci, berikut kutipan bait sike:

Rilok ralah ranyo rilok, ha Illallah

Dimunyusun jaroi, haillallah

Ranok janten kamai

Allah ya Maw lea

Rilok ralah ranyo rilok, ha Illallah

Dimunyusun negri, ha Illallah

Ranok janton Kamai

Haillah, ranok janton kamai

Allah ya maw le

(Diambil dalam Buku 2 Tambo Sakti Alam Kerinci, Iskandar Zakaria)

Terjemahan

Elok lah Elok, ha Illallah

menyusun Jari, haillallah

Anak laki-laki kami

Allah ya Maw le

Elok lah elok, ha Illallah

menyusun negeri, ha Illallah

Anak jantan kami

Haillah, anak jantan kami

Allah ya Maw le

Sumber :

Nukman. SS. M.Hum, (Budayawan, Pengiat Tradisi Lisan, dan Peneliti Kantor Bahasa Jambi), Tale keberangkatan haji keberlanjutan sistem sistem pewarisan


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments