Minggu, 20 Oktober 2019

Belajar dari Semangat Widiasih dan Gideon


Senin, 17 Desember 2018 | 10:01:43 WIB


Semangat Pantang Menyerah Marcus Gideon dan Ni Nengah Widiasih Menjadi Inspirasi Program Hero Project Toyota
Semangat Pantang Menyerah Marcus Gideon dan Ni Nengah Widiasih Menjadi Inspirasi Program Hero Project Toyota / istimewa

JAKARTA- Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dicapai selama manusia mau berusaha, gigih, dan disiplin untuk meraih impian dan tujuan hidup.

Hal itu setidaknya yang diungkapkan dua atlit Indonesia, Ni Nengah Widiasih dan Marcus Fernaldi Gideon, yang digandeng Toyota Indonesia dalam "Hero Project" kampanye global Toyota bertajuk "Start Your Impossiable."

Malam itu, di hadapan puluhan jurnalis Ni Nengah Widiasih yang biasa dipanggil Widi bercerita perjalanan panjangnya menembus rintangan dan keterbatasannya sebagai disabilitas hingga menjadi peraih banyak medali untuk ajang olah raga angkat berat, baik tingkat nasional maupun internasional Lumpuh sejak usia anak-anak, Widi kecil sering ikut menemani kakak laki-lakinya latihan angkat berat.

"Waktu itu pelatih kakak saya bilang dari pada cuma lihat, kenapa tidak ikut latihan saja," ujar peraih medali perak pada Asian Para Games 2018 di Jakarta itu.

Mulailah, Widi yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kala itu latihan angkat berat. Namun, rasa bosan sering hinggap. Widi kecil sering malas latihan.

Beruntung sang kakak dan pelatih tahu kesukaan Widi kecil pada ice cream. Dengan iming-iming itulah, ia kembali semangat berlatih, hingga akhirnya pada saat kelas 6 SD mampu menjadi juara pada Kejurnas Angkat Berat.

"Jadi dari keinginan cuma dapat ice cream," ujarnya tersenyum geli mengingat awal kariernya nyemplung ke dunia angkat berat.

Sejak itulah, beragam prestasi dan medali diraih perempuan kelahiran, Karangasem (Bali) 12 Desember 1989 itu.

Namun semua itu tidak diperolehnya dengan mudah. Widi mengaku harus terus berlatih sangat keras dan disiplin untuk meningkatkan kemampuannya, meski tak jarang hasil yang diperoleh tak sesuai harapan.

Contohnya, ketika seleksi untuk masuk Paralympic Games 2020 di Tokyo, Widi hanya masuk empat besar. Begitu juga pada Asian Para Games 2018 lalu ia hanya meraih perak dari target mempersembahkan emas untuk Indonesia.

Namun, ia tidak patah semangat, tak mudah terpuruk. Bayangan orang tua dan keinginan membanggakan mereka, mengatasi segala keterbatasannya untuk meraih prestasi.

"Jangan takut gagal. Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau jatuh, coba lagi," ujar peraih medali perunggu pada Olimpade 2016 di Rio de Janeiro, Brazil, itu.

Oleh karena itulah, ia mengajak masyarakat Indonesia khususnya kalangan anak muda untuk berani bermimpi besar dan mengatasi segala keterbatasan demi mewujudkan mimpi tersebut.

"Bermimpilah, karena mimpi itu gratis, namun jangan lupa berusaha dengan semangat pantang menyerah untuk mewujudkannya," ujarnya lagi.

Sementara itu, Marcus Gideon yang tidak sempat hadir pada temu ramah akhir tahun Toyota Indonesia dengan media, hanya menyampaikan pesan lewat rekaman video.

Saat itu Marcus Gideon yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya tengah berlaga di Badminton World Federation (BWF) World Tour Finals di Guangzhou China.
Gideon atau akrab disapa Minions, bersama pasangannya, Kevin Sanjaya Sukamuljo, terpaksa mundur dari kejuaraan World Tour Finals 2018 di Guangzhou akibat cedera otot leher yang dialami Marcus.

"Otot leher Marcus ketarik pada pertandingan kemarin. Kami khawatir kondisinya semakin parah sehingga kami memutuskan agar mereka mundur," kata pelatih ganda putra pemusatan latihan nasional Aryono Miranat seperti tercantum dalam situs resmi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Minions semestinya akan menghadapi pasangan Han Chengkai/Zhou Haodong pada laga ketiga grup A World Tour Finals 2018 nomor ganda putra di Guangzhou, Jumat.

Terlepas dari itu, juara dunia badminton itu menilai spirit "Start Your Impossiable" cocok dengan pengalaman hidup dan kariernya di bulu tangkis, serta sesuai dengan "fighting spirit" seorang atlet.

Marcus yang telah mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia, mengaku pernah diragukan kemampuannya oleh banyak pihak.

"Namun saya tidak mau berputus asa dan punya keyakinan saya bisa berhasil," ujar pebulu tangkis yang dua tahun berturut-turut, 2016 dan 2017, dinobatkan oleh Badminton World Federation sebagai pemain terbaik itu.

Oleh karena itulah, pria kelahiran Jakarta 9 Maret 1991 itu merasa senang menjadi bagian dari "Hero Project" Toyota bersama 11 atlet lainnya dari delapan negara di Asia Pasifik di antaranya Indonesia, Singapura, Thailand, dan Pakistan.

Ia bersama Widi akan menularkan semangat pantang menyerah kepada generasi muda di Indonesia.

"Dua atlet Indonesia ini mewakili nilai-nilai filosofi Start Your Impossiable kami," kata Presdir PT Toyota Astra Motor (TAM) Yoshihiro Nakata ketika ditanya alasan menggandeng dua atlet tersebut.

Melalui kampanye global itu Toyota yang menjadi mitra utama pada Olimpiade dan Paralympic Games 2020 di Jepang, ingin mengajak masyarakat mengatasi halang rintang mewujudkan impian mereka.

Kampanye itu juga menandai transformasi Toyota dari perusahaan otomotif menjadi perusahaan mobilitas, yang mendukung dan memudahkan manusia bergerak tanpa hambatan.

"Start Your Impossiable bukan sekedar kampanye, kami ingin menginspirasi masyarakat, terutama anak-anak di daerah terpencil yang terbatas akses informasinya, punya semangat dan mengatasi keterbatasan mereka," ujar Wapresdir TAM Henry Tanoto menambahkan.


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments