Rabu, 19 Juni 2019

Polarisasi Publik Terhadap Branding Politik


Sabtu, 05 Januari 2019 | 13:52:27 WIB


/

PADA awal tahun 2019 ini suhu politik tanah air langsung panas akibat kontestasi politik yang semakin ramai digaungkan dengan tujuan untuk saling menjatuhkan demi meningkatkan elektabilitas. Awal tahun ini langsung dibuka dengan serangkaian isu berita bohong atau Hoaks dari salah satu kubu.

Ini baru diawal ketika kita baru saja memasuki tahun politik, lantas bagimana beberapa bulan kedepannya?  Pasti akan semakin kaos jika terus seperti ini. Lalu siapa yang dirugikan? Jelas masyarakat. Polarisasi disini harus dilakukan masyarakat.

Polarisasi yang dimaksud disini adalah proses, perbuatan, pembagian atas dua bagian (kelompok orang yang berkepentingan dan sebagainya) yang berlawanan, atau simpelnya adalah proses memilah mana yang baik dan yang buruk diantara kedua kubu yang bertentangan dengan membandingkan keduanya dengan analisis dan akal sehat.

Pentingnya polarisasi ialah agar tidak terjadi kesalahpahaman masyarakat terhadap segala hal (narasi politik) yang disampaikan oleh para pelaku politik yang cenderung digunakan untuk pencarian pembenaran bukan kebenaran.

Polarisasi dilakukan terhadap branding yang dilakukan oleh pelaku politik. Secara sederhana branding dapat diartikan sebagai “pemberian merk” terhadap suatu produk dengan tujuan untuk menanamkan kesan yang akan selalu di ingat oleh konsumen. Baik itu dengan cara menampilkan keunggulan produk, logo, simbol dan sebagainya untuk dapat tertanam di benak konsumen.

Dalam dunia perpolitikan branding digunakan untuk mencari atensi atau perhatian masyarakat dan juga sebagai pendongkrak elektabilitas. Namun sayangnya branding politik yang dilakukan cenderung kearah yang notabene saling menjatuhkan, menyebarkan isu dan sebagainya. Seharusnya branding politik ini dilakukan dengan strategi yang substantif. Contohnya para kandidat ataupun pelaku politik menampilkan keunggulan yang ada pada diri mereka, apa yang hendak dilakukan dan diberikan kepada publik  sehingga calon pemilih tidak kebingungan dalam menentukan pilihannya.

Logika sederhananya ialah pembeli dapat dengan jelas membandingkan sendiri dua produk nike dan adiddas misalnya melalui mutu dan kualitas dengan mencoba produk tersebut. Sehingga terpilihlah produk yang bagus dan ia sukai untuk dibeli dan tanpa adanya penyesalan setelah membelinya.

Begitu juga dalam politik, kita dapat memilih dan menentukan jika kita dapat melihat seberapa pantas hal tersebut dengan apa yang di tawarkan. Apabila ini terjadi maka  terciptalah perpolitikan yang sehat.

Polarisasi masyarakat tidak lagi rumit, tidak lagi bingung, masyarakat membandingkan antara kandidat yang satu dengan yang lainnya dengan memberikan presepsi yang positif sesuai dengan kualitas setiap kandidat ataupun para pelaku politik sehingga menunjukan tingkat keberhasilan positioning yang dilakukan kandidat.

Memang dari segi politik segala hal atau bagaimanapun cara dalam strategi branding politik tidak dapat disalahkan. Integritas tak lagi menjadi prioritas dalam dunia politik. Pada tahun politik ini tujuan pelaku politik hanyalah mencari panggung untuk mendapatkan atensi atau perhatian dari masyarakat demi mendogkrak elektabilitas.

Baru-baru ini penulis melihat akun twitter salah satu partai baru di Indonesia yang memberikan contoh strategi politik dengan melakukan sebuah award yang ditunjukkan kepada kubu sebelah hal tersebut menjadi lucu bagi penulis. Memang tidak dapat disalahkan namun jelas sebagai branding serta strategi politik yang dilakukan untuk mencari atensi masyarakat. Tanpa disadari hal tersebut juga bisa menjadi senjata makan tuan yang dapat membenamkan.

Hal-hal seperti inilah yang harus dianalisis dengan hati nurani serta dan kecerdasaan akal sehat. Kita sebagai masyarakat tidak dapat berbuat banyak selain berfikir secara rasional dengan polarisasi tadi. Kita yang harus sadar,para pelaku politik memang susah untuk disadarkan. Penulis sendiri pun sudah melakukan hal tersebut.

Sejak dimulainya masa kampanye pilpres khususnya hingga saat ini, lebih didominasi oleh sensasi yang jauh dari esensi. Kampanye yang cenderung ke arah yang tidak substantif dan lebih ke arah provokatif saling menjatuhkan dan tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah kehidupan publik.

Maka dari itu kembali kepada diri kita sebagai masyarakat yang cerdas untuk dapat melihat kaosnya perpolitikan tanah air kemudian tidak ikut memperkeruh suasana. Pada tulisan ini penulis tidak akan melarang siapapun atau dipihak manapun pembaca berada dan juga penulis hanya mengajak para pembaca untuk cerdas melihat kontestasi politik di tahun politik ini. Jangan sampai menjadi orang yang ikut-ikutan kemudian sampai menjadi fanatik dan ikut menjatuhkan orang lain.

Bak kata peribahasa bodoh-bodohnya sepat, tak makan pancing emas, penulis tidak menganggap pembaca bodoh. Logikanya ialah meskipun bodoh, dapat juga memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Berpandangan tidak hanya dengan satu sisi, berbicara tidak hanya dengan satu fakta. Lihat realita yang ada dan jadilah bijaksana.

*) Penulis merupakan mahasiswa program studi Ilmu Politik Universitas Jambi. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Jambi.


Penulis: Dony Anggara
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments