Jumat, 26 April 2019

Bonus Demografi, Peluang atau Tantangan?


Kamis, 20 Desember 2018 | 13:29:24 WIB


/

BERADA pada tahun 2045 negara Indonesia menginjak umur ke-100 tahun. Pada usia satu abad Indonesia itu diprediksi akan menjadi tahun emas bagi masyarakat luas, juga akan dirasakan oleh mancanegara secara signifikan, karena saat keadaan ini Indonesia akan menyongsong tingginya angka produktif atau akrab disebut saat ini bonus demografi.  

Bonus demografi akan mengantarkan rakyat Indonesia dengan saat-saat dimana kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi hal utama dalam menentukan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Secara pemetaan Bonus Demografi dapat diartikan sebagai keadaan jumlah usia produktif (15-65 tahun) melebihi jumlah non-produktif, berdasarkan perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa keadaan ini akan mengalami puncaknya antara tahun 2025-2030 dengan jumlah penduduk produktif  70 persen  dan akan berakhir sekitar 2036.

Bonus demografi ibarat pedang bermata dua, jika pemerintah dan masyarakat mempersiapkan diri secara kualitas maka bonus tersebut akan berdampak baik bagi kemajuan pribadi serta bangsa Indonesia. Akan tetapi jika masyarakat dan pemerintah tidak menyiapkan diri dengan SDM baik maka bonus demografi menjadi bumerang bagi kemajuan bangsa. Ini karena jika kualitas masyarakat tidak diiringi dengan jumlah usia produktif maka tidak mampu bersaing secara lokal maupun internasional.

Pekerja asing akan dengan masif menggantikan posisi anak bangsa, ditambah dengan perkembangan globalisasi membuka peluang kepada setiap siapa saja yang mampu bersaing secara kualitas. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa bonus demografi akan dialami negara Indonesia sekali dalam seumur hidup, maka menjadi hal penting untuk diketahui seluruh lapisan masyarakat bahwa harus benar-benar mempersiapkan diri.

Dampak dari bonus demografi bahwa banyak negara sukses dalam memanfaatkan keadaan tersebut menjadi peluang bagi kemajuan negara terutama masyarakatnya, seperti Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan beberapa negara lainnya.

Walaupun demikian, tetap saja ada negara yang tidak dapat memanfaatkan keadaan tersebut untuk suatu kemajuan, dan malah sebaliknya menjadi masalah baru dinegaranya, terkhusunya bagi negara-negara dibagian Benua Afrika, seperti Ethiopia dan beberapa negara lainnya.

Dari dampak bonus demografi maka negara tidak dapat memandang dengan sebelah mata hal tersebut hanya sebuah peninngkatan jumlah penduduk produktif, tetapi keadaan ini akan memaksa bahwa kebutuhan konsumsi meningkat derastis.

Salah satu indikator yang bisa digunakan untuk melihat adanya potensi bonus demografi dalam suatu negara ialah dengan melihat jumlah angka rasio ketergantungan penduduk yang rendah. Rasio ketergantungan adalah perbandingan antara jumlah penduduk usia non produktif dengan jumlah penduduk usia produktif.

Kondisi suatu negara yang memperoleh bonus demografi sebenarnya merupakan suatu anugerah dan berkah yang dapat membawa keberuntungan bagi suatu negara. Namun, untuk mencapai hal tersebut negara harus benar dalam mempersiapkan semuanya itu dan dikelola sebaik mungkin. Sebab banyak juga negara lain seperti yang telah disebutkan diatas bahwa negara tersebut memiliki kesempatan emas untuk memanfaatkan bonus demografi, tetapi bonus itu tidak dapat dimanfaatkan sehingga menjadi kerugian yang cukup besar.

 Untuk dapat mempersiapkan negara dalam menyongsong bonus demografi agar menjadi kesempatan emas bagi negara Indonesia, para pemimpin harus memperhatikan hal-hal mulai dari peningkatan kesehatan masyarakat, kualiatas dan kuantitas pendidikan, pengendalian jumlah penduduk, kebijakan ekonomi yang mendukung terciptanya fleksibilitas tenaga kerja dan pasar serta keterbukaan perdagangan dan saving nasional.

 Negara juga harus memperhatikan beberapa hal penting yang mendasar, seperti kualitas penduduk Indonesia, tersedianya lowongan kerja baru yang dihasilkan oleh usaha-usaha baru, dan juga dari jiwa usaha muda.

Di samping beberapa langkah yang diambil pemerintah agar menjadikan bonus demografi menjadi kesempatan emas, ternyata ada beberapa faktor yang dapat menghambat bonus tersebut menjadi kesempatan yang baik, seperti kualitas tenaga kerja rendah, rasio jumlah angkatan kerja tidak sebanding (timpang) dengan jumlah kesempatan kerja yang tesedia, persebaran tenaga kerja yang tidak merata (menumpuk pada pusat kota), terbatasnya kesempatan kerja, dan tingginya angka pengangguran, serta beberapa faktor lain yang akan memperlambat bonus tersebut menjadi kesempatan emas.

Dalam menyambut bonus demografi tidak dapat dengan semata-mata negara memandang ini hanya dari sudut peluang untuk kemajuan negara, tetapi dengan keadaan masyarakat Indonesia terutama angkatan muda yang cenderung memiliki latar belakang pendidikan masih rendah, tentunya demikian menjadikan negara memiliki beban yang cukup berat dengan melihat bonus tersebut sebagai tantangan ekstrim harus betul-betul diperhatikan.

Ada beberapa faktor-faktor indeks pembangunan manusia yang harus menjadi pusat perhatian pemerintah dalam membuat keputusan publik yang berpihak kepada angkatan muda sehingga dijumlah usia produktif Indonesia saat yang telah mencapai 174 juta jiwa pada tahun 2016 dengan perkiraan sebanyak 67 persen dari jumlah total penduduk Indonesia, faktor tersebut seperti tingkat ekonomi yang stabil, tingkat kesehatan baik, dan faktor pendidikan baik itu formal dan informal.

Menyambut satu abad NKRI ditahun 2045, negara akan melewati masa-masa dimana angkatan muda menjadi penentu nasib bangsa, dengan kehadiran bonus demografi diawal tahun 2030-2035 dan juga pada jumlah 70 persen penduduk Indonesia merupakan usia produktif menjadikan negara harus benar-benar mempersiapkan angkatan mudanya secara kualitas SDM.

Semakin luasnya peluang pasar Internasional, ditambah dengan begitu banyak saat ini kerjasama antar negara dalam persaingan kualitas kerja menjadikan kompetisi untuk mendapatkan kesempatan kerja semakin sempit, ditambah jiwa muda Indonesia lebih hobi untuk mencari lowongan pekerjaan daripada membuka kesempatan kerja dengan jiwa wirausaha.

Mau tidak mau, atau siap tidak siap kita angkatan muda akan saling sikut untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, padahal dengan keadaan jiwa masyarakat Indonesia yang masih cenderung nepotisme (kekeluargaan) menutup peluang kerja bagi angkatan muda yang memiliki kualitas SDM tetapi ia tidak mempunyai keluarga dalam suatu instansi pekerjaan, dengan kata lain ia tidak memiliki kesempatan bekerja atau hal seperti ini akrab disebut “Jatah Keluarga”.

Kawula muda ialah penentu masa depan bangsa, dengan mempersiapkan kualitas SDM, membangun jiwa usaha (wirausaha) membuka kesempatan kerja bukan mencari lowongan kerja, menepis jiwa gengsi dalam diri, membuka jaringan relasi terhadap banyak orang, serta beriman yang baik adalah hal-hal mendasar dalam menghadapi bonus demografi menjadi kesempatan emas bagi diri dan negara. Sehingga daripada itu benar sangat yang disampaikan Ir.Soekarno sang Proklamator “Beri Aku 10 Pemuda, Niscaya Akan Kuguncangkan Dunia”. Anak muda mari keluar dari “Zona Nyaman”.

*) Penulis ialah putra Desa Sosorgonting Kecamatan Doloksanggul, Humbang Hasundutan.


Penulis: Samuel Raimondo Purba
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments