Jumat, 18 Januari 2019

Ketikdakpedulian, Penyebab Sulitnya Larangan Penggunaan Kantong Plastik Diterapkan


Selasa, 08 Januari 2019 | 10:46:25 WIB


Syaeful Muslih
Syaeful Muslih / istimewa

PADA awal tahun 2019 ini, ada kebijakan pemerintah yang membuat heboh masyarakat baik di media sosial maupun perbincangan dikalangan masyarakat. Kebijakan tersebut adalah pelarangan penggunaan kantong plastik yang selama ini banyak digunakan dalam usaha ritel seperti minimarket dan toko swalayan maupun supermarket. Kebijakan ini sebetulanya bukan merupakan kebijakan nasional, namun merupakan kebijakan yang banyak dikeluarkan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang penerapan efektifnya dimulai tahun 2019.

Kota Jambi menjadi salah satu daerah yang menerapkan kebijakan ini dengan dikeluarkan peraturan Wakilkota Jambi Nomor  61 tahun 2018. Sebenarnya aturan ini  sudah dikeluarkan sejak awal tahun 2018, namun penerapannya baru efektif pada 1 Januari 2019.

Kebijakan ini pastinya dengan niatan baik untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup kita, karena sampah plastik disinyalir menjadi penyumbang terbesar sampah yang sering menjadi penyumbat saluran drainase yang  pada akhirnya menjadi penyebab terjadinya banjir.
Namun apakah masyarakat kita sudah siap melaksanakan kebijakan ini, atau apakah masyarakat kita mengetahui tentang kebijakan ini atau bahkan mengetahui dampak lingkungan penggunaan kantong plastik.

Penggunaan Kantong Plastik
Kantong plastik menjadi barang yang sangat familiar digunakan masyarakat untuk membawa sesuatu, penggunaan kantong plastik biasanya berawal dari ketika seseorang berbelanja di warung, minimarket, atau bahkan di supermarket. Masyarakat seolah tidak tahu bahwa ada tas atau wadah lain yang bisa digunakan untuk membawa barang belanjaannya seperti tas kanvas, tas kain, tas nilon, dan lain-lain yang bisa menjadi pengganti kantong plastik. Penggunaan tas belanjaan selain kantong plastik jarang sekali digunakan oleh masyarakat provinsi jambi, berdasarkan data susenas BPS September 2017, diketahui bahwa hanya 12,60 persen rumahtangga yang selalu menggunakan tas belanjaan selain kantong plastik, sementara 51,74 persen bahkan menyebutkan tidak pernah membawa tas belanja sendiri.

Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH)
Besarnya ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan kantong plastik disinyalir berhubungan juga dengan perilaku ketidakpedulian masyarakat terhadapa lingkungan hidup di sekitar mereka. Perilaku ini sebenarnya pernah diukur Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017
yaitu dengan rilisnya data indeks perilaku ketidakpedulian lingkungan hidup atau disingkat IPKLH.

Indeks ini mengukur tingkat ketidakpedulian masyarakat suatu wilayah terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Dimana indeks disusun beradasarkan 4 dimensi yaitu pengelolaan air, transportasi pribadi (pengurangan polusi udara), pengelolaan energi, dan pengelolaan sampah. Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH) berkisar antara 0 sampai dengan 1. Nilai IPKLH yang semakin besar (mendekati 1) menunjukkan semakin tingginya tingkat ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan di wilayah tersebut sedangkan semakin kecil nilai IPKLH (mendekati 0) menunjukkan semakin rendah tingkat ketidakpedulian (semakin peduli) lingkungan di wilayah tersebut.

Berdasarkan data IPKLH tahun 2017, Provinsi Jambi menjadi daerah yang tingkat ketidakpedulian terhadap lingkungan hidupnya tertinggi kedua di Indonesia setelah Provinsi Aceh. Dimana nilai indeksnya lebih tinggi juga dari indeks secara nasional, yaitu sebesar 0,54 berbanding 0,51 (Indonesia). Ini artinya masyarakat Provinsi Jambi kurang peduli terhadap lingkungan hidup apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Berdasarkan dimensi penyusunnya, dimensi pengelolaan sampah mejadi yang terbesar kedua denga nilai indeks sebesar 0,75. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketidakpedulian terhadap pengelolaan sampah di Provinsi Jambi tergolong tinggi. Begitu juga ketika melihat proporsi (Share) dimensi pengelolaan sampah terhadap perilaku tidak peduli lingkungan, share-nya tinggi juga yang mencapai 34,77 persen. Tingginya share dari dimensi pengelelolaan sampah menunjukkan dimensi tersebut memberikan sumbangan besar terhadap tingginya tingkat ketidakpedulian masyarakat Provinsi Jambi terhadap lingkungan.

Tingginya tingkat ketidakpedulian terhadap pengelolaan sampah ditunjukkan dari perilaku rumah tangga di Provinsi Jambi mengenai penanganan terhadap pengelolaan sampah.  Masyarakat kita belum terbiasa melakukan pemilahan sampah basah (mudah membusuk) dan sampah kering (tidak mudah membusuk, seperti kantong plastik), sebagian besar (64,30 perseng) rumahtangga di Provinsi Jambi tidak melakukan pemilahan sampah tersebut yang pada akhirnya sampah plastik yang tidak mudah terurai akan mengalami penumpukan dan mencemari lingkungan. Hanya sebagian kecil (15,18 persen) rumahtangga yang selalu atau sering melakukan pemilhan sampah tersebut.

Berikan Pemahaman Sejak Dini
Ketika perilaku penggunaan kantong plastik sudah menjadi kebiasaan, maka salah satu cara merubah perilaku tersebut adalah dengan memberikan pemahaman akan dampak kantong plastik tersebut terhadap lingkungan. Hal tersebut memang tidak mudah, makanya memberikan pemahaman akan dampak sampah kantong plastik sejak dini bisa menjadi solusi untuk kedepannya, ketika sekarang belum terlihat hasilnya, namun dimasa depan akan terlihat nyata hasilnya. Memberikan pemahaman kepada anak-anak akan lebih mudah dibandingkan kepada orang dewasa yang memang sudah biasa menggunakan kantong plastik dalam berbagai aktifitasnya.

Penggunaan kantong plastik memang tidak bisa dilarang secara tiba-tiba karena pastinya akan memberikan dampak terhadap masyarakat baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi efektifitas penggunaannya. Namu hal itu bukan berarti kebijakan ini tidak bisa dilakukan, dan memang sebetulnya kebijakan ini harus dilakukan demi keberlangsungan kehidupan manusia kedepannya. Dampak terhadap lingkungan harus sudah menjadi perhatian kita bersama demi keberlangsungan masa depan anak, cucu nantinya.

*) Penulis adalah statistisi di BPS Provinsi Jambi


Penulis: Syaeful Muslih *)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments