Kamis, 21 Februari 2019

Menakar Dampak Tarif Bagasi Pesawat Terhadap Inflasi Kota Jambi


Minggu, 13 Januari 2019 | 12:57:12 WIB


/ Syaiful Muslih

Oleh: Syaeful Muslih *)

AWAL tahun 2019, publik dihebohkan dengan kabar maskapai Lion Air dan Wings Air memberlakukan kebijakan tarif bagasi pesawat. Bahkan kebijakan ini ternyata diikuti oleh maskapai penerbangan lainnya. Citilink juga dikabarkan akan memberlakukan tarif bagasi khususnya untuk penerbangan domestik.

Bagasi pesawat terbang yang sebelumnya seberat 20 kg gratis tidak diberlakukan lagi. Untuk maskapai Lion Group, tarif yang dikenakan berkisar Rp 155 ribu untuk bagasi 5 kg dan Rp 930 ribu untuk bagasi 30 kg. Namun tarif ini memang tidak berlaku flat atau sama rata, besarnya tarif tergantung rute penerbangan dan kapasitas bagasi.

Berapapun tarif yang dikenakan, jelas akan mempengaruhi harga tiket penerbangan. Seperti diketahui, passenger service charge (PSC) ditambah asuransi Jasa Raharja merupakan salah satu komponen dari tiket penerbangan.

Dengan kata lain, mulai sekarang tarif bagasi juga menjadi salah satu kompenen tiket, maka tarif tiket pesawat pun dipastikan akan ikut terkerek naik.

Munculnya tarif bagasi dalam komponen tiket pesawat ini berpotensi memicu inflasi. Untuk melihat dampak suatu kenaikan komponen harga tiket pesawat, kita bisa coba bandingkan ketika salah satu komponen harga tiket naik. Komponen passenger service charge (PSC) atau yang dikenal airport tax  pernah mengalami kenaikan, dari situ kita dapat gambaran dampaknya terhadap inflasi.

Kenaikan Tarif PSC 1 Desember 2016

Pada 1 Desember 2016, tarif PSC resmi naik di Bandara Sultan Thaha Jambi. Tarif PSC naik sebesar 45,45 persen dari yang sebelumnya Rp 55.000 menjadi Rp 80.000. Otoritas jasa bandara mengatakan bahwa penyesuaian PSC tersebut guna meningkatkan pelayanan dan fasilitas untuk kenyamanan pengguna jasa.

Besarnya pengaruh kenaikan PSC terhadap iniflasi Kota Jambi bisa menjadi dasar historis untuk mengetahui besarnya dampak tarif bagasi terhadap inflasi.

Dampak Kenaikan PSC terhadap Inflasi

inflasi umum (headline) periode desember 2016 tercatat sebesar 0,36 persen month to month (MtM), dengan kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1,87 persen (MtM). Pada saat itu, kelompok ini memberikan andil inflasi terbesar (0,3399), bahkan lebih besar dari kelompok bahan makanan yang malah mengalami deflasi.

Apabila dirinci lebih dalam, inflasi dalam kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan terjadi akibat adanya inflasi pada tiga subkelompok terutama subkelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 2,31 persen yang merupakan tertinggi dibandingkan subkelompok lainnya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi dalam Berita Resmi Statistiknya, fenomena tingginya inflasi kelompok ini didorong oleh naiknya tarif angkutan udara, tarif pulsa ponsel, bensin, dan pemeliharan kendaraan.

Pada periode ini nampak jelas kenaikan tarif PSC bandara banyak memberikan dampak terhadap inflasi, karena faktor kenaikan tarif angkutan udara lebih dominan. Hal tersebut ditunjukkan oleh tarif angkutan udara yang lebih dominan memberikan andil inflasi (0,2773 persen), tertinggi dibandingkan dengan andil komoditas atau barang lainnya.

Berdasarkan pola data yang ada, memang pada bulan desember kelompok transportasi selalu mengalami inflasi. Meskipun demikian, inflasi transportasi pada desember 2016 ternyata tetap lebih tinggi dari inflasi desember tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun pada desember 2014 inflasi kelompok transportasi lebih tinggi dari pada kondisi desember 2016, namun inflasi pada waktu itu lebih didorong karena naikknya harga BBM, sementara andil inflasi tarif angkutan udara sangat stabil atau tidak mengalami perubahan.

Meskipun demikian, dampak kenaikan tarif PSC bandara tidak berlangsung lama, karena langsung terkoreksi pada periode-periode berikutnya. Pada periode Januari 2017, inflasi umum lebih rendah dari bulan sebelumnya, bahkan subkelompok transportasi mengalami deflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar -3,68 persen, dimana andil tarif angkutan udara sebesar -0,5789 persen.

Begitu juga pada bulan februari, meskipun subkelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,15, namun andil tarif angkutan udara malah deflasi sebesar -0,2387 persen.

Dampak Tarif Bagasi terhadap Inflasi 2019

Jika nantinya kebijakan tarif bagasi resmi diterapkan, maka kenaikan tarif angkutan udara yang ditimbulkan oleh layangan bagasi berbayar yang diberlakukan oleh beberapa maskapai penerbangan tersebut jelas akan lebih besar dari kenaikan PSC yang diuraikan dalam simulasi di atas.

Dengan demikian, kebijakan tarif bagasi yang pada ujungnya menaikan tarif angkutan udara mempunyai dampak yang lebih besar terhadap kondisi inflasi Kota Jambi tahun 2019 dibandingkan dampak kebijakan menaikkan tarif PSC pada tahun 2016 silam.

Periode Januari-Maret yang biasanya merupakan bulan dimana terjadinya deflasi untuk tarif angkutan udara, setelah pada bulan desember yang memang selalu mengalami inflasi yang tinggi, rasanya tidak akan terjadi jika tarif bagasi diberlakukan.

Meskipun penerapan tarif bagasi dilaksanakan pada akhir bulan januari ini, tetap saja kemungkinan deflasi pada subkelompok transportasi jelas akan sangat berat.

Kalaupun memang terjadi deflasi, andil angkutan udara mungkin tidak terlalu besar. Andil inflasi angkutan udara pada bulan desember 2018 sebesar 0,1568 persen dan menempati urutan kedua terbesar, dengan demikian seyogyanya pada bulan januari terjadi koreksi harga atau andil angkutan udara terhadap inflasi menjadi kecil, setidaknya angkutan udara mengalami deflasi diatas 0,1 persen.

Namun untuk Januari 2019 jika diberlakukan tarif bagasi, kondisi ideal ini kecil kemungkinan terjadi, dan tentunya nanti akan berimbas pada inflasi umum bulan Januari.

Harapan Konsumen

Pemberlakuan kebijakan tarif bagasi jangan sampai menjadi niat terselubung untuk menaikan tarif angkutan udara, namun harus dijadikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Jika nantinya tidak ada perbaikan pelayanan, jelas masyarakat yang dirugikan dan tidak menutup kemungkinan berimbas pada menurunnya penumpang pesawat dan tentunya akan merugikan maskapai penerbangan itu sendiri.

*) Penulis adalah Stastitisi BPS Provinsi Jambi


Penulis:
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments