Jumat, 19 April 2019

Kontradiksi Kemiskinan Perkotaan dan Perdesaan Provinsi Jambi


Selasa, 15 Januari 2019 | 14:54:49 WIB


/ istimewa

BADAN Pusat Statistik Provinsi Jambi pada tanggal 15 Januari 2019 merilis data kemiskinan terbaru. Data yang dirilis merupakan kondisi kemiskinan Provinsi Jambi pada periode September 2018.

BPS Provinsi Jambi mencatat bahwa tingkat kemiskinan Provinsi Jambi pada Periode September 2018 mengalami penurunan. Hal ini ditandai dengan menurunnya persentase penduduk miskin yang pada awal periode maret 2018 sebesar 7,92 persense, turun sebesar 0,07 persen poin pada september 2018 menjadi 7,85 persen.

Penurunan tersebut sebetulnya lebih didominasi oleh menurunnya kemiskinan di perkotaan, dimana persentase penduduk miskin turun sebesar 0,34 persen poin dari 10,41 persen (Maret 2018) menjadi 10,08 persen (September 2018).

Ironi terjadi di perdesaan, dimana persentase penduduk miskin mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen poin dari 6,75 persen (Maret 2018) menjadi 6,80 persen (September 2018). Meskipun sebenarnya tingkat kemiskinan perdesaan masih lebih rendah dibandingkan dengan perkotaan, karena memang pola kemiskinan provinsi jambi memang selalu demikian.

Garis Kemiskinan (GK)

Penurunan tingkat kemiskinan tersebut pasti akan berkaitan dengan yang namanya garis kemiskinan (GK), nilai Garis Kemiskinan ini merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.

Garis kemiskinan September 2018 naik 0,98 persen dibandingkan periode Maret 2018, kenaikan Garis Kemiskinan merupakan akibat adanya kenaikan harga (inflasi), namun yang perlu diperhatikan adalah kenaikan Garis Kemiskinan tidak akan sama persis dengan kenaikan harga (inflasi), biasanya kenaikan garis kemiskinan lebih tinggi dari kenaikan harga.

Hal ini karena pola konsumsi masyarakat berbeda antar rumah tangga, ada yang biasa belanja dalam jumlah banyak untuk beberapa hari atau minggu bahkan bulan, ada juga yang berbebelanja sistem harian. Hal itulah yang biasanya menentukan perbedaan harga yang dikeluarkan masyarakat untuk komoditas barang yang sama.

Jumlah Penduduk Miskin

Turunnya persentasi penduduk miskin, ternyata diikuti dengan menurunnya jumlah penduduk miskin. meskipun berkurangnya hanya 0,2 ribu orang atau sekitar 200 orang. Sumber penurunan lagi-lagi merupakan andil dari menurunnya jumlah penduduk miskin di perkotaan yang berkurang 2,1 ribu orang, sedangkan jumlah penduduk miskin di perdesaan malah bertambah 1,9 ribu orang.

Sekali lagi kita jangan hanya melihat jumlah penurunannya yang kecil, namun harus diingat bahwa ketika tingkat kemiskinan sudah di bawah 8 persen, penurunan jumlah penduduk miskin akan semakin berat, karena di samping intervensi program kemiskinan, pertumbuhan penduduk pun menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan.

Adakalanya jumlah penduduk miskin bertambah meskipun terjadi penurunan persentase penduduk miskin, hal ini akibat dari laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pertambahan penduduk miskin.

Tingkat Kedalaman Kemiskinan

Indek kedalaman kemiskinan pada periode September turun 0,05 poin dibanding maret 2018, penurunan indeks kedalaman kemiskinan bersumber dari menurunnya indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan yang turun sebesar 0,20 poin pada periode tersebut, namun untuk di perkotaan malah terjadi kenaikan sebesar 0,28 poin.

Karena proporsi jumlah penduduk miskin lebih banyak berada di perdesaan, maka secara umum indeks kedalaman kemiskinan tetap mengalami penurunan.

Hal ini artinya, meskipun terjadi penambahan penduduk miskin di Perdesaan, bisa jadi sebenarnya pengeluaran penduduk miskin yang baru tersebut sangat dekat dengan garis kemiskinan yang ditandai dengan menurunnya indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan. Dengan demikian besar kemungkinan bisa menjadi tidak miskin kembali di periode berikutnya.

Sebaliknya untuk di daerah perkotaan, perlu upaya lebih keras untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dari jumlah yang sekarang karena penduduk miskin yang sekarang berada semakin menjauh dari garis kemiskinan sehingga upaya peningkatan pendapatan penduduk miskin sudah sewajarnya menjadi perhatian pemerintah, setidaknya kedepan dapat mengurangi tingkat kedalaman kemiskinan di Perkotaan. Seperti diketahui bahwa tingkat kedalaman kemiskinan di Perkotaan lebih dari dua kali lipat dari tingkat kedalaman kemiskinan di perdesaan.

Tingkat keparahan kemiskinan

Sama halnya dengan tingkat kedalaman kemiskinan, Tingkat keparahan kemiskinan pun mengalami perbaikan. Hal ini dilihat dari menurunnya Indeks keparahan kemiskinan sebesar 0,01 poin dari 0,322 (Maret 2018) menjadi 0,309 (September 2018). Dari Indeks ini kita mendapat gambaran bahwa penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin semakin merata artinya ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin semakin berkurang.

Penurunan ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin ini lebiih karena terjadinya penurunan ketimpangan diantara penduduk miskin di Perdesaan, dimana  indeks keparahan kemiskinan di Perdesaan turun sebesar 0,11 poin dibandingkan periode sebelumnya. Berbeda halnya dengan di Perkotaan, dimana kesenjangan pengeluaran diantara penduduk miskin semakin tinggi.

Kompleksitas Kemiskinan, Berbeda antara Kota dan Desa

Dari indikator-indikator kemiskinan di atas diketahui bahwa permasalahan kemiskinan itu berbeda antara di Perkotaan dengan di Perdesaan. Pada periode September 2018, di Perkotaan terjadi penurunan kemiskinan dari sisi persentase dan jumlah penduduk miskin, namun mengalami kenaikan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan. Sedangkan di Perdesaan mengalami kenaikan persentase dan jumlah penduduk miskin, namun mengalami penurunan tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.

Dengan demikian, kebijakan yang ada sekarang ternyata untuk di Perkotaan hanya bisa menurunkan jumlah dan persentase, tanpa bisa menurunkan kesenjangan dan ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.  artinya masalah kesenjangan dan ketimpangan masih menjadi isu utama di daerah Perkotaan.

Untuk di Perdesaan, besarnya proporsi jumlah penduduk di Perdesaan ternyata berimbas kepada susahnya menurunkan persentase dan jumlah penduduk miskin di daerah tersebut. Seolah perdesaan itu menjadi gudang kemiskinan, meskipun sebenarnya pernyataan tersebut tidak tepat seutuhnya. Karena meskipun persentase dan jumlah penduduk miskin tinggi, namun kesenjangan dan ketimpangan diantara penduduk miskin di perdesaan lebih baik daripada di Perkotaan. Efek pembangunan dari Dana Desa akan mulai nampak hasilnya, karena kedepan Dana Desa akan mulai diarahkan kepada pemberdayaan sumber daya manusia dan pembangunan yang sifatnya padat karya setelah dalam beberapa tahun terakhir Dana Desa banyak diprioritaskan untuk infrastruktur desa.

*) Penulis adalah Stastitisi BPS Provinsi Jambi


Penulis: Syaeful Muslih *)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments