Kamis, 21 Februari 2019

Debat: Pakai Data, Jangan "Ngota"


Kamis, 17 Januari 2019 | 13:52:47 WIB


/

DEBAT agaknya telah menjadi salah satu keharusan dalam proses perhelatan pemilihan pemimpin di negeri ini, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Terdekat, debat calon Presiden Republik Indonesia yang akan bertarung pada pemilihan umum (Pemilu) April 2019 mendatang.

Paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin di atas panggung bersama paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Debat pun telah diatur oleh KPU RI menjadi beberapa tahapan dalam beberapa kali pelaksanaan. Landasan dasar pelaksanaan debat diatur oleh Undang-Undang No. 7 tahun 2017 alias UU Pemilu.

Masyarakat pun mulai terbiasa dan bahkan menjadikannya sebagai salah satu momentum "istimewa". Tren baru yang sedang "booming" saat ini adalah nobar alias nonton bareng debat yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi dan media lainnya. Persis nonton bola piala dunia. Goool..!

Dengan munculnya "tren" baru ini, berbagai kalangan masyarakat harus menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu "sekolah politik". Artinya, acara debat calon pemimpin yang menarik perhatian ini harus dimaksimalkan sebagai media bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran politik dalam menentukan pilihan pemimpin mereka.

Acara ini harus dikelola secara positif. Masyarakat harus benar-benar difahamkan bahwa berdebat itu adalah seni menyampaikan ide dan gagasan. Seni mengelola emosi. Seni mempengaruhi orang lain. Seni mempertahankan pendapat, dan seni-seni lainnya. Jadi, seni bukan caci maki. Seni itu memiliki nilai-nilai estetik dan etik. Indah dan bermartabat.

Untuk mencapai itu semua, melalui artikel singkat ini saya hanya ingin mengingatkan kita semua akan satu hal tentang debat yaitu pahami tujuan debat. Banyak yang salah memahami tujuan debat. Sebagian orang menganggap pemenang debat adalah mereka yang mempu membuat pihak lawan terdiam "tidak berkutik". Salah!

Berdebat tidak sama dengan adu jotos alias pertandingan olah raga tinju di atas ring. Pemenangnya adalah mereka yang mampu memukul "mati" lawannya. TKO! Debat tidak seperti itu. Karena tujuan debat itu sesungguhnya adalah membangun sikap positif terhadap pertukaran ide secara intelektual (the intellectual exchange of ideas).

Itu artinya, pemenang dalam debat adalah mereka yang mampu menyampaikan gagasan-gagasan secara positif dan gagasan itu dapat diterima oleh siapa saja, termasuk lawan berdebat. Lawan debat bisa dengan senyum-senyum menerima gagasanya.

Dengan demikian, masyarakat akan belajar dan memperhatikan siapa calon pemimpin mereka yang memiliki gagasan yang brilian dan gagasan itu mampu disampaikan dengan baik dan positif sehingga semua orang menyetujuinya.

Berdebat juga merupakan salah satu cara untuk menggali isu dan persoalan yang ada di tengah masyararakat. Artinya, dengan perdebatan di hadapan publik ini, masyarakat benar-benar dipertontonkan siapa calon pemimpin mereka yang benar-benar memahami isu-isu krusial dan problematika masyarakat. Dipastikan, mereka yang memahami akan memberikan tawaran-tawaran solusi yang masuk akal dan terukur. Sekali lagi, masuk akal dan terukur!

Gagasan yang baik dan terukur itu tentunya yang berlandaskan data-data. Jangan sampai berdebat hanya sekedar "ngota" (bahasa Jambi yang artinya "ngibuli" alias omong kosong).

Masih banyak sebebenarnya hal-hal positif yang dapat dipetik dari acara debat semacam ini. Bisa juga dijadikan media untuk menggambarkan cara berpikir cepat, kerja sama tim, leadership skill, kemampuan berbicara dan mendengar, dan seterusnya.

Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa debat calon pemimpin bukan lomba yang menentukan menang dan kalah. Tapi merupakan media untuk mendapatkan hal-hal positif dari para calon pemimpin bangsa ini.

Jika hal ini dapat dipahami dengan baik oleh mereka yang berdebat, tim sukses dan masyarakat luas maka dapat dipastikan debat yang dilaksanakan akan mendatangkan kebaikan dan manfaat yang besar untuk bangsa dan negara ini. Hanya dengan pemahaman inilah ajang debat yang formal dan dilindungi undang-undang ini akan terhindar dari sekedar acara "ngota" apalagi caci maki.

Akhirnya, debat itu seni yang indah dan berarti. Jangan kotori debat dengan emosi tak terkendali apa lagi caci maki. Peserta debat dan para tim pendukung harus benar-benar memahami bahwa kita tidak sedang mencari "sang juara" tapi pemimpin bangsa!

* Penulis adalah akademisi UIN STS Jambi dan Sekjen Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KPPD) Republik Indonesia


Penulis: Bahren Nurdin
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments