Selasa, 17 September 2019

Kadishut Sebut Perambahan Hutan Marak Terjadi di Tebo


Selasa, 22 Januari 2019 | 17:26:42 WIB


Kadishut Provinsi Jambi Akhmad Bestari bersama Kasi Pengamanan Hutan Dishut Provinsi Jambi Iman
Kadishut Provinsi Jambi Akhmad Bestari bersama Kasi Pengamanan Hutan Dishut Provinsi Jambi Iman / metrojambi.com

JAMBI – Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jambi sepanjang tahun 2018 lalu, menangani sebanyak 10 kasus perambahan hutan. Rinciannya, 8 kasus sudah P21 atau dilimpahkan ke jaksa, 1 kasus masih P19 atau melengkapi berkas, dan 1 kasus lainnya saat ini masih dalam proses penyidikan.

“Dari 8 kasus yang sudah P21, 6 diantaranya merupakan kasus illegal logging,” ujar Kepala Dishut Provinsi Jambi Akhmad Bestari saat dikonfirmasi metrojambi.com, Selasa (22/1).

Berdasarkan data yang ada, Akhmad menyebutkan perambahan hutan marak terjadi di Kabupaten Tebo. Hanya saja, Akhmad tidak menyebutkan data pastinya.

"Bukan berarti daerah lain tidak ada, tetapi masih dominan di Tebo. Seperti kasus yang baru-baru ini kami tangani, (kayu, red) diangkut dari Merangin tapi menggunakan dokumen Tebo,” sebut Akhmad, yang didampingi Kasi Pengamanan Hutan Dishut Provinsi Jambi Iman.

Ditanyakan mengenai kayu yang paling banyak dicari saat ini, Akhmad mengatakan tergantung permintaan pasar dan ketersediaan bahan baku. “Biasanya rimba campuran seperti meranti, bulian, dan rengas. Tapi tergantung pasar dan ketersediaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Akhmad mengatakan, dalam upaya menekan aktivitas perambahan hutan, tidak cukup hanya sebatas razia atau penegakan hukum. Dikatakan Akhmad, juga perlu adanya sistem tata kelola kayu yang baik.

Dikatakannya lagi, sebenarnya ada aturan yang melegalkan masyarakat sekitar memanfaatkan kawasan hutan. Namun sayangnya, masih banyak yang tidak memahami hal tersebut.

"Tentang program itu, ada juga penolakan. Ada aturan-aturan yang harus diikuti masyarakat, batasan-batasan pemanfaatan hutan. Kami terus sosialisasikan hal ini," ujar Akhmad.

Bicara mengenai kondisi hutan di Jambi saat ini, Akhmad mengatakan tidak dapat dipungkiri jika kondisinya mulai memprihatinkan. Hal itu disebabkan oleh perambahan hutan, kebakaran hutan, dan ilegal logging.

"Tiga hal ini yang tengah kita upayakan penyelesaiannya, sesuai mekanisme-mekanisme yang ada," pungkasnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments