Kamis, 18 Juli 2019

Jangan Terkecoh Kilometer Rendah di Speedometer Kendaraan Bekas


Rabu, 23 Januari 2019 | 14:22:11 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAKARTA- Bagi Anda yang berniat membeli kendaraan bekas, disarankan tidak mudah terkecoh dengan angka kilometer rendah pada odometer di perangkat speedometer kendaraan, karena pada dasarnya angka yang menunjukkan seluruh jarak perjalanan yang pernah ditempuh kendaraan itu bisa diatur ulang (reset) ke angka yang lebih rendah.

Sebagian orang mengatur ulang angka pada odometer kendaraan untuk menstabilkan harga jual kendaraan yang ditawarkannya. Oleh karena itu, calon pembeli disarankan harus teliti sebelum membeli mobil bekas (mobkas).

EO OtoSpector, Jeffrey Andika, memberikan tips ringan untuk melihat apabila terdapat kecurangan dari penjual yang mengatur ulang speedometer. Menurutnya, selain melihat angka jarak tempuh kendaraan pada speedometer, pembeli mobil bekas juga harus meneliti dengan seksama kondisi kendaraan yang akan dibeli.

"Hal ini mudah kita lihat apabila ada kecurangan dalam perubahan speedometer, Kita lihat saja kondisinya seperti apa, kita lihat juga kondisi mesin seperti apa, kaki-kaki juga kita lihat," ujarnya kepada awak media di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Selasa.

Ia juga menambahkan, kadang-kadang kondisi mobil tidak sesuai dengan kondisi kilometer yang tertera, misalnya kita temukan kilometer masih diangka 40.000 tapi kondisi fisik kendaraanya sudah tidak layak atau tidak masuk dibandingkan dengan angka km itu.

"Kondisi interior juga kita harus lihat, misalnya setir, kalau di kilometer yang tinggi yah biasanya itu setir udah mulai haus tidak nyaman untuk digunakan, sama halnya dengan pedal juga biasanya juga udah mulai tidak enak dipakai," tambahnya.

Dalam era speedometer digital, bukan hal yang mustahil untuk mengubah angka speedometer menjadi lebih rendah dari yang sebenarnya telah ditempuh kendaraan itu.

"Biasanya orang mengira kalau digital itu susah untuk dimainkan yah, sebenarnya itu tidak juga sih," tutupnya.


Penulis: Herri Novealdi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments