Senin, 19 Agustus 2019

Memburuknya Standar Kemiskinan Penduduk Perkotaan


Minggu, 27 Januari 2019 | 12:01:37 WIB


/

Oleh: Syaeful Muslih *)

RILIS Badan Pusat Provinsi Jambi pekan lalu melansir data kemiskinan terbaru, persentase penduduk miskin Provinsi Jambi pada September 2018 sebesar 7,85 persen, menurun dibandingkan dengan kondisi Maret 2018 yang sebesar 7,92 persen.

Penurunan penduduk miskin khususnya terjadi di daerah perkotaan. Secara persentase, penduduk miskin perkotaan berkurang 0,34 persen poin dari Maret 2018 yang sebesar 10,41 persen menjadi 10,08 persen pada September 2018 atau berkurang sebanyak 2,1 ribu orang pada periode tersebut.

Bagaimanapun penurunan tersebut harus disyukuri dan diapresiasi. Target angka kemiskinan single digit di daerah perkotaan mulai nampak akan terealisasi hasilnya.

Namun, ada hal penting yang mestinya juga tetap diperhatikan agar tidak melenakan urgensi program pengentasan kemiskinan perkotaan. Hal tersebut mengenai komposisi garis kemiskinan perkotaan semakin didominasi oleh makanan.

Pada September 2018, peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan perkotaan menyumbang 73,76 persen, meningkat dari Maret 2018 yang masih 73,52 persen.

Hal ini menandakan kemampuan komposisi pengeluaran penduduk miskin perkotaan untuk bukan makanan semakin berkurang, tersisa sebesar 26,24 persen. Kalau dari segi angka, perubahan tersebut terlihat kecil dan sepele. Namun sebenarnya angka tersebut menggambarkan perubahan standar kemiskinan penduduk perkotaan.

Seperti diketahui, garis kemiskinan merupakan gambaran batasan nilai rupiah untuk mencukupi kebutuhan dasar. Garis kemiskinan ini dihitung berdasarkan pola konsumsi penduduk yang tidak miskin, namun juga tidak termasuk kaya.

Proporsi kelompok ini berkisar 20 persen dari total penduduk, BPS sendiri menyebut kelompok ini sebagai populasi referensi.

Dari kelompok tersebut diperoleh nilai pengeluaran per kapita untuk semua komoditi kebutuhan dasar yang telah ditetapkan, selanjutnya nilai itulah yang dijadikan batasan apakah seseorang termasuk penduduk miskin atau bukan yang oleh BPS disebut sebagai garis kemiskinan.

Dari meningkatnya peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan itu menggambarkan semakin jauhnya pendapatan penduduk miskin untuk memenuhi kebutuhan diluar kebutuhan dasar. Idealnya, peranan pengeluaran komoditas makanan terhadap garis kemiskinan semakin menurun, sehingga masyarakat mempunyai kesempatan untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih dari sekedar urusan perut.

Perubahan Daya Beli

Apabila ditelaah lebih dalam, kenaikan garis kemiskinan bukan makanan pada September 2018 dibanding Maret 2018 ternyata sangat rendah, hanya sebesar 0,04 persen, jauh lebih rendah dari pertumbuhan selama tiga tahun terakhir yang berkisar 2 persen. Ada indikasi bahwa daya beli masyarakat pada periode September 2018 dibanding Maret 2018 cenderung stagnan dan hal ini menyebabkan menurunnya permintaan komoditas bukan makanan yang pada akhirnya angka inflasi menjadi rendah.

Berbeda halnya dengan komoditas makanan, kenaikan peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan lebih disebabkan elastisitas harga terhadap kalori atau energi yang dihasilkan dari komoditas tersebut cukup tinggi, terutama untuk komoditas dagis ayam ras, telur ayam ras, kue basah, dan mie instan.

Ini artinya inflasi harga komoditas ini masih cukup tinggi dan ternyata berimbas kepada naiknya peranan makanan terhadap garis kemiskinan.

Seperti diketahui nilai energi atau kalori yang dihasil dari komoditas tersebut sangat besar, sehingga perubahan baik harga maupun kuantitas konsumsi dari komoditas tersebut akan sangat berpengaruh besar kepada nilai garis kemiskinan.

Untuk nilai energi atau kalori terbesar masih diperoleh dari beras, pada September 2018 sebenarnya peranan beras terhadap garis kemiskinan mengalami penurunan namun konsumsi masyarakat untuk beras justru mengalami kenaikan. Dengan demikian, peran pemerintah untuk menjaga harga beras sangat berhasil pada periode tersebut.

Langkah ke Depan

Komposisi besar kecilnya peranan komoditas makanan dan bukan makanan terhadap garis kemiskinan sebetulnya menggambarkan kualitas hidup masyarakat itu sendiri.

Kedepan diharapkan bahwa standar kemiskinan perkotaan sudah mulai berimbang antara kebutuhan makanan dan bukan makanan, setidaknya peranan komoditas makanan semakin menurun dengan diikuti oleh meningkatnya peranan komoditas bukan makanan. Sehingga standar penduduk miskin perkotaan tidak hanya dominan dari seberapa kenyang perut mereka, namun harus bisa memenuhi kebutuhan lain selain kebutuhan makanan.

Ketimpangan peranan atau proporsi  antar komoditi terhadap garis kemiskinan masih sangat tinggi. Seperti halnya komoditas beras terhadap garis kemiskinan yang mencapai sekitar 20 persen, hal ini seolah bahwa garis kemiskinan seperlimanya ditentukan oleh beras. Jadinya volatilitas harga beras sangat menentukan garis kemiskinan.

Melalui diversifikasi pangan bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. tentu hal ini tidak akan mudah karena terkait dengan budaya masyarakat.

Perubahan Struktur Komoditas

Kebutuhan bukan makanan di perkotaan juga sudah mulai terlihat, misalnya untuk komoditas angkutan, dengan adanya angkutan berbasis online di perkotaan ternyata membuat peranan angkutan terhadap garis kemiskinan meningkat pesat.

Pada September 2018, kenaikan peranan angkutan menjadi yang tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Hal ini juga secara langsung menaikan peranan komoditas bukan makanan terhadap garis kemiskinan.

Semoga teknologi juga bisa meningkatkan peranan komodiltas yang lainnya, sehingga standar kemiskinan perkotaan menjadi lebih baik.

*) Penulis adalah statistisi BPS Provinsi Jambi


Penulis: Syaeful Muslih
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments