Jumat, 19 April 2019

Gizi Masyarakat Meningkat, Tapi Masih Kategori Bermasalah


Selasa, 29 Januari 2019 | 15:15:17 WIB


Syaeful Muslih
Syaeful Muslih / istimewa

PADA tanggal 25 Januari 2019 kemarin diperingati sebagai Hari Gizi Nasional ke-59, Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi menjadi tema yang diangkat dalam peringatan kali ini. Sebuah tema yang mempunyai makna dalam dan penuh harapan untuk mengatasi permasalahan gizi di Indonesia.

Persoalan gizi pun menyeruak ke publik bersamaan dengan peringatan hari gizi tahun ini. Beberapa media koran nasional bahkan menjadikannya headline berita dalam beberapa hari ini. Terutama mengenai permasalahan gizi yang dialami masyarakat Indonesia di bagian timur.

Sebenarnya permasalahan gizi tidak hanya terjadi di Indonesia Timur, masyarakat di Indonesia bagian barat pun termasuk Provinsi Jambi didalamnya masih mengalami hal yang sama.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan bahwa Provinsi Jambi mengalami tiga beban gizi (triple burden), yaitu gizi buruk atau kurang, status gizi sangat pendek dan pendek (stunting), dan status gizi gemuk atau obesitas. Meskipun sebenarnya Provinsi Jambi sudah mengalami perbaikan dalam hal gizi terutama pada balita.

Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat, proporsi anak balita dengan gizi buruk dan gizi kurang sebesar 15,7 persen, menurun dibandingkan pada tahun 2013 yang masih sebesar 19,7 persen. Begitu juga untuk status gizi pendek (stunting) mengalami penurunan, dari 37,9 persen pada tahun 2013 menjadi 30,1 persen pada tahun 2018.

Permasalahan gizi balita ternyata bukan hanya itu saja, persoalaan balita yang mengalami kegemukan juga harus menjadi perhatian, meskipun mengalami penurunan dari 13,1 persen (2013) menjadi 10,8 persen (2018), lebih miris lagi ternyata tingkat kegemukan pada balita di Provinsi Jambi menjadi tertinggi ketiga dibandinglkan kondisi provinsi lain di Indonesia.

Dari indikator gizi tersebut, kesemuanya ternyata masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia(WHO). Seperti diketahui ambang batas untuk balita gizi kurang sebesar 10 persen, kemudian ambang batas untuk balita stunting sebesar 20 persen, sedangkan ambang batas untuk balita obesitas sebesar 5 persen.

Pola Konsumsi Masyarakat
Masalah gizi tidak melulu disebabkan oleh faktor kemiskinan keluarga. Pola makan yang salah dan tidak sehat bisa menjadi penyebab berbagai masalah gizi.

Hal ini ditandai dengan rendahnya konsumsi bahan pangan hewani, sayur, dan buah oleh masyarakat Provinsi Jambi, kalaupun mengonsumsi namun masih sesuai dengan batas porsi yang disarankan secara kesehatan.

Masyarakat Provinsi Jambi kurang mengonsumsi buah dan sayur.

Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat bahwa 97,5 persen penduduk Provinsi Jambi yang berusia di atas 5 tahun mengonsumsi sayur dan buah kurang dari 5 porsi sehari. Lebih mirisnya lagi, angka tersebut menempatkan Provinsi Jambi menduduki urutan ketiga provinsi yang kurang makan buah/sayur.

Gaya Hidup
Pola konsumsi tersebut tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat dewasa ini. Dimana gaya hidup modern ini medorong masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi makanan dan minuman jadi, meskipun sebenarnya mereka tahu bahwa makanan dan minuman tersebut mengandung gula, garam, dan lemak berlebih.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018 memberikan gambaran lebih mencengangkan lagi dimana pola pengeluaran terbesar masyarakat ada pada makanan dan minuman siap saji (27,08 persen).
Pola konsumsi ini ternyata tidak hanya menjadi fenomena daerah perkotaan saja (32,86 persen), namun di perdesaan pun dominasi pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi sangat besar proporsinya (23,81 persen).

Peranan Bidan Desa
Mengubah perilaku dan pola pikir masyarakat tentag gizi memang tidak mudah, keterbatasan ahli gizi di daerah bisa diatasi dengan mengoptimalkan peran bidan desa, jangkauan bidan desa yang sampai ke pelosok desa membuat bidan desa mempunyai peranan yang sangat besar dalam memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat terkait pola makan sehat dan berimbang.
Bidan desa sebagai penyambung program pemerintah kepada masyarakat seyogyanya mampu menjadi “agen” pengetahuan terkait kesehatan dan gizi di masyarakat, misalnya mengampanyekan program “isi piringku” yaitu suatu kampanye yang berisi imbauan porsi makan yang seimbang, dimana dalam satu porsi berisi 50 persen sayur dan buah, serta 50 persen makanan pokok dan lauk.
 Suatu program yang sederhana namun mempunyai manfaat yang sangat besar dalam perbaikan gizi msayarakat. Program ini tidak akan berjalan kalau tidak ada yang menyampaikan dan menyentuh langsung masyarakat. Sehingga selogan “Gizi Seimbang, Prestasi gemilang” menjadi kenyataan. Selamat Hari Gizi Nasional Ke-59 tahun 2019.


*) Penulis adalah Statistisi BPS Provinsi Jambi


Penulis: Syaeful Muslih *)
Editor:



comments