Minggu, 21 Juli 2019

Waspadai Deflasi Harga Pangan Terhadap Daya Beli


Selasa, 05 Februari 2019 | 10:13:00 WIB


Syaeful Muslih
Syaeful Muslih /

BADAN Pusat Statistik Provinsi Jambi telah merilis data terbaru inflasi, dimana BPS Provinsi Jambi mencatat pada bulan Januari 2019, Kota Jambi mengalami deflasi sebesar 0,51 persen. Hal ini ditandai dengan menurunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,57 (Desember 2018) menjadi 133,89 pada Januari 2019.

Deflasi di Kota Jambi terjadi pada dua kelompok pengeluaran barang dan jasa, yaitu kelompok bahan makanan dan kelompok transportasi, komunikasi, jada keuangan. Andil kedua kelompok tersebut terhadap deflasi masing-masing sebesar minus 0,5986 dan minus 0,1388.

Deflasi Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan pada Januari 2019 mengalami deflasi sebesar 2,60 persen atau terjadi penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 135,52 pada Desember 2018 menjadi 125,72 persen pada Januari 2019.

Deflasi tersebut dipengaruhi oleh terjadi penurunan indeks harga pada empat subkelompok, yaitu subkelompok bumbu-bumbuan, ikan segar, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan.  Keempat subkelompok tersebut mengalami deflasi secara berurutan sebesar 11,88 persen, 6,57 persen, 6,56 persen, dan 0,09 persen.

Selanjutnya komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada kelompok ini antara lain cabai merah, udang basah, bayam, ikan gabus, sawi hijau, apel, ikan nila, dan kangkung.

Hal ini menarik, karena sebetulnya dalam 10 tahun terakhir, deflasi bahan makanan pada bulan Januari hanya pernah terjadi dua kali, yaitu pada Januari 2015 dan terbaru pada Januari 2019 kemarin.

Biasanya deflasi bahan makanan terjadi pada bulan Februari, namun ternyata pada tahun 2019 terjadinya deflasi bahan makanan pada bulan Januari.

Deflasi pada subkelompok bumbu-bumbuan, ikan segar, dan sayur-sayuran bisa jadi merupkan koreksi harga akibat terjadi kenaikan harga komoditi subkelompok tersebut pada bulan Desember 2018. Subkelompok tersebut mengalami inflasi yang sangat tinggi, bahkan untuk subkelompok sayur-sayuran inflasinya mencapai 8,08 persen.

Namun untuk subkelompok kacang-kacangan, patut menjadi kekhawatiran dimana dalam empat bulan terakhir selalu mengalami deflasi. Hal ini juga bukan merupakan koreksi atau perbaikan harga akibat inflasi yang tinggi pada periode sebelumnya, terkakhir kali inflasi pada subkelompok ini terjadi pada bulan Sepetember 2018, itupun hanya sebesar 0,26 persen.

Menurunnya Daya Beli

Penurunan harga pada subkelompok ini ternyata menyebabkan penurunan daya beli petani subkelompok ini terutama petani sayur-sayuran. Hal tersebut ditandai oleh menurunnya nilai tukar petani (NTP) subsektor holtikultura.

Nilai tukar petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. 

Nilai ini merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Dengan kata lain nilai ini menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani. 

Semakin tinggi NPT, secara relatif semakin kuat juga tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Pada bulan Januari 2019, NTP untuk subsektor Holtikultura sebesar 88,66 atau turun 0,78 persen dibandingkan Desember 2018. Penurunan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani sayur-sayuran yang turun sebesar 1,77 persen, sedangkan indeks konsumsi rumahtangga naik sebesar 0,47 persen. Artinya kenaikan harga-harga komoditas yang dikonsumsi rumahtangga petani tersebut lebih tinggi daripada hasil yang diperoleh dari bertani sayuran.

Menurunnya daya beli petani sayur-sayuran tidak terlepas dari kenaikan harga di perdesaan. BPS Provinsi Jambi mencatat pada Januari 2019 terjadi inflasi di wilayah perdesaan sebesar 0,51 persen, dan ini terjadi di hampir semua kelompok konsumsi rumahtangga terkecuali kelompok transportasi dan komunikasi.

Dengan demikian, deflasi bahan pangan di perkotaan dan inflasi di perdesaan menjadi penyebab menurunnya daya beli petani holtikultura, khususnya petani sayur-sayuran.

Deflasi dan Kemiskinan Pedesaan

Pengendalian harga pangan memang bisa menekan angka kemiskinan, namun hal tersebut tejadi jika terjadi peningkatan daya beli. Kondisi diatas memberikan gambaran bahwa deflasi harga pangan di perkotaan ternyata menurunkan daya beli petani sayur-sayuran di perdesaan, hal ini akibat tidak dibarengi dengan pengendalian harga di perdesaan.

Secara proporsi, petani sayur-sayuran di Provinsi Jambi memang masih lebih kecil dibandingkan subsektor pertanian lainnya. Namun tetap saja, mereka harus menjadi perhatian pemerintah, karena kalau hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kemiskinan di perdesaan akan meningkat.

Pengendalian harga di perdesaan seyogyanya menjadi hal penting yang harus terus dilakukan oleh pemerintah, jangan sampai kenaikan harga barang/jasa konsumsi di perdesaan lebih tinggi daripada kenaikan harga yang diterima oleh petani dari hasil pertaniannya.

Ke depan, inflasi yang rendah diharapkan dibarengi dengan peningkatan  produktivitas dan daya beli masyarakat khusunya di kalangan petani, sehingga mendorong penurunan kemiskinan baik di perkotaan maupun pedesaan.

 

*) Penulis adalah statistisi BPS Provinsi Jambi


Penulis:
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments