Minggu, 21 Juli 2019

Truk Modifikasi Tanpa Izin Akan Ditindak Hukum


Kamis, 07 Februari 2019 | 17:01:30 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah V Jambi bakal menindak tegas truk yang memodifikasi ukuran mobil angkutan barang tanpa izin, yang melintas di Jembatan timbang Provinsi Jambi maupun ketika razia resmi BPTD bersama tim gabungan.

Nantinya bakal dilakukan penuntutan untuk pemilik truk (karoseri), sopir truk dan juga bahkan bengkel yang memodifikasi kendaraan tersebut.
Kepala BPTD Firdaus Rasyad menyampaikan pihaknya akan mengikuti langkah BPTD Provinsi Riau sebagai pihak pertama yang menempuh jalur hukum untuk pelanggar tersebut.

"Kita juga akan proses hukum para pelanggar, karena provinsi Riau yang pertama dan kita akan segera melakukannya juga," tuturnya, Kamis (7/2). Dia menyebut sebenarnya truk pengangkut barang di Provinsi Jambi kebanyakan dari luar Provinsi. "Namun tidak jadi masalah truk luar juga akan kita tindak," ujarnya.

Hal ini dirasakan perlu untuk membuat truk jera dalam memodifikasi atau melanggar ukuran yang telah ada pada KIR sebelumnya, demi mencari keuntungan sendiri. "Selama ini kan hanya kita tilang untuk menegakkan hukum, tapi kali ini kita coba yang lebih serius urusannya akan sampai di Pengadilan nantinya," paparnya.

Firdaus menyebut, selain itu yang akan diperhatikan pihak BPTD bersama Dinas Perhubungan adalah truk tanki Crude Palm Oil (CPO),  truk kayu chip, truk kontainer, truk batubara, truk angkut galian C, truk tronton angkut TBS sawit, truk barang melebihi tonase, dan truk intercooler, juga akan masuk dalam pemantauan.

Sementara untuk pemotongan ukuran kendaraan di tempat, Firdaus mengaku belum dilakukan.

"Sekarang baru di Pulau Jawa yang berlaku pemotongan kelebihan dimensi dan penurunan muatan lebih, kita belum," jelasnya.

Selebihnya untuk penurunan barang menurut Firdaus, memang bisa dilakukan pihaknya, tapi pagi pelanggar yang mutannya dua kali lipat berat beban atau kelipatan 100 persen. "Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada temuan yang berat beban dua kali lipat dari seharusnya," katanya.

Firdaus menambahkan, angkutan pelanggar di jembatan timbang Merlung dan Sarolangun, rata-rata sehari ada tiga.

"Karena kan kita sifatnya tidak tangkap yang lokal seperti batubara dari Sarolangun ke Kota Jambi karena beda kewenangan. Yang kita tindak seperti di Merlung untuk perlintasan angkutan dari Sumsel ke Riau, dan Sarolangun dari Sumsel ke Sumbar maupun sebaliknya," pungkasnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments