Sabtu, 25 Januari 2020

Program Santripreneur Diikuti 3220 Santri


Jumat, 08 Februari 2019 | 15:02:59 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAKARTA-Program Santripreneur besutan Kementerian Perindustrian diikuti 3.220 santri sepanjang 2018 dari 16 pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Dengan program Santripreneur ini, kami akan mendorong para santri, khususnya generasi milenial untuk bisa berindustri dan berkreasi dengan berbagai program pelatihan yang mereka dapatkan," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat keterangannya di Jakarta, Jumat.

Program pembinaan dan pelatihannya, antara lain mengenai industri daur ulang sampah, konveksi busana muslim, makanan dan minuman olahan, kerajinan, perbengkelan, pupuk organik cair, dan pendampingan sertifikasi SNI garam beryodium. Kegiatan tersebut dirancang karena sudah ada komunitas dan keahlian yang cukup di sejumlah ponpes.

"Kalau bicara pesantren, kami juga mendorong ekosistemnya. Salah satunya di pesantren Jawa Barat, untuk membuat roti. Kemudian roti itu dikonsumsi oleh santri-santri di sana. Selain itu, produksi air minum dalam kemasan, yang nantinya dikonsumsi juga oleh para santri. Bahkan belajar tentang daur ulang sampah agar bisa menjadi bahan bakar untuk memasak," jelas Airlangga.

Kemenperin pernah menjalankan pilot project Santripreneur, yakni berupa program bimbingan teknis pengolahan ikan, pembuatan alas kaki, dan pelatihan pembuatan lampu Light Emitting Diode (LED).

"Santripreneur bertujuan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bertalenta di lingkungan pesantren, sehingga menjadi bekal para santi untuk belajar mandiri dan berwirausaha sebelum terjun ke masyarakat," imbuhnya.

Di samping itu, untuk menyukseskan program Santripreneur, Kemenperin telah menggandeng Bank Indonesia (BI) dalam memfasilitasi
inkubator bisnis syariah mengenai keuangan mikro syariah dan nonkeuangan seperti agrobisnis serta perdagangan dan jasa. Inkubator bisnis syariah bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan ekonomi pesantren.

Beberapa program pelatihan yang diberikan, antara lain tentang motivasi usaha dan penyusunan bisnis plan, pelatihan Rapid Rural Appraisal (RRA), penyusunan Feasibility Study (FS), pelatihan strategi marketing, serta pelatihan hukum bisnis, fiqih mualah dan akad perbankan syariah. "Pondok pesantren ikut berperan dalam mewujudkan kemandirian industri nasional," tegas Airlangga.


Penulis: ***
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments