Rabu, 22 Mei 2019

Lecehkan Penumpang Perempuan, Sopir Bus ANS Diamuk Massa


Sabtu, 09 Februari 2019 | 14:16:49 WIB


Sopir bus ANS jurusan Jakarta-Padang diamuk massa karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap penumpang
Sopir bus ANS jurusan Jakarta-Padang diamuk massa karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap penumpang / Metrojambi.com

MUARABUNGO - Sopir bus ANS jurusan Jakarta-Padang, Jumat (8/2) malam, menjadi sasaran amuk massa. Sopir yang belum diketahui identitasnya itu diamuk massa karena melakukan pelecehan seksual terdapap salah seorang penumpang berinisial AS (24), warga Perumnas, Kelurahan Cadika, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo.

Dari keterangan suami korban, KS, istrinya dari Jakarta hendak pulang ke Bungo. Pada saat tiba di daerah Lampung, pelaku melakukan pencabulan dengan meremas payudara korban.

"Kejadian masih di Lampung, sekitar pukul 21.00 WIB, keluar dari kapal. Dan sekitar pukul 02.00 WIB pagi terjadilah aksi pelecehan seksual," ujar suami korban.

Sementara itu, keluarga korban lainnya, Mustaim, mengatakan setelah mendapat pelecehan seksual, korban langsung menghubungi keluarga di Bungo.

Mendapat kabar tak mengenakan tersebut, keluarga korban langsung berkumpul dan menjemput korban di Terminal Muara Bungo. Setibanya di Bungo sekitar pukul 23.30 WIB, keluarga korban yang sudah menunggu langsung mengajar sopir bus ANS yang melakukan pelecehan seksual tersebut.

Pengeroyokan keluarga korban terhadap pelaku, membuat ricuh dan heboh terminal. Beruntung pihak kepolisian cepat datang dan melerai pengeroyokan tersebut.

"Sempat dikeroyok, tapi langsung kami amankan ke Polsek Kota, “ ujar Fidian Indra, anggota Polres Bungo yang datang ke lokasi kejadian.

Setelah dibawa ke Polsek Kota, pelaku mengakui perbuatannya. Pelaku ditahan di Polsek Kota Muara Bungo, dan bus melanjutkan perjalanan ke Padang dengan sopir lainnya.

Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Aiptu Beni F ketika diminta keterangan menjelaskan, kejadian di Lampung maka pihaknya tidak bisa memproses. Kejadian harus dilimpahkan ke Lampung.

"Setelah melakukan perundingan, keluarga korban tidak melanjutkan pelaporan ke Lampung karena dinilai ribet. Keluarga korban juga telah memberikan pelajaran dan hanya meminta kepada pelaku untuk tidak melakukan perbuatanya lagi terhadap orang lain," jelas Beni.


Penulis: Budi Prasetyo
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments